Wednesday
07 October 2026

Gaya Hidup Ramah Lingkungan: Diminati Anak Muda

Anak muda mencetuskan gaya hidup yang ramah lingkungan di era digital. Dari Cali, Kolombia, mereka menyerukan agar pemerintah dan sektor swasta pro-aktif menjaga keanekaragaman hayati.

Peserta COP16 CDB termasuk dari Indonesia yang masing-masing mengenakan pakaian adat khas Indonesia (Foto/@: Andi Reza)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – COP16 CBD  (sumber): Gaya hidup ramah lingkungan di era digital merupakan dambaan anak muda (Indonesia): praktis dan terintegrasi dengan teknologi.

Bentuk ramah lingkungan itu dapat diwujudkan dengan menggunakan produk yang ramah lingkungan. Contohnya barang-barang yang digunakan mudah didaur ulang, produk organik, dan barang-barang diproduksi secara berkelanjutan.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Memilih jenis transportasi yang ramah lingkungan seperti sepeda, kendaraan listrik atau menggunakan transportasi umum yang mengunakan energi hijau.

Anak muda pun mendukung penggunaan energi terbarukan seperti panel surya dan energi angin untuk kebutuhan sehari-hari.

Sedangkan gaya hidup generasi muda diwujudlkan dengan mengadopsi gaya hidup minimalis dengan mengurangi konsumsi barang-barang yang tak perlu namun lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas.

Anak muda pun lebih  cenderung menggunakan aplikasi dan teknologi yang membantu mengurangi jejak karbon, seperti aplikasi pengelolaan sampah, aplikasi berbagi kendaraan, dan lainnya.

Bagaimana minat generasi muda terhadap keanekaragaman hayati? Generasi muda (Indonesia) menghadapi tantangan dalam hal minat terhadap keanekaragaman hayati.

Menurut laporan ppid.menlhk.go.id sebagian dari generasi muda lebih tertarik pada makanan hasil industri dan gaya hidup modern.

Laman kedaulatanpangan.org pun menjelaskan bahwa sebagian generasi muda berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan mereka dalam pelestarian keanekaragaman hayati melalui pendidikan dan kampanye kesadaran.

Penting untuk terus mendorong partisipasi generasi muda dalam upaya pelestarian lingkungan agar mereka dapat menghargai dan melestarikan kekayaan alam Indonesia.

Di tengah kompleksitas isu lingkungan, harapan baru dicetuskan oleh sejumlah anak muda Indonesia dan dunia melalui Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity (COP16 CBD) yang mereka ikuti di Cali, Kolombia beberapa waktu lalu.

Peserta Indonesia menimba semangat dan pengetahuan berharga yang siap diterapkan di komunitas lokal. Mereka bertekad menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.

Penyelenggaraan COP 16 CBD di bagi atas Blue Zone dan Green Zone. Blue Zone adalah area konferensi utama untuk bernegosiasi dan dialog antarpeserta (perwakilan negara) dan pengamat terakreditasi.

Peserta mengikuti sesi pleno, acara sampingan resmi, pertemuan bilateral, dan multilateral.

Sedangkan Green Zone merupakan ruang di luar area konferensi utama—Bulevar del Rio de Cali—guna memotivasi partisipasi aktif masyarakat sipil, LSM, sektor swasta, dan pemangku kepentingan atau stakeholders.

Area Green Zone terbuka untuk umum dengan fasilitas percakapan, dan menginspirasi aksi nyata untuk konservasi keanekaragaman hayati, dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam diskusi-diskusi penting tentang aksi nyata ramah lingkungan.

Bagaimana peserta Indonesia mewujudkan pengalaman mereka di lingkungan mereka masing-masing?

Seorang social entrepreneur dari masyarakat adat Papua, Naomi Waisimon senang berkenalan dengan kelompok masyarakat adat dari beberapa negara di Amerika Latin.

“Tekad bersama, membuat saya merasa memiliki teman, terkait hal yang kami perjuangkan di Papua,” papar Naomi Waisimon setelah mengikuti sesi yang mengesankan dan memotivasinya untuk melanjutkan kegiatan di Papua.

Sesi yang diikuti oleh Naomi Waisimon disebut Net Positive Commitments in Tourism – The catalytic function of one of the largest economic sectors in the world. Sesi ini menunjukkan keseriusan pengembangan wisata—salah satu cara untuk menyelesaikan masalah ekonomi dengan isu iklim dan keanekaragaman hayati.

“Topik itu sejalan dengan apa yang kami lakukan. Rasanya seperti mendapatkan penguatan energi dan semangat,” imbuh Naomi Waisimoni.

Novita Ayu Matoneng Oilsana, pendiri Komunitas BALENTA mendapatkan banyak pengetahuan dan konsep menarik dari COP16.Menurutnya, area Green Zone merupakan wujud kedaulatan dan perlawanan. Kenapa?

Masyarakat adat dan komunitas lokal yang ikut di Green Zone ditempatkan di tenda-tenda yang berlokasi di tepi lintasan Sungai Cali. Suasana itu menyimbolkan bahwa mereka berhak penuh atas kedaulatan tanah dan kekayaan alam.

“Mereka melawan dengan cara membawa kekayaan alam dan pengetahuan lokal yang nilainya tak terhingga, untuk dibagikan kepada lebih banyak orang,” ungkap Novita Ayu Matoneng Oilsana.

Menurut Novita, hal ini dilakukan agar suara mereka terdengar lebih nyaring dan  menyebar ke seantero dunia. Dunia harus tahu bahwa anak-anak muda hadir di ruang-ruang  yang kolaboratif, dan masyarakat adat serta komunitas local.

Mereka berdaulat penuh atas tanah dan kekayaan alam—jangan sampai ada pihak yang datang merusak dan merampasnya dengan iming-iming apa pun.

Sedangkan Andi Reza Zulkarnain, Co-chair Young People Action Team UNICEF kawasan East Asia and Pacific, berkesempatan bertemu dengan pemuda-pemuda dari seluruh dunia. Mereka membagi pengalaman, perspektif, dan praktik baik dari komunitas mereka masing-masing.

Ia belajar banyak dari sesi LAB of Youth Engagement and Participation yang diselenggarakan oleh CAF. Andi Reza bekerja sama dengan kelompok yang berfokus pada perlindungan komunitas terdampak proyek tambang.

Melakukan pelatihan & penciptaan peluang kerja

“Kami merancang pendekatan yang meliputi pelatihan, dukungan langsung, dan penciptaan peluang kerja. Sesi itu mengajarkan saya cara memadukan strategi berbasis komunitas dengan advokasi kebijakan,” tutur Andi Reza.  Ia belajar dari orang muda negara lain.

Selanjutnya, Ayu Matoneng Oilsana menambahkan bahwa orang-orang muda lokal memiliki pengetahuan lokal yang luas. Anak muda

menyadari kedaulatan hidup masyarakat adat dan komunitas lokal yang mereka diskusikan bersama. Ternyata, peserta memiliki pengetahuan tentang biodiversitas dan perubahan iklim.

Bahkan dari antara peserta ada yang hebat di area public speaking.  Beberapa pembicara masih tergolong anak usia 7 -10 tahun namun cara mengutarakan isi pikirannya dikagumi oleh Novita.

Anak-anak ‘ingusan’ itu  berpengalaman terkait konservasi frailejon, tanaman endemik yang tumbuh melalui proses yang panjang dan menjadi penjaga mata air.

Anak-anak itu mewakili Life of Pachamama sebuah Organisasi yang didirikan oleh orang muda Kolombia.  Hampir semua pengurusnya bertindak sebagai pembicara di beberapa sesi, dan selalu diliput media lokal.

“Sangat inspiratif. Potensi pengetahuan lokal dan dukungan seperti inilah yang belum banyak dimiliki di Indonesia, apalagi di Nusa Tenggara Timur,” jelas Novita Ayu Matoneng Oilsana.

Sedangkan Naomi terkesan atas pengetahuan anak muda Kolombia yang memiliki ilmu komunikasi yang sangat baik. Mereka cerdas, tidak ragu dalam menyampaikan pendapat, dan memberikan energi positif bagi peserta dari negara-negara lain.

Sayagnya, mereka tidak menceritaakan jumlah peserta dan negara-negara yang mengikuti  COP16 CBD.

Proyek yang telah dilakukan oleh orang muda di negara masing-masing menginspirasi peserta  seperti upaya pemuda Kolombia dalam menciptakan ruang publik ramah lingkungan yang didukung oleh kolaborasi pemerintah dan sektor swasta.

“Keterlibatan lintas sektor sangat penting untuk keberhasilan sebuah inisiatif, terutama yang berfokus pada keberlanjutan,” pendapat Andi Reza.

Naomi melihat anak muda di Kolombia dan Amerika Latin mampu menerapkan pengelolaan yang lebih terencana melalui berbagai lembaga guna membantu komunitas. Ia berharap komunitas di Indonesia, dan Papua dapat mengerjakan proyek-proyek seperti dilakukan oleh anak muda Kolumbia.

Pengalaman berharga lainnya adalah bagaimana melakukan proses negosiasi global untuk membentuk kesepakatan terkait keanekaragaman hayati.

“Momen ini mengubah cara pandang saya tentang kompleksitas politik internasional, ketika setiap kata dalam rancangan perjanjian memiliki dampak yang sangat luas. Sebagai pemuda dari pedesaan, saya  duduk di ruangan yang sama bersama delegasi dari seluruh dunia,” ungkap Andi Reza.

Ia pun tampil dengan pakaian adat ketika berkesempatan sebagai pembicara dan diwawancarai oleh media lokal dan internasional seperti media  Cali Tourism Office.

Delegasi muda Indonesia akan menerapkan pengalaman dan pengetahuan ke komunitas mereka masing-masing. Mereka  berusaha dan berharap bisa diterapkan dalam konteks lokal.

Naomi Waisimoni merasakan mampu untuk memahami titik kritis, fokus kerja, dan jalan keluar yang tersedia untuk penyelamatan biodiversitas atau kekayaan keankeragaman hayati secara global.

Novita Ayu Matoneng Oilsana akan membagikan pengalamannya di lingkup komunitas dan wilayahnya terlebih dahulu. Ilmu tentang pemetaan isu dan pemberdayaan komunitas penting diterapkan di komunitasnya di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Selain mempermudah proses bertukar pengetahuan, mereka juga bisa terbantu dalam mengelompokkan kerja-kerja komunitas berdasarkan isu tersebut, agar tidak tumpang tindih dan kehilangan fokus.

Banyak organisasi NGO atau LSM yang berbagi proses pendampingan melalui hasil kerja sama dengan masyarakat adat dan komunitas lokal di sana. Novita akan berkolaborasi dengan lima delegasi muda Indonesia lainnya.

Andi Reza Zulkarnain mendapatkan banyak wawasan baru yang relevan untuk diterapkan di Indonesia. Contohnya, Modul Perjanjian Escazú oleh Life of Pachamama: panduan praktis tentang bagaimana anak muda berpartisipasi dalam advokasi lingkungan, cara mengakses informasi publik dan melindungi hak-hak lingkungan.

Pelajaran lain didapatkan dari sesi Forest Mapping and Monitoring Tools for IPLC. Andi Reza belajar bagaimana komunitas adat yang  memanfaatkan teknologi untuk memetakan hutan dan melindungi keanekaragaman hayati.

Pengetahuan itu akan dgunakan untuk meningkatkan efektivitas program pelestarian hutan bakau yang sedang ia dan timnya jalankan di Sulawesi Selatan.

Satu benefit lainnya adalah jalinan jejaring yang semakin luas. Mereka bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara, berkenalan, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman, rupanya menjadi impian Novita sejak lama.

Dan mimpi itu terwujud saat mengikuti program COP16. Langkah berikutnya adalah mengintegrasikan pengetahuan mereka ke dalam proyek organisasi di daerah mereka masing-masing.

Mereka berbagi pengalaman melalui edukasi kepada anak muda dan masyarakat, membangun penguatan kolaborasi lintas sektor, dan melakukan  advokasi kebijakan berbasis bukti.

Pengalaman peserta Indonesia memperkuat komitmen mereka untuk terus mendorong aksi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Mewujudkan ramah lingkungan tentu tidak hanya dibicarakan di forum-forum. Aksi nyata dalam bentuk perbuatan yang diminati oleh  anak muda akan menambah nilai perlindungan terhadap potensi keanekaragaman hayati. Salam #mmINDUSTRI


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik