Apa dampak kerusakan keanekaragaman hayati yang terjadi di Indonesia dan negara-negara lain? Pihak mana yang melakukan kerusakan keanekaragaman hayati? Apakah Indonesia masih berfungsi sebagai paru-paru dunia?

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – COP16 CBD (sumber): Apa contoh kerusakan keanekaragaman hayati yang pernah Anda dengarkan di Indonesia dan negara-negara lain?
Memasuki tahun 2025, dunia tetap tidak lepas dari tantangan terkait perubahan iklim dan kerusakan keanekaragaman hayati yang tetap menjadi perhatian penghuni dunia.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Apa dampak kerusakan keanekaragaman hayati bagi kita? Beragam kerusakan keanekaragaman hayati yang terjadi di Indonesia dan negara-negara lain yang tentu saja punya dampak terhadap kehidupan manusia dan alam (flora dan fauna).
Contoh yang menghebohkan sejak awal tahun 2025 adalah pagar laut yang membentang sepanjang 30,16 km di wilayah Tanjung Pasir, pesisir Kabupaten Tangerang dan 8 km di Pantai utara Bekasi.
Terlepas dari pro-kontra, pembuatan pagar laut itu menimbulkan kerugian meski disebut bertujuan untuk mitigasi abrasi dan tsunami, dan pembuatnya mengaku sudah bayar pajak, namun kita tidak dapat menutup mata dan telinga atas:
- Pembuaran pagar laut telah merusak terumbu karang yang merupakan habitat penting bagi berbagai spesies di sekitar laut lokasi pagar. Terumbu karang yang rusak membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkannya. Kita kehilangan sejumlah keanekaragaman hayati di wilayah itu.
- Pagar laut menghalangi jalur migrasi ikan dan spesies laut lainnya. Efeknya adalah gangguan siklus reproduksi dan populasi ikan menurun, yang pada akhirnya berdampak pada hasil tangkapan nelayan lokal.
- Alih-alih mengurangi abrasi, pagar laut justru menyebabkan erosi pantai yang tidak merata, dan hal itu memicu perubahan arus laut dan menyebabkan erosi yang lebih parah di area lain yang belum atau tidak dipagar.
- Pagar laut mengganggu aliran air alami yang menyebabkan penumpukan sedimen serta polutan di area tertentu. Efeknya adalah penurunan kualitas air dan berdampak negatif pada kehidupan spesis laut.
- Pagar laut mengubah habitat pesisir yang penting bagi berbagai spesies burung, reptil, dan mamalia laut. Kehilangan habitat ini dapat mengurangi populasi spesies yang bergantung pada ekosistem pesisir untuk bertahan hidup.
- Bahkan kegiatan penangkapan ikan yang tidak terkontrol telah merusak terumbu karang di Raja Ampat, Papua.
Kerusakan keanekaragaman hayati di lahan Kalimantan
Contoh lain kerusakan keanekaragaman hayati adalah populasi orangutan di Kalimantan yang menurun drastis yang disebabkan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan penebangan kayu illegal.
Hal itu demikian bing.com justru mengurangi habitat alami orangutan. Orangutan pun diburu oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan selanjutnya dijadikan hewan peliharaan (illegal) atau dagingnya dikonsumsi.
Jangan lupa, bahwa kebakaran hutan yang sering terjadi di Kalimantan dan Sumatra baik—disengaja dan tanpa sengaja—telah merusak dan menghanguskan habitat flora dan fauna.
Kita sadar bahwa pergeseran iklim global pun mempengaruhi pola migrasi dan siklus hidup spesies lapor rislah.com.
Sementara pencemaran lingkungan yang disebabkan limbah industri, pestisida, dan plastik mencemari ekosistem, mengancam kehidupan berbagai spesies.
Demikian pula pembangunan kota, kegiatan pertambangan, dan pertanian intensif menyebabkan hilangnya habitat yang alami seperti dijelaskan arislah.com
Menurut rislah.com , penggundulan hutan Amazon untuk pertanian dan peternakan mengancam ribuan spesies flora dan fauna. Sedangkan pemutihan karang akibat perubahan iklim dan pencemaran laut telah merusak ekosistem terumbu karang terbesar di dunia.
Selain disebut sebagai paru-paru dunia, Indonesia memiliki potensi keanekaragaman hayati dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Negara ini memiliki lebih dari 31.750 spesies flora dan fauna, termasuk 12 persen mamalia, 16 persen reptil, dan 17 persen burung dunia demikian mamikos.com.
Selain itu, Indonesia memiliki ekosistem pesisir yang kaya, dengan 18 persen terumbu karang dunia, lebih dari 70 genera dan 500 spesies karang, serta ribuan spesies ikan dan biota laut lainnya.
Potensi ini menjadikan Indonesia sebagai pusat bioprospeksi dan bioekonomi yang sangat penting tekniksipil.id
Indonesia memiliki berbagai jenis flora dan fauna yang tersebar di berbagai ekosistem, termasuk hutan hujan tropis, hutan mangrove, dan ekosistem laut journal.unnes.ac.id melaporkan.
Banyak spesies endemik yang hanya ditemukan di Indonesia, seperti komodo, orangutan, dan berbagai jenis burung cenderawasih seperti dikutip dari agronet.co.id
Indonesia memiliki 21 tipe ekosistem dan 75 tipe vegetasi yang berbeda, mulai dari hutan hujan tropis hingga ekosistem pesisir demikian sebuah sumber.
Apakah benar Indonesia masih dianggap paru-paru dunia? Indonesia disebut paru-paru dunia karena memiliki hutan hujan tropis yang luas seperti di Sumatra, Kalimantan dan Papua yang berperan besar dalam menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen demikian bps.go.id
Hutan menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna yang unik dan langka. Pada tahun 2022, luas hutan di Indonesia tercatat sekitar 96 juta hektare, yang mencakup sekitar 51,2 persen dari total daratan Indonesia kutip eyesontheforest.or.id
Akan tetapi, hutan alami telah berubah berkat deforestasi disebabkan perluasan perkebunan kelapa sawit dan tentu menambah masalah baru.
Pada tahun 2023, sekitar 30.000 hektare hutan dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit tulis tempo.co. Secara historis, deforestasi akibat kelapa sawit terjadi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Selanjutnya, rencana pembukaan lahan untuk food estate seperti di Papua yang mencakup area yang sangat luas, hingga 2 juta hektare.
Pelbagai kalangan mengkritiik proyek itu karena dianggap mirip dengan praktik eksploitasi kolonial dan berpotensi merusak lingkungan serta mengabaikan kepentingan masyarakat local seperti pemilik tanah adat.
Semoga pemerintah berupaya meminimalkan pembukaan lahan hutan dan lebih mengedepankan intensifikasi lahan pertanian demikian pppa.or.id mengharapkan.
Bagaimana anak muda berperan pro-aktif untuk menjaga keanekaragaman hayati?
Sejumlah anak muda menceritakan pengalaman yang mereka bawa dari Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP16 CBD) yang berlangsung di Cali, Kolombia beberapa waktu lalu.
Apa yang dilakukan oleh Naomi Waisimoni, Novita Ayu Matoneng Oilsana, dan Andi Reza Zulkarnain di tempat mereka masing-masing setelah mengikuti COP16 CBD?
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form