Apakah EVape dapat mengendalikan cairan rokok elektronik sehingga kesehatan perokok tidak terganggu? Biaya cukai rokok elekrik mencapai 57 persen namun tren penikmat asap rokok elektik justru meningkat di kalangan remaja dan wanita.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer ITEM (sumber): Pengguaan alat EVape bertujuan untuk mengendalikan cairan rokok elektronik guna membantu perokok untuk mengurangi kebiasaan merokok dan meminimalisasi risiko . Akan tetapi, kebiasaan merokok elektrik cenderung meningkat di perkotataan dan pelosok pedesaan.
Dirangkum dari beberapa laman, peningkatan penggunaan rokok elektrik justru bertubuh subur seperti dilaporkan Global Youth Tobacco Survey, prevalensi pelajar usia 13-15 tahun yang mengonsumsi rokok elektrik mencapai 13,7 persen pada Desember 2019.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Sementara data Riskesdas (2018) mengungkapkan prevalensi pengguna rokok elektronik tertinggi terdapat di Provinsi DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, dan DKI Jakarta ini menurut kompas.com
Rokok elektrik dianggap menarik karena mudah didapatkan dan sering ditawarkan oleh teman sebaya. Anak laki-laki memiliki prevalensi konsumsi rokok elektrik yang lebih tinggi dibandingkan wanita.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada 2023, jumlah perokok aktif di Indonesia diperkirakan mencapai 70 juta orang, dan dari jumlah itu, 7,4 persen adalah perokok berusia 10-18 tahun.
Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik sekitar 2,76 persen penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas mengonsumsi rokok elektrik setiap hari (data per Maret 2022). Populasi konsumen rokok elektrik lebih besar di perkotaan dengan persentase 2,81 persem sedangkan di perdesaan mencapai 2,7 persen.
Rokok elektrik bukan alternatif yang lebih baik daripada rokok konvensional yang berbasis tembakau. Bahkan rokok elektrik memiliki ancaman bahaya yang juga besar. Oleh karena cairan rokok elektrik sering dicampur dengan bahan kimia yang dapat merusak paru, jantung, dan menyebabkan kanker. Penggunaan rokok elektrik pada usia muda pun menghambat perkembangan otak.
Pemerintah coba membatasi konsumsi rokok elektrik dengan mengenakan bea cukai sebesar 57 persen dari harga rokok elektrik yang disodorkan oleh produsen. Akan tetapi, regulasi yang berkaitan dengan rokok elektrik dan bonus demografi belum dibuat oleh pemerintah bersama DPR—guna mengatur pengadaan dan distribusi rokok elektronik.
Fenomena itu tentu berdampak sigifikan terhadap pemanfaatan bonus demografi yang diharapkan dapat mengubah arah bangsa dengan memanfaatkan masyarakat usia produktif.
Apa perbedaan rokok elektrik (vape) dengan rokok yang menggunakan tembakau? Rokok elektrik berproses dengan memanaskan larutan atau cairan yang disebut e-liquid yang biasanya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin nabati, dan bahan perasa.
Ketika perokok memanaskan e-liquid dengan pemanas bertenaga baterai akan menghasilkan aerosol yang dapat dihirup dan dihembuskan seperti asap rokok konvensional. Bahan rokok elektrik tidak menghasilkan tar atau karbon monoksida.
Rokok tembakau mengandung tembakau asli yang dibakar dan menghasilkan asap berbasis karbon, tar, dan berbagai zat kimia berbahaya.
Apa dampak buruk bagi perokok rokok elektrik? Nikotin pada rokok elektrik berpotensi mengganggu perkembangan otak anak dan janin, serta berpotensi menyebabkan gangguan pembelajaran dan kecemasan.
Beberapa studi mengaitkan rokok elektrik dengan risiko penyakit jantung dan luka paru, dan alat vape sendiri telah dikaitkan dengan luka fisik, termasuk luka bakar dari alat vape yang meledak atau mengalami malfungsi. Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa rokok elektronik atau e-cigarette memiliki kandungan nikotin atau e-liquid yang berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan atau paru-paru perokok.
EVape mengendalikan cairan rokok elektrik
Perokok dan produsen rokok elektronik harus menyadari dan mengetahui peran alat EVape yang dapat dijadikan sebagai salah satu opsi yang efektif untuk membantu perokok berhenti merokok dalam jangka panjang.
Di pasar umum—selain mudah mendapatkan rokok elektronik, juga tersedia obat-obatan seperti varenicline (Chantix) dan cytisine yang efektif membantu orang berhenti merokok.
Cara lain adalah dengan melakukan dua bentuk terapi pengganti nikotin (NRT), misalnya plester nikotin dan permen karet nikotin yang membantu sekitar 12 dari 100 orang yang akhirnya mampu berhenti merokok.
Meskipun rokok elektronik memiliki risiko kesehatan lebih rendah daripada rokok tembakau, namun perokok elektrik tetap berpeluang diterpa risiko.
Oleh karena itu, perlu konsultasi dengan profesional kesehatan sebelum menggunakan rokok elektronik sebagai alat bantu berhenti merokok.
Apakah para peneliti Fraunhofer ITEM menganjurkan produsen rokok elektronik untuk menggunakan EVape? Tim ahli Fraunhofer ITEM mengembangkan prototipe EVape sehingga memungkinkan penguji menguapkan e-liquid dalam rentang suhu yang luas dan terkontrol.
Dengan menggunakan alat EVape, komponen yang dilepaskan selama proses penguapan memudahkan peneliti melakukan analisis dan evaluasi secara toksikologi.
Meskipun tim ahli Fraunhofer ITEM belum merekomendasikan secara khusus—terkait penggunaan EVape di pabrik produksi rokok elektronik, alat ini membantu meningkatkan keselamatan konsumen dengan memahami dampak emisi dari e-liquid demikian laman health.harvard.edu menjelaskan. EVape memastikan penguapan dalam kondisi yang terkendali
Dengan EVape, para peneliti kini telah mengembangkan sistem yang dipatenkan yang dapat digunakan untuk menguji e-liquid di seluruh rentang suhu yang relevan. Hal ini sebelumnya tidak mungkin dilakukan, tetapi sangat penting, karena penilaian risiko toksikologi perlu memperhitungkan fakta bahwa suhu di dalam rokok elektrik sangat bervariasi, tergantung pada model dan baterai yang terpasang.
Akibatnya, produk fisik atau dekomposisi termal yang dihasilkan oleh berbagai rokok elektrik juga dapat bervariasi.
Meskipun produsen diharuskan untuk mengungkapkan data toksikologi untuk cairan dan emisinya, namun informasi tersebut harus digunakan dalam berbagai rokok elektrik yang tersedia secara komersial dengan profil suhu yang beragam, sehingga hasilnya tidak berlaku secara universal atau sebanding.
Dengan mengingat hal itu, tim tersebut mulai menguji bahan-bahan yang digunakan pada seluruh rentang suhu yang relevan, dari 150 hingga 350 derajat Celsius.
Akan tetapi, saat ini, belum ada sistem pengujian yang memungkinkan skenario pengujian yang ekstensif ini dan mencakup seluruh rentang suhu. Para peneliti di Fraunhofer ITEM bermaksud untuk menutup celah ini dengan EVape:
Perangkat lab portabel, yang dapat dihubungkan ke peralatan analisis standar, memastikan bahwa penguapan berlangsung dalam kondisi yang terkendali, sehingga hasilnya tidak bergantung pada e-c igarette yang digunakan, sehingga keduanya dapat dibandingkan.
Pengujian berbagai e-liquid yang tersedia secara komersial pada suhu yang berbeda dilakukan dalam kondisi nyata: E-liquid menguap secara tiba-tiba saat terkena udara normal dari lingkungan sekitar. Pengukuran suhu secara terus-menerus dan waktu nyata menjaga cairan agar tidak terlalu panas selama pengujian.
“Kami mengoleskan sedikit cairan ke permukaan pemanas yang panas, sehingga langsung menguap. Kemudian uapnya dihisap dan dapat dianalisis untuk melihat zat apa saja yang ada di dalamnya. Zat-zat tersebut dapat dibandingkan dengan zat-zat yang dianalisis sebelum proses penguapan untuk mendapatkan informasi tentang termostabilitas zat-zat tersebut,” jelas Dr. Stefanie Scheffler, seorang ilmuwan di Fraunhofer ITEM di Hannover, Jerman.
Dr. Stefanie Scheffler menjelaskan proses pengujian bahwa hasil awal menunjukkan spektrum zat yang ditemukan bergantung pada suhu. Pemeriksaan standar untuk meningkatkan kualitas e-liquid.
EVape menawarkan kepada produsen cara untuk menyingkirkan zat-zat yang berpotensi berbahaya bahkan sebelum mereka memproduksi e-liquid mereka.
Hal ini memungkinkan mereka untuk membuat profil toksikologi untuk e-liquid dengan cepat dan efektif, membatasi atau menyetujuinya untuk rentang suhu tertentu, dan mengidentifikasi semua emisi yang dihasilkan dalam kondisi realistis melalui pengukuran suhu secara terus-menerus dan secara real-time.
Selain itu, para peneliti juga berharap EVape akan membantu otoritas regulasi memantau cairan rokok elektrik yang tersedia di pasaran.
“Kami berencana untuk melisensikan EVape di masa mendatang dan menyediakannya untuk laboratorium, otoritas regulasi, dan industri. Tujuan kami adalah agar EVape digunakan sebagai perangkat referensi sehingga e-liquid tidak sampai ke pasaran sebelum diuji menggunakan sistem pengujian kami,” tandas Dr. Stefanie Scheffler.
Penggunaan rokok elektronik memiliki beberapa efek jangka panjang yang perlu diperhatikan:
- Kerusakan paru-paru: Cairan yang digunakan dalam rokok elektronik sering mengandung nikotin, propilen glikol, dan bahan kimia lain yang dapat mengiritasi paru-paru. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan peradangan, gangguan fungsi paru-paru, dan kondisi serius seperti bronkitis kronis atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) lapor situs yankes.kemkes.go.id
Paparan e-liquid dapat merusak paru-paru dan menyebabkan gangguan pernapasan, termasuk kondisi seperti e-cigarette or vaping product use-associated lung injury (EVALI) dan chronic obstructive pulmonary disease (COPD).
- Ketergantungan dan nikotin: Banyak rokok elektronik mengandung nikotin, yang menyebabkan ketergantungan dan meningkatkan risiko beberapa penyakit kronis, seperti naiknya tekanan darah, resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung demikian hellosehat.com
Rokok elektrik mengandung nikotin, yang dapat menyebabkan kecanduan. Remaja yang terpapar nikotin berisiko mengembangkan kebiasaan merokok yang berkelanjutan.
- Gangguan perkembangan otak: Remaja yang sering menggunakan rokok elektrik berisiko mengalami gangguan perkembangan otak. Nikotin dalam e-liquid dapat mempengaruhi fungsi otak dan memicu masalah belajar.
Rokok elektrik sering dianggap sebagai alternatif yang lebih aman daripada tembakau konvensional. Akan tetapi, para ahli mengingatkan konsumen untuk memahami beberapa hal:
- Rokok elektrik mengandung nikotin, tetapi dalam kadar yang lebih rendah daripada rokok tembakau. Meskipun demikian, mereka juga mengandung bahan kimia lain seperti propilen glikol dan senyawa aromatik. Efek jangka panjang dari bahan-bahan ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
- Rokok elektrik belum sepenuhnya terbukti aman. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mereka dapat memengaruhi fungsi paru-paru dan sistem kardiovaskular. Namun, efek jangka panjangnya masih belum sepenuhnya dipahami.
- Jika ingin berhenti merokok, lebih baik memilih alternatif yang sama sekali bebas nikotin. Konsultasikan dengan profesional kesehatan untuk rekomendasi yang sesuai dengan situasi Anda.
Bagaimana cara mengurangi kebiasaan merokok—termasuk mengonsumsi rokok elektrik?
Gunakan dan kunyahlah permen karet bisa menjadi pengganti nikotin yang efektif. Ini dapat mengurangi keinginan untuk merokok. Anda dapat melakukan terapi pengganti nikotin berupa produk seperti plester nikotin, koyo nikotin, dan nicotine gum yang membantu mengurangi kecanduan nikotin.
Sedangkan terapi perilaku dengan mengatasi kebiasaan merokok. Ini melibatkan mengidentifikasi pemicu dan menggantikannya dengan aktivitas sehat, seperti olah raga yang teratur dan konsisten.
Salam sehat.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form