Wednesday
07 October 2026

Pabrik Digital Kurangi Biaya Produksi Kendaraan Niaga

Produsen kendaraan niaga di Indonesia sebaiknya menyimak inovasi eTruckPro dari Fraunhofer IGCV yang membangun pabrik digital dengan simulasi 3D. Manufaktur konvensional diubah menjadi produsen truk listrik dan bus—sangat irit biaya.

Demonstrator Fraunhofer IGCV untuk pengujian sistem bantuan perakitan (Foto/©: Fraunhofer IGCV)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IGCV (sumber): Perkembangan truk listrik da bus tidak hanya bergantung pada teknologi baterai atau sel bahan bakar, tetapi juga pada kemampuan industri itu untuk memproduksinya lebih efisien dan berkesinambungan.

Kita dalami proyek eTruckPro, bagaimana para ilmuwan Fraunhofer Institute for Casting, Composite, and Processing Technology IGCV mengembangkan model pabrik digital untuk mengoptimalkan produksi truk Listrik dan bus dengan menggunakan fasilitas milik MAN Truck & Bus.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Melalui pemindaian laser dan simulasi produksi, para peneliti mampu memetakan ribuan kemungkinan konfigurasi perakitan kendaraan niaga.

Model pabrik virtual tersebut tidak hanya mensimulasikan aliran material, tetapi juga mempertimbangkan ruang kerja karyawan, interaksi antarstasiun, serta kompleksitas variasi kendaraan.

Hal ini sangat penting karena setiap truk sering kali diproduksi berdasarkan spesifikasi sesuai permintaan pelanggan yang berbeda-beda—seperti ukuran panjang kendaraan dan konfigurasi sumbu roda.

Selain itu, proyek eTruckPro ini juga mengembangkan pendekatan produksi baterai yang lebih fleksibel agar berbagai varian paket baterai dapat disesuaikan dengan model truk yang berbeda-beda itu.

Dengan strategi ini, produsen dapat memulai produksi dalam skala kecil, menguji prosesnya, kemudian meningkatkan volume produksi secara bertahap sesuai permintaan pasar.

Berkat kepiawaian tim ahli Fraunhofer IGCV yang mengatasi masalah sistem produksi melalui proyek eTruckPro yakni dengan menggunakan model digital dari sistem perakitan yang ada di perusahaan MAN Truck & Bus, produksi dirancang ulang secara virtual, disimulasikan, dianalisis, dan dioptimalkan.

Sekitar 200 pemindaian laser dari jalur perakitan diproses, dan para ilmuwan yang berpartisipasi secara sistematis memeriksa beberapa ratus ribu kemungkinan urutan perakitan.

Awan titik yang dihasilkan dari data yang dipindai

Klasifikasi kendaraan komersial berdasarkan emisi CO2 (Foto/@: Fraunhofer IGCV)

Dalam produksi virtual, para peneliti menggunakan metodologi yang dikembangkan secara khusus untuk menentukan di mana perakitan komponen baru perlu disesuaikan.

Model simulasi digunakan untuk memvalidasi skenario yang dihasilkan dengan cara ini secara virtual.

Stasiun-stasiun yang alur kerjanya sangat terpengaruh oleh integrasi truk listrik dapat dipetakan secara virtual secara detail – hingga ke tingkat proses, yaitu, hingga langkah-langkah perakitan individual yakni satuan produk berupa truk dan bus.

Jika tidak diperlukan penyesuaian pada stasiun tersebut, maka hanya dimodelkan pada tingkat struktural.

Pemetaan produksi secara virtual memungkinkan para peneliti untuk menentukan terlebih dahulu urutan perakitan yang paling efisien untuk kedua sistem penggerak.

Hal ini sangat penting pada jalur perakitan yang sudah ada karena banyaknya kemungkinan konfigurasi kendaraan.

“Tidak ada dua kendaraan identik yang keluar dari jalur kami setiap hari,” ungkap Michael Neukam, kepala pusat pra-produksi di MAN Truck & Bus yang berlokasi di Munich, Jerman. Di perusahaan MAN Truck & Bus, konfigurasi dilakukan sesuai dengan spesifikasi yang dipesan oleh pelanggan.

“Bahkan dengan truk diesel, kami memiliki ribuan varian dengan ukuran panjang yang saling berbeda, jumlah gandar berbeda, ruang pemasangan berbeda, dan variasi penting lainnya,” lanjut Michael Neukam.

Dengan diperkenalkannya truk listrik, sistem penggerak kedua telah ditambahkan ke varian yang banyak diproduksi. Oleh karena itu, tujuan lain dari proyek eTruckPro ini adalah untuk membuat produksi modul dan paket baterai hulu lebih fleksibel.

Ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa paket yang sangat sesuai untuk berbagai varian truk dapat disediakan di jalur produksi.

Optimalisasi proses produksi dalam lingkungan virtual

Representasi digital dari proses manufaktur yang dibuat oleh Fraunhofer IGCV melampaui simulasi aliran material sederhana.

“Dalam model pabrik virtual, kita dapat menggambarkan proses dan karakteristik lantai pabrik yang tidak dipertimbangkan dalam simulasi aliran material,” cerita Thomas Neuhäuser, manajer proyek eTruckPro dan pemimpin kelompok untuk perencanaan pabrik kolaboratif di Fraunhofer IGCV.

“Misalnya, kita dapat dengan cepat melihat apakah ada cukup ruang untuk karyawan di stasiun perakitan atau apakah mereka saling menghalangi,” lanjut Thomas Neuhäuser. “Pemodelan 3D membuat hal ini mudah dipahami oleh semua orang yang terlibat.”

Keuntungan dari keseluruhan proyek ini jelas yakni: dengan memanfaatkan jalur perakitan yang ada dan mengoptimalkan waktu siklusnya, biaya tambahan – seperti pengadaan peralatan tambahan dan ruang produksi justru dapat dihindari.

Dengan demikian, produsen sejak awal memproduksi batch kecil, menguji prosesnya, secara bertahap, meningkatkan skala ke produksi seri, dan selanjutnya meningkatkan produksi lebih lanjut sesuai permintaan pelanggan.

Di lingkungan pabrik digital, tim Fraunhofer IGCV menguji kelayakan perakitan hibrida mengingat kendala produksi yang ada: Di stasiun mana perubahan paling signifikan diharapkan? Bagaimana proses satuan (individual) dapat dirancang ulang agar lebih hemat biaya?

Dan proposal mana yang tidak dapat diimplementasikan, misalnya, karena keterbatasan ruang, dan bagaimana dapat dilakukan? Menguji jalur perakitan dalam kondisi dunia nyata.

Berdasarkan temuan ini, platform demonstrator atau uji coba telah dibangun di Fraunhofer IGCV di Augsburg, Jerman. Platform ini berfungsi untuk secara fisik mewakili sistem produksi dalam skala yang lebih kecil.

Hal itu memungkinkan berbagai konsep untuk diuji dan dievaluasi bersama dengan pihak perusahaan MAN Truck & Bus – secara kolaboratif, realistis, dan lintas sektor.

Selain itu, dukungan karyawan menggunakan sistem bantuan kognitif atau disebut augmented reality untuk perakitan hibrida akan disimulasikan.

Hal ini akan membuat semua aspek yang relevan menjadi nyata dan memungkinkan pertanyaan-pertanyaan kunci dijawab bersama.

Misalnya, bagaimana sistem yang mudah beradaptasi tersebut dapat diimplementasikan dalam kondisi yang berbeda, bagaimana sistem tersebut dapat dibuat lebih fleksibel, bagaimana karyawan dapat didukung dalam menangani semakin banyaknya varian?

Bagaimana temuan penelitian yang dihasilkan dapat ditransfer ke industri? Dengan demikian, hasil penelitian berkontribusi pada realisasi armada truk listrik yang lebih ramah lingkungan dan meningkatkan daya saing Jerman dalam produksi kendaraan komersial listrik.

Perusahaan Jerman sudah menjual truk dan bus niaga di Indonesia seperti terutama Mercedes-Benz dan Daimler. Sedangkan kendaraan listrik masih sangat sedikit, dan yang sudah memasarkan adalah Mitsubishi Fuso eCanter.

 

 

Dominasi kendaraan listrik niaga di Indonesia saat ini adalah BYD (China) + VKTR + Tri Sakti (bus listrik), Higer (China) + Higer Maju Indonesia. Sedangkan truk listrik dipegang oleh Mitsubishi Fuso eCanter (Jepang/Daimler Group).

China memimpin pasar bus listrik di Indonesia. Selain harga lebih murah, teknologi matang, dan perusahaan dari China agresif bermitra dengan perusahaan lokal. Sedangkan bus listrik dan truk listrik Mercedes-Benz serta produsen Jerman lainnya, masih melihat keadaan pasar.

Bagi produsen kendaraan niaga, karoseri, serta pemasok komponen di Indonesia, pengalaman riset para ahli memberikan pelajaran penting: digitalisasi manufaktur akan menjadi fondasi transformasi industri otomotif.

Menyambut pameran kendaraan komersial di Jakarta pada April 2026, pelaku industri dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk menampilkan inovasi produksi berbasis digital, integrasi kendaraan listrik, serta teknologi manufaktur yang fleksibel.

Strategi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya, tetapi juga membuka peluang kolaborasi global dalam pengembangan kendaraan niaga rendah emisi di kawasan Asia Tenggara. #SalamSobatmmINDUSTRI

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik