Teknologi Surface: Treatment Atasi Kelemahan Material

0
42

– Mampu tingkatkan produktivitas dan menghemat cost

 

Pemilihan material untuk digunakan sebagai tool memiliki banyak kendala, karena setiap material memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Untuk menghilangkan kekurangan yang terdapat pada material-material tersebut, oleh PT Shinto Lance Indonesia dilakukanlah proses surface treatment, seperti pada guide pin dalam mesin spot welding. Guide pin ini diproses dengan metode calorizing guna menghasilkan ketahanan terhadap sparking (percikan api).

Teknologi Surface Treament saat ini sudah berkembang dengan sangat pesat, salah satunya adalah teknologi yang dikembangkan oleh PT Shinto Lance Indonesia (SLI) yang berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta. Metode yang digunakan oleh SLI adalah metode difusi dengan proses displacement reaction. Proses ini membuat lapisan coating berdifusi dan membentuk ikatan intermetalik sehingga lapisan coating menempel dengan lebih kuat. Material yang di difusikan bisa berupa logam (Cr, Al, V, Ti, dll) maupun non logam (C, Si, dll), tergantung pada kebutuhan.

Advertisement

Calorizing (Tahan oksidasi pada temperatur tinggi)

 

Calorizing Layer

Calorizing adalah salah satu jenis surface treatment yang dilakukan oleh SLI. Treatment ini diterapkan pada guide pin yang berada pada mesin spot welding. Guide pin biasanya dibuat dengan menggunakan material keramik. Namun, material ini memiliki kelemahan, yaitu mudah pecah jika tidak hati-hati menggunakannya dan harganya mahal. Oleh karena itu para pengguna mesin spot welding menggunakan guide pin dari bahan logam, akan tetapi guide pin yang dibuat dari logam cepat rusak. Pada awalnya user mengira kerusakan terjadi akibat gesekan, lalu dibuatlah guide pin dengan material SKD 11 yang diperkeras (hardening), namun hasilnya guide pin tetap rusak. Karena permasalahan ini maka SLI mengadakan penelitian untuk menemukan penyebab kerusakan guide pin.

Melalui Divisi Research & Develop-ment (R&D) PT SLI, disimpulkan bahwa penyebabkerusakan tersebut adalah sparking dan bukan dari gesekan. Maka untuk mengatasinya, digunakanlah pelapisan calorizing pada permukaan guide pin yang dibuat dari logam.

Lapisan paling luar adalah keramik dan lapisan kedua adalah lapisan calorizing. Jika lapisan keramiknya rusak maka akan terjadi sparking dan dari panas yang dihasilkan. Karena terjadinya sparking akan terbentuk lapisan keramik yang baru, sehingga sparking hanya tejadi satu kali saja dan guide pin tidak rusak.

Teknologi calorizing pada awalnya dikembangkan untuk pelapisan pipa lance. Sekitar tahun 1970 di Jepang  terjadi pertumbuhan industri baja karena pesatnya peningkatan permintaan terhadap material baja. Ketika itu di Jepang sedang berkembang Teknologi Enrich Oxygen Method yang membutuhkan pipa untuk mengalirkan oksigen ke dalam cairan baja. Jika pipa baja yang akan digunakan, maka jumlah pipa yang dibutuhkan akan sangat banyak, karena jika dicelupkan ke dalam cairan baja, maka pipa baja langsung mencair.

Saat itulah, kalangan industri baja meminta kepada pendiri Shinto Industrial Co.Ltd, untuk meneliti pipa yang tahan jika dipakai untuk injeksi oksigen ke dalam cairan baja. Dari penelitian tersebut, ditemukanlah pipa yang dilapis dengan metode calorizing yang disebut Lance Pipe.

Sekarang, Lance pipe sudah banyak digunakan di industri baja untuk mengalirkan oksigen ke dalam cairan baja agar menghemat listrik pada saat peleburan.

Baca juga :   Kelonggaran Batas Investasi ASEAN Mulai 2012

Tidak hanya itu. Calorizing juga diaplikasikan pada peralatan yang digunakan di dalam cairan Zinc. Biasanya, peralatan ini habis terabrasi oleh cairan zinc. Untuk itu, SLI juga melakukan penelitian guna menghasilkan material yang tahan terhadap cairan zinc, yakni pelapisan calorizing. Hasilnya lebih baik bila dibandingkan dengan yang tidak menggunakan pelapisan.

Calorizing dapat juga dimanfaatkan untuk peralatan lainnya yang membutuhkan ketahanan oksidasi dan karburisasi pada suhu tinggi, seperti keranjang heat treatment.

 

Skema penggunaan Guide Pin.

Chromizing

 

Chromizing adalah pelapisan dengan menggunakan logam krom (Cr) yang didifusikan ke dalam permukaan base metal dan sebagian membentuk chrome carbide. Tingkat kekerasan lapisan bergantung pada kandungan karbon pada base metal yang akan membentuk karbit. Kekerasan yang dapat dihasilkan antara 1000-1800 mHV.

Chromizing banyak digunakan pada part-part otomotif seperti link pin, crank control, chain pin, link plate, dll. Part-part ini digunakan pada turbo charger di industri otomotif. Chromizing juga digunakan pada press dies, bending dies, drawing dies.

 

Contoh penggunaan lance pipe pada EAF.

Non-Oxidation Heat Treatment

Non-Oxidation Heat Treatment adalah proses heat treatment yang membutuhkan spesifikasi khusus tanpa terjadi proses oksidasi pada permukaan material selama proses heat treatment. Proses ini sebenarnya dikembangkan untuk keb utuhan internal SLI saja, tapi karena ada permintaan dari luar untuk proses dengan spesifikasi yang sama, maka SLI menerima juga order dari luar.

Demagnetisasi

 

Demagnetisasi adalah proses heat treatment untuk  menurunkan kemampuan suatu material untuk menyimpan magnet. Proses ini dibutuhkan untuk peralatan yang penggunaannya bersentuhan dengan magnet. Benda yang dilakukan proses demagnetisasi contohnya adalah magnet cover.

Proses heat treatment lainnya juga dapat dilakukan di SLI untuk benda-benda yang berukuran besar dan jumlah yang banyak, dengan panjang hingga 5,5 meter, lebar 1,4 meter dan tinggi 1 meter. Peralatan yang diproses heat treatment seperti as silinder, tempering alumunium, tabung gas, stress relieving after welding, dll.

Riset & Pengembangan

Divisi R&D PT SLI, yang bertugas untuk melakukan pengembangan teknologi surface treatment,  terus menerus melakukan penelitian terhadap teknik yang sudah ada maupun yang baru. Dalam pengembangan tersebut, perusahaan ini dibantu oleh Pemerintah Jepang melalui NEDO (New Energy and Industrial Technology Development Organization) untuk mengembangkan teknologi baru dan juga bekerjasama dengan lembaga penelitian di Indonesia. Selain itu, SLI juga  secara rutin mendapat dukungan teknologi dari kantor pusat mereka di Nagasaki, Jepang.

SLI juga menerima kerja sama penelitian dengan pihak customer untuk mengembangkan produk-produk baru. Saat  ini SLI sedang mengembangkan teknologi surface treatment yang tahan terhadap alumunium cair, yang digunakan pada peralatan yang bersentuhan dengan aluminium cair.


Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda