Bagaimana persaingan bisnis mobil tingkat dunia? Tesla masih berada di posisi atas namun mobil listrik buatan China semakin digemari. Toyota kian merosot karena kurangnya inovasi: inilah peringkat 24 produsen dunia—tanpa Indonesia.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – IMD (sumber): Produsen mobil dari Indonesia belum ikut dalam persaingan bisnis mobil tingkat dunia. Sedangkan pasar kendaraan di Indonesia masih dikuasai oleh produk buatan negara-negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, dan belakangan produsen dari China dan Vietnam semakin gencar masuk ke Indonesia.
Di tingkat dunia, pabrikan mobil listrik milik produsen Amerika Serikat (AS), Tesla Inc. masih memegang menempati peringkat atas karena perusahaan otomotif milik Elon Musk ini dinilai paling inovatif di bidang teknologi.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Hal itu disimpulkan berdasarkan survei yang bertajuk Future Readiness Indicator (FRI) 2024, dan dirilis oleh The International Institute of Management and Development (IMD) belum lama ini.
Posisi Tesla, disusul oleh BYD Co. Ltd. perusahaan yang bermarkas di China—sebagai pringkat kedua, dan Volkswagen AG perusahaan (peringkat tiga) dari Jerman, Stellantis NV dari Belanda menempati poisisi ke-4, sedangkan Hyundai Motor Co. Ltd dari Korea Selatan pusa dengan posisi 5.
Indikator tahunan versi FRI 2024 mengukur ketahanan masa depan dari 24 perusahaan otomotif dunia. Indikator ini mengurutkan peringkat berdasarkan tingkat inovasi yang dilakukan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Indikator Kesiapan Masa Depan selalu bergerak dinamis. Menurunnya peringkat perusahaan dalam daftar bukan berarti perusahaan itu tidak inovatif. Inovasi mereka tidak cukup pesat, sehingga diambil alih oleh para pesaing,” jelas Howard Yu, Direktur IMD Center for Future Readiness.
Howard Yu mengambil contoh yang menimpa perusahaan Toyota yang peringkatnya terus merosot dari posisi dua pada 2022 turun ke peringkat ke-10 di tahun 2023, dan turun lagi ke posisi 11 pada survei 2024. Posisi Toyota itu disalip oleh BYD, Neo, dan Lee Auto Perusahaan otomotif dari China.
“Mengapa peringkat Toyota jatuh? Bukan karena mereka tidak membuat persiapan untuk (membuat) kendaraan listrik, namun inovasi mereka tidak bergerak secepat kompetitor dari China,” jelas Howard Yu.
Meski Tesla berhasil mempertahankan posisinya di peringkat teratas dengan skor 100 pada 2023 dan 2024 namun perusahaan milik Elon Musk ini harus mewaspadai para pesaingnya yang terus merapatkan ke posisi teratas.
Sebagai contoh perusahaan raksasa mobil Listrik China, BYD terus meningkatkan skor daya saing mereka dari 74,7 di 2023 menjadi 78,20 tahun 2024. Ditambah lagi pada smester 3 tahun 2023, untuk pertama kalinya penjualan BYD sempat melampaui Tesla.
Meski akhirnya penjualan kendaraan listrik Tesla kembali unggul pada smester tahun 2024. Akan tetapi, hal itu menunjukkan dominasi Tesla semakin terancam digeser oleh perusahaan dari Asia.
“Temuan yang paling mengejutkan adalah bagaimana supremasi Tesla di industri mobil listrik sangat cepat terbalap. Meski Tesla masih nomor satu, namun selisih skor dengan peringkat di bawahnya semakin menipis,” ungkap Howard Yu.
Peringkat 24 perusahaan otomotif dunia

Strategi mobil listrik China
Selanjutnya, Howard Yu mengungkap pabrikan di China akan menguasai sepertiga pasar mobil EV global pada tahun 2030, imbas dari harga yang bersaing dan inovasi yang agresif.
Apalagi produsen mobil dari China lainnya seperti Geely (42,34), Nio (31,30), dan Li Auto (64,37), membanderol kendaraan listrik mereka dengan harga terjangkau. Langkah ini memberi produsen mobil listrik China keunggulan kompetitif dan menjadi ancaman serius bagi para pemanufaktur mobil di Eropa.
Melihat dominasi China di sektor industri kendaraan listrik yang makin agresif dengan banderol harga murah, belakangan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengumumkan tarif pajak 100 persen.
Tarif ini diberlakukan untuk melindungi pabrikan mobil listrik di Amerika Serikat dari serbuan kendaraan listrik impor asal China.
Menanggapi situasi ini, Howard Yu menyebut ke depan pabrikan mobil listrik China bakal menerapkan sistem white-label untuk mengakali aturan tarif ini. Mirip dengan strategi Intel inside di mana produsen laptop menggunakan prosesor Intel tanpa merakit CPU mereka sendiri.
Pabrikan di China akan menjual komponen, baterai, teknologi, atau semikonduktor mereka. Saat ini BYD sudah memasok chipset dari pabrik semikonduktor mereka ke Fiat dan Toyota di China. Jadi, hal serupa besar kemungkinan akan diterapkan ke negara-negara lain termasuk AS
“Dengan cara ini, margin yang didapat bisa lebih besar. Sebagai contoh, tidak ada produsen yang mendapat uang dari AC rakitan. Pendapatan terbesar ada di produsen kompresor. Sama halnya dengan PC: merakit PC tidak menghasilkan uang lebih banyak dari mereka yang menjual chipset dan perangkat lunak. Saya kira industri mobil bergerak ke arah yang sama,” Howard Yu membeberkan.
Potensi Indonesia
BYD dan produsen kendaraan listrik China lainnya belakangan gencar melakukan ekspor ke sejumlah pasar di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Langkah ini dilakukan produsen mobil listrik dari China untuk menyalurkan kelebihan kapasitas produksi di pasar domestik China.
Untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur EV Asia Tenggara, Howard Yu menyarankan sejumlah Langkah yang sebaiknya dilakukan:
- Mengembangkan kebijakan, aturan, dan insentif, untuk mendukung adopsi dan manufaktur kendaraan listrik, misal berupa pembebasan pajak, subsidi, infrastruktur pengisian daya, dan persyaratan kandungan lokal.
- Fokus pada penyediaan listrik pada angkutan umum (bus, kendaraan roda 2, roda 3) dan armada komersial, sebab lebih hemat biaya tertinggi.
- Menarik investasi asing dan kolaborasi untuk manufaktur kendaraan listrik, produksi baterai, dan pengolahan mineral.
- Memanfaatkan cadangan nikel Indonesia yang besar dengan menawarkan insentif. Dengan memberikan keringanan pajak dan subsidi kepada pembuat kendaraan listrik dan baterai, diharapkan bisa meningkatkan kemampuan pemrosesan dan manufaktur hilir untuk baterai dan kendaraan listrik.
Produsen kendaraan di Indonesia dapat bersaing dengan China, Korea Selatan, dan Jepang, yang memiliki teknologi dan manufaktur baterai yang lebih unggul.
Bekerja sama dengan negara Asia Tenggara lain untuk menyelaraskan standar kendaraan listrik, insentif, dan infrastruktur untuk menciptakan pasar dan rantai pasokan regional.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form