Kualitas hidup sehat lebih meningkat jika mampu kendalikan kecanduan gula—ganti dengan pemanis protein. Gangguan kesehatan seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan obesitas disebabkan konsumsi gula yang berkelebihan.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IME (sumber): Gunakan pemanis protein sebagai pengganti gula pasir atau konvensional. Konsumsi atau kecanduan terhadap yang manis-manis dari makanan dan minuman bakal memicu masalah yang mengganggu kesehatan secara global, dan ini serius kita cermati.
Berbagai penyakit seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan obesitas semakin meningkat di pelbagai negara termasuk di Indonesia. Diabetes Tipe 2 yakni prevalensi diabetes di Indonesia terus meningkat.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Pada tahun 2023, prevalensinya mencapai 11,7 persen, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 28,6 juta penderita pada tahun 2045 jika tidak segera ditangani demikian diabetes-indonesia.net.
Sedangkan penyakit kardiovaskular menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas berkontribusi pada peningkatan kasus penyakit ini.
Data terbaru menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit kardiovaskular seiring dengan meningkatnya faktor risiko tersebut.
Demikian pula obesitas menjadi masalah yang semakin serius disebabkan peningkatan gaya hidup seperti pola makan yang tidak sehat—berkontribusi signifikan terhadap peningkatan angka obesitas.
Data menunjukkan bahwa prevalensi obesitas di Indonesia terus meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja lanjut diabetes-indonesia.net
Untuk mengatasi masalah di atas, para peneliti dari Fraunhofer Institute for Molecular Biology and Applied Ecology (IME) mengembangkan pemanis berbasis protein sebagai alternatif yang lebih sehat dibandingkan dengan gula konvensional.
Di seluruh dunia, konsumsi gula (pasir) terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir meskipun makanan ini menyebabkan gigi berlubang, tekanan darah tinggi, dan masalah kesehatan yang meluas seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.
Dalam proyek penelitian bersama NovelSweets, para peneliti di Fraunhofer Institute for Molecular Biology and Applied Ecology IME bekerja sama dengan para mitra untuk menggunakan metode yang berasal dari bioteknologi guna menghasilkan pemanis berbasis protein yang inovatif.
Tujuan para peneliti adalah untuk mengganti gula dan alternatif gula yang ada, terutama dalam minuman dan makanan.
Peningkatan gula yang berlebihan dimulai dengan peningkatan dan kepuasan yang lain pada anak-anak dan bahkan orang dewasa yang tak mampu mengendalikan kecanduan terhadap yang makanan dan minuman yang manis-manis.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan harian maksimum 25 gram gula pasir per orang, yang setara dengan sekitar lima hingga sepuluh sendok teh.
Akan tetapi, tiap orang untuk menjaga Batasan WHO itu tidaklah mudah dilaksanakan, karena banyak makanan siap saji, saus, dressing, buah, dan sayuran yang diawetkan, sereal sarapan, smoothie, jus buah, yogurt rasa buah serta minuman ringan mengandung banyak gula (pasir).
Contohnya, segelas cola (250 mililiter) mengandung 27 gram gula—lebih dari yang seharusnya dikonsumsi oleh seseorang dalam sehari.
Dalam proyek NovelSweets, para peneliti di Fraunhofer IME bekerja sama dengan dua mitra, metaX Institut für Diätetik GmbH dan candidum GmbH, guna mendukung program Kementerian Pangan dan Pertanian Federal Jerman (BMEL).
Pemerintah Jerman berupaya mengurangi kandungan gula pada produk dan minuman siap saji dalam upaya untuk mengendalikan munculnya masalah kesehatan yang disebabkan oleh gizi yang tidak tepat.
Berdasarkan protein rasa manis atau sweet-tasting proteins (SPs), molekul yang secara alami terdapat pada beberapa tanaman dan buah, para peneliti menggunakan metode bioteknologi untuk menghasilkan pemanis berbasis protein sebagai pengganti gula di masa mendatang.
Karena strukturnya, SPs sangat mudah terikat—seperti gula—ke reseptor yakni pada lidah manusia yang selanjutnya merasakan rasa manis.
Brazzein: dasar varietas protein baru
Salah satu SPs yang paling terkenal adalah brazzein, protein yang ditemukan di tanaman Afrika Pentadiplandra brazzeana.
Mengekstraksinya dari tanaman itu mungkin saja, tetapi prosesnya panjang dan melelahkan dengan hasil yang sedikit.
Dengan mengingat hal ini, mitra proyek mengembangkan varietas protein berdasarkan urutan protein brazzein, mengoptimalkannya dengan memperhatikan pH dan stabilitas suhu, lalu menggunakan alat bioteknologi untuk memproduksinya.
Mereka juga meningkatkan varietas baru dalam hal rasa manis dan manis.
“Brazzein terasa gatal di tenggorokan. Kami mengubah urutan protein untuk mencegah efek yang tidak diinginkan seperti gatak itu. Tujuannya adalah pengalaman sensori yang lebih baik, tanpa rasa atau sisa rasa yang tidak enak,” jelas Dr. Stefan Rasche, seorang peneliti di Fraunhofer IME di Aachen.
Hasil para peneliti: 10.000 kali lebih manis daripada gula pasir. Bioteknologi digunakan untuk menghasilkan bahan yang lebih baik melalui proses yang dikenal sebagai fermentasi mikroba.
Gen yang mengkode protein yang rasanya manis, yang berarti mengandung deskripsi urutan asam amino protein, ditanamkan ke dalam sel ragi, yang kemudian digandakan di dalam bioreaktor dalam kondisi yang terkendali untuk menghasilkan SPs sebanyak mungkin.
Setelah proses pemurnian dan pengeringan, pemanis berbasis protein siap diproduksi.
Para peneliti menyebut pengganti gula yang diproduksi menggunakan metode ini sebagai X3.
Bagaimana cara mengurangi kecanduan terhadap makanan dan minuman yang manis-manis?
Apakah Indonesia memiliki sumber sebagai bahan untuk pembuatan pemanis protein yang dapat menggantikan gula pasir? Ikuti lanjutan penjelasan Dr. Stefan Rasche.
Salam #mmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form