Wednesday
07 October 2026

Deteksi Cacat Mikro Dorong Transformasi Kemasan Industri 

Teknologi OCT mampu mendeteksi cacat seal hingga 8 mikrometer secara real-time tanpa merusak produk. Pelaku industri dan UMKM berpeluang meningkatkan kualitas kemasan dengan inspeksi berbasis data yang strategis.

Sistem pengujian inovatif berbasis Optical Coherence Tomography (OCT) dari Fraunhofer IKTS memungkinkan identifikasi cacat pada sambungan segel secara real-time selama proses pengemasan, tanpa merusak produk dan dengan resolusi tinggi (Foto/©: Fraunhofer IKTS)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IKTS (sumber): Di tengah tuntutan industri terhadap kualitas, keamanan produk, efisiensi material, dan keberlanjutan, integritas kemasan tidak lagi dapat diperlakukan sekadar sebagai tahapan akhir dalam proses produksi. 

Setiap celah, pori, atau area sealing yang tidak sempurna berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih besar—mulai dari produk yang terbuang, konsumsi material yang meningkat, hingga risiko terhadap keamanan pangan dan produk medis. 



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika industri global mulai mengadopsi material kemasan yang lebih mudah didaur ulang, termasuk bahan mono-film, yang secara ekologis menarik tetapi dapat menghadirkan tantangan baru pada kualitas sealing.

Miliaran produk dikemas dengan menggunakan lapisan film atau shrink-wrap setiap tahun. Khususnya di sektor-sektor yang diatur ketat seperti pada industri medis dan pangan, kemasan harus benar-benar kedap udara. 

Melalui proyek OCTInline, para peneliti Fraunhofer Institute for Ceramic Technologies and Systems IKTS mengembangkan sistem pengujian inovatif. 

Dengan menggunakan optical coherence tomography (OCT), cacat pada sambungan segel dapat dideteksi secara real-time selama proses pengemasan—tanpa merusak produk dan dengan resolusi hingga skala mikrometer.

Berkat sistem pengujian inovatif berbasis Optical Coherence Tomography (OCT), cacat pada sambungan segel dapat diidentifikasi secara real-time selama proses pengemasan tanpa merusak produk dan dengan resolusi tinggi. 

Lebih sedikit limbah, keandalan proses lebih tinggi

Rendering 3D dari sambungan segel yang cacat (Foto/©: Fraunhofer IKTS)

“Optical coherence tomography adalah teknik pencitraan yang berbasis pada cahaya inframerah,” cerita Conner Phillips, peneliti rekanan di kelompok Teknik Karakterisasi (Characterization Techniques),  Fraunhofer IKTS. 

“Awalnya dikembangkan untuk bidang oftalmologi, teknologi ini menghasilkan citra tiga dimensi yang tidak merusak objek untuk melihat struktur di bawah permukaan berbagai jenis material, sehingga dapat mengungkap ketidakseragaman atau cacat,” sambung Conner Phillips.

Sistem ini memancarkan cahaya inframerah-dekat ke dalam material dan menangkap sinyal pantulannya. Dari data tersebut, dihasilkan citra tiga dimensi beresolusi tinggi yang memperlihatkan struktur internal. 

Cacat material, rongga udara, atau area sambungan yang tidak merekat sempurna dapat terlihat tanpa merusak kemasan maupun produk.

Mendeteksi secara berkelanjutan bahkan cacat terkecil hingga ukuran delapan mikrometer. Proyek OCTInline yang didanai publik, para peneliti Fraunhofer IKTS mengintegrasikan teknologi OCT secara langsung ke dalam proses penyegelan pada mesin pengemasan milik mitra industri. 

Sistem ini memeriksa kualitas segel yang terbentuk secara berkelanjutan dan real-time selama proses berlangsung, dengan kecepatan produksi mencapai 25 meter per menit. 

“Kami dapat mendeteksi dan memvisualisasikan berbagai pori hingga ukuran delapan mikrometer pada segel,” ungkap Ralf Schallert, pemimpin kelompok metode karakterisasi, Fraunhofer IKTS.

Tantangan sesungguhnya terletak pada upaya memadukan resolusi tinggi dengan kecepatan produksi yang tinggi. Jika dikehendaki semakin kecil cacatnya, maka semakin banyak data yang perlu diambil dan diproses. 

Integrasi ke dalam proses industri juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi tim proyek. Getaran sekecil apa pun pada lapisan film dapat memengaruhi hasil pengukuran. 

“Kami harus menemukan keseimbangan antara kedalaman bidang atau depth of field, waktu paparan, dan pergerakan film,” beber Phillips Conner.

Persyaratan keberlanjutan baru untuk kemasan meningkatkan pentingnya pemeriksaan segel yang andal. Semakin banyak produsen yang mengandalkan mono-film yakni film lapisan tunggal yang dapat didaur ulang, karena jenis ini lebih mudah didaur ulang dibandingkan material komposit berlapis banyak. 

“Bahan mono-film sangat menarik dari perspektif ekologis, namun sayangnya, cacat pada segel lebih sering terjadi,” tutur Ralf Schallert. “Hal ini meningkatkan kebutuhan akan pemantauan berkelanjutan.”

Lebih sedikit limbah, keandalan proses lebih tinggi

Pemeriksaan secara real-time menawarkan beberapa keuntungan bagi produsen. Deteksi kesalahan yang cepat mengurangi jumlah produk gagal atau menjadi scrap dan konsumsi material. Selain mendeteksi kesalahan, sistem ini juga memberikan informasi mengenai kondisi mesin dan peralatan.

“Banyak kesalahan yang terjadi karena tekanan dan suhu tidak disesuaikan secara optimal dengan material, atau karena peralatan mengalami keausan seiring berjalannya waktu,” rinci Ralf Schallert.

“Dengan data OCT, kami dapat memvisualisasikan perubahan semacam itu dan juga mengidentifikasi sejak dini kapan, misalnya, penggantian peralatan perlu dilakukan.”

Sebuah model demonstrasi (uji coba) sistem ini digunakan di lokasi mitra proyek yakni perusahaan  Kallfass Verpackungsmaschinen di Nürtingen, Jerman,  sejak Juli 2026 dan telah diperkenalkan kepada calon pelanggan di lokasi yang sama.

“Industri pengemasan hanyalah salah satu dari banyak bidang aplikasi teknologi ini,” tambah Ralf Schallert. Sistem ini dapat disesuaikan secara individual untuk berbagai material dan kebutuhan. Hal ini menjadikan teknologi tersebut cocok untuk menjawab beragam tantangan industri.

Pada dasarnya, penggunaan teknologi ini cocok untuk material transparan dan semi-transparan, serta untuk berbagai tugas penjaminan mutu industri. 

Selain kemasan, objek lain seperti lapisan fungsional, komponen keramik, dan suku cadang hasil manufaktur aditif juga dapat diperiksa. 

“Di mana pun lapisan tipis, struktur internal, atau cacat terkecil perlu dideteksi secara andal, OCT dapat memberikan kontribusi signifikan – mulai dari teknologi medis dan permukaan yang difungsionalisasi hingga pencetakan 3D industri,” ungkap Ralf Schallert.

Apa tantangan bagi pelaku manufaktur di Indonesia? Masalahnya bukan semata menemukan teknologi inspeksi baru, tetapi bagaimana cara mengintegrasikannya ke dalam operational excellence tanpa mengorbankan kecepatan produksi. 

Pada lini berkecepatan tinggi, inspeksi dengan resolusi tinggi menghadapi persoalan kompleks: semakin kecil cacat yang hendak dideteksi, semakin besar volume data yang harus ditangkap dan diproses.

Persoalan lain terletak pada akar penyebab cacat. Temperatur dan tekanan sealing yang tidak sesuai karakter material, perubahan kondisi mesin, hingga keausan tooling dapat memengaruhi kualitas sambungan. 

Oleh karena itu, sistem inspeksi yang ideal bukan hanya memberi tahu bahwa terjadi defect, tetapi juga menyediakan data proses yang dapat digunakan untuk mencegah defect berulang.

Di sinilah teknologi Optical Coherence Tomography (OCT) menawarkan perspektif berbeda. Teknologi berbasis cahaya inframerah ini mampu menghasilkan citra tiga dimensi struktur internal material secara non-destruktif. 

Dalam pengembangan Fraunhofer IKTS, teknologi itu diintegrasikan langsung ke mesin sealing sehingga kualitas sambungan dapat diperiksa secara real time selama proses produksi.

Sistem tersebut dilaporkan mampu mendeteksi pori pada sealing hingga 8 mikrometer, dengan kecepatan proses hingga 25 meter per menit. 

Selain menemukan defect, data OCT juga dapat membantu mengidentifikasi perubahan kondisi mesin dan tooling sehingga potensi kebutuhan penggantian komponen dapat diketahui lebih dini.

Pendekatan ini membuka peluang untuk menggeser paradigma dari quality inspection menjadi predictive quality: kualitas tidak hanya diperiksa setelah produk dibuat, tetapi dipantau dan dikendalikan sepanjang proses manufaktur.

Nilai strategisnya bukan sekadar kemampuan mendeteksi cacat berukuran mikrometer. Sistem tersebut menunjukkan bagaimana inline inspection, machine condition monitoring, dan process optimization dapat ditempatkan dalam satu ekosistem data.

Konsep ini relevan melampaui industri kemasan. OCT secara fundamental dapat digunakan pada material transparan dan semitransparan serta berpotensi diterapkan untuk inspeksi coating fungsional, komponen keramik, hingga komponen hasil additive manufacturing. 

Dengan demikian, peluangnya bersinggungan dengan agenda industri Indonesia dalam meningkatkan kualitas manufaktur bernilai tambah.

Rekomendasi bagi pihak terkait di Indonesia: 

 – Bagi regulator, dorong standardisasi dan kerangka validasi untuk teknologi inspeksi inline berbasis non-destructive testing, khususnya pada sektor pangan, farmasi, alat kesehatan, dan industri dengan persyaratan integritas kemasan yang tinggi.

– Bagi produsen kemasan, siap memetakan titik kritis proses sealing dan mengevaluasi kelayakan inline inspection sebagai bagian dari strategi pengurangan scrap, material loss, dan quality-related downtime.

– Bagi perusahaan consumer goods, food, pharmaceutical, dan medical devices, tetapkan spesifikasi produk akhir dan perluas pendekatan quality assurance hingga kemampuan memonitor parameter proses dan integritas kemasan secara kontinu.

– Bagi perusahaan manufaktur mesin, integrasikan sensor, machine vision, OCT, serta sistem analitik ke dalam arsitektur mesin agar quality control menjadi bagian intrinsik dari production line, bukan sistem tambahan setelah mesin beroperasi.

– Bagi perguruan tinggi dan lembaga riset, prioritaskan riset translasi yang mengadaptasi teknologi inspeksi presisi terhadap karakter material, kecepatan lini, dan kebutuhan manufaktur Indonesia.

– Bagi pelaku industri, bangun business case berbasis data: ukur biaya scrap, reject, downtime, material loss, dan potensi product recall sebelum menentukan investasi teknologi inspeksi.

Transformasi industri tidak selalu dimulai dari mesin yang lebih cepat. Dalam banyak kasus, keunggulan justru ditentukan oleh kemampuan melihat masalah lebih awal. Teknologi OCT memperlihatkan: defect berukuran mikrometer dapat dideteksi secara non-destruktif bahkan ketika proses produksi masih berjalan.

Pesan strategisnya adalah memperlakukan quality intelligence sebagai bagian dari daya saing manufaktur. 

Ketika tuntutan keberlanjutan mendorong penggunaan material baru, sementara konsumen dan regulator menuntut keamanan serta konsistensi yang semakin tinggi, kemampuan mengawasi proses secara real-time akan menjadi semakin relevan. 

Agenda berikutnya bukan sekadar mengadopsi teknologi OCT, mari membangun ekosistem sensor–data–analitik–automasi yang memungkinkan industri bergerak dari  detect and reject menuju detect, predict, and prevent. 

Saat cacat terkecil dapat menghasilkan konsekuensi terbesar, kemampuan mendeteksinya lebih awal bukan lagi sekadar keunggulan teknologi—melainkan bagian dari strategi ketahanan dan daya saing industri Indonesia. #SalamSobatmmINDUSTRI


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik