Wednesday
07 October 2026

Transformasi Digital Mengubah Cara Bisnis dan Mengelola Dokumen     

Transformasi Digital Mengubah Cara Bisnis dan Mengelola Dokumen                  Astragraphia menyediakan perangkat baru, data, dan peluang membangun proses kerja yang lebih efisien, terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan—sesuai tuntutan transformasi digital. Astragraphia pun menyediakan perangkat perlindungan cyber security. 

Paparan kinerja PT Asragraphia Tbk. yang dijelaskan oleh Direktur Trivena Nalsalita (Foto/@: mmINDUSTRI/Astragraphia)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


mmINDUSTRI.co.id – PT Astragraphia Tbk (sumber): Dunia bisnis makin intensif  memasuki fase baru transformasi digital yang mengubah cara berbinis dan mengelola dokumen. 

Digitalisasi bukan lagi sekadar pembahasan, penerapan sistem, dan cara mengenai pemindahan dokumen dari bentuk fisik ke digital, namun konsepnya terus berkembang menjadi upaya menyeluruh untuk membangun proses bisnis yang lebih cepat, terintegrasi, aman, dan mampu menghasilkan nilai tambah.

Demikian Direktur merangkap Sekretaris PT Astragraphia Tbk., Trivena Nalsalita yang menjelaskan paparannya pada Astra Media Day di Menara Astra, Jakarta  belum lama ini. 

 Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital, serta meningkatnya tuntutan efisiensi membuat perusahaan perlu mengevaluasi kembali cara mereka mengelola informasi dan dokumen yang berkelanjutan. 

Pemerintah Indonesia terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi digital melalui pengembangan infrastruktur digital, AI, semikonduktor, dan talenta digital sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru.  

Dukungan PT Astragraphia tampak dari perkembangan industri dan strategi bisnisnya yang terus berkembang. Pada semester I 2026, Astragraphia mencatat pendapatan bersih sebesar Rp1,56 triliun, meningkat sekitar 1,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Digitalisasi dokumen menuju transformasi proses

Dalam praktiknya, dokumen masih menjadi bagian penting dari hampir seluruh aktivitas organisasi semisal perusahaan.

Invoice, kontrak, formulir, laporan, dokumen legal, dokumen pelanggan, materi komunikasi, hingga dokumen operasional terus bergerak di antara berbagai fungsi dan sistem. 

Tantangannya adalah cara mencetak atau menyimpan dokumen yang berkualitas dan memastikan informasi di dalamnya dapat ditemukan, diproses, dibagikan, dikendalikan, dan dimanfaatkan pada waktu yang tepat oleh pelanggan demikian Trivena Nalsalita.

Ketika proses pengelolaan dokumen masih dilakukan secara terpisah, perusahaan menghadapi berbagai konsekuensi. 

Informasi berpotensi tersebar di beberapa lokasi, proses persetujuan menjadi lebih panjang, pencarian dokumen pun membutuhkan waktu, dan aktivitas administratif dapat menyerap sumber daya yang sebenarnya dapat digunakan untuk pekerjaan yang lebih strategis.

Oleh karena itu, lanjut Trivena Nalsalita transformasi dokumen perlu dipandang sebagai bagian dari transformasi proses bisnis. 

Menjawab tantangan itu, Astragraphia mengembangkan pendekatan digitalization journey melalui tiga fase utama: Device Optimization & Rationalization, Document Process Simplification, dan Integrated Document Management. 

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi tidak harus berlangsung secara serempak, namun dapat dibangun secara bertahap sesuai kebutuhan dan tingkat kesiapan organisasi atau badan. 

Pendekatan itu relevan bagi perusahaan yang masih memiliki lingkungan kerja dengan kombinasi dokumen fisik dan digital. 

Transformasi bukan berarti menghilangkan seluruh dokumen fisik dalam satu langkah, melainkan menemukan keseimbangan antara kebutuhan operasional, efisiensi, keamanan informasi, kepatuhan, dan pengalaman pengguna.

Bisnis yang sebelumnya sangat erat dengan perangkat dan aktivitas pencetakan kini semakin membutuhkan layanan teknologi informasi serta solusi digital yang terintegrasi.

Hal ini juga tercermin dalam laporan tahunan Astragraphia yang dijelaskan oleh Trivena Nalsalita. 

Menyurutnya, meningkatnya digitalisasi pelanggan berdampak pada perlambatan kebutuhan cetak, sehingga strategi bisnis diarahkan pada diversifikasi pendapatan melalui penguatan layanan berbasis digital seperti document management, customer communication management, dan managed print services yang terintegrasi dengan infrastruktur TI pelanggan.  

Dengan kata lain, perubahan perilaku pelanggan selain dipandang sebagai tantangan sekaligus sebagai peluang untuk membangun model layanan yang lebih relevan.

Bagaimana penerapan AI pada pengelolaan informasi di Astragraphia? Trivena Nalsalita menyatakan bahwa penerapan teknologi AI justru mempercepat perubahan tanpa menghilangkan peran manusia.

AI semakin banyak digunakan untuk membantu perusahaan mengolah informasi, mengotomatisasi pekerjaan yang berulang, meningkatkan kemampuan analitik, dan mempercepat pengambilan keputusan. 

Sesuai dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang menempatkan AI, pusat data, dan keamanan siber atau cyber security sebagai bagian penting dari penguatan infrastruktur digital nasional.

Oleh sebab itu, PT Astragraphia memanfaatan teknologi AI, Robotic Process Automation, dan analitik sebagai bagian dari upaya mempercepat proses, memperbaiki struktur biaya, serta meningkatkan customer engagement. 

Trivena Nalsalita lebih jauh menjelaskan bahwa pengembangan solusi Astragraphia  diarahkan pada kebutuhan yang lebih spesifik berdasarkan kebutuhan industri dan fungsi kerja. 

Di sektor Financial Services Industry, misalnya, solusi dikembangkan untuk mendukung Invoice Processing dan Loan Application Processing. 

Sementara bagi fungsi legal, terdapat solusi Contract Management dan pengelolaan dokumen digital dan peminjaman dokumen fisik.  Artinya, transformasi digital semakin bergerak dari pendekatan yang bersifat umum menuju solusi yang memahami konteks proses bisnis. 

Semakin banyak dokumen dan proses bisnis dipindahkan ke lingkungan digital, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan akses, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan informasi dilakukan secara tepat.

Transformasi digital tanpa tata kelola dapat menciptakan risiko baru. Oleh karena itu, organisasi perlu mempertimbangkan aspek keamanan siber, hak akses, integrasi sistem, backup, kepatuhan, serta kemampuan melakukan audit terhadap proses. #SalamSobatmmINDUSTRI

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik