Warisan perempuan Kaili menjelma menjadi inovasi kecantikan berkelanjutan lewat badabida, lulur ketan hitam dari Sigi. Kisahnya menginspirasi UMKM utuk mengangkat tradisi lokal ke pasar modern tanpa kehilangan akar budaya!

mmINDUSTRI.co.id – Nelamayu Tradisional (sumber): Di tengah demam industri kecantikan yang terus memproduksi produk-produk baru, kita simak kisah satu fenomena menarik dari Sigi, Sulawesi Tengah.
Warisan perempuan Kaili yang menemukan masa depannya melalui bahan yang telah lama menyertai kehidupan masyarakat yakni ketan hitam.
Badabida, lulur tradisional yang dahulu digunakan calon pengantin dalam ritual nombungu, menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Kisah Nelam Ayu Kusuma melalui Nelamayu Tradisional menjadi refleksi bahwa pengetahuan perempuan, resep keluarga, kekayaan hayati, dan budaya lokal memiliki nilai ekonomi ketika dirawat, dikembangkan, serta dibawa ke pasar dengan cara yang tepat.
Jauh sebelum lulur dan masker tubuh dijual dalam berbagai kemasan modern, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah telah menggunakan ketan hitam sebagai bagian dari ritual perawatan menjelang pernikahan.
Lulur tersebut dikenal sebagai badabida. Dalam tradisi nombungu, calon pengantin menjalani rangkaian perawatan tubuh dan wajah menggunakan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ketan hitam yang diolah menjadi lulur atau masker untuk merawat kulit.
“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Dahulu, badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana. Nelam Ayu Kusuma mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan oleh konsumen saat ini.
Nelam Ayu Kusuma tidak ingin badabida hanya dikenal sebagai produk perawatan berbahan alami. Bagi Nelam, cerita tentang perempuan Kaili dan pengetahuan yang diwariskan di dalam keluarga merupakan bagian penting dari produk tersebut.
Berawal dari resep sang nenek
Nelam menguasai pengetahuan tentang perawatan tradisional bada kumba, bedak dingin berbahan beras dan rempah yang telah lama digunakan di dalam keluarganya.
Resep bada kumba ia peroleh dari neneknya, perawat herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, neneknya meracik bedak dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan sejumlah rempah lainnya tutur Nelam Ayu Kusuma.
Racikan itu digunakan secara turun-temurun di dalam keluarga untuk merawat kulit bayi dan anak-anak. Nelam juga mempelajari kembali bahan dan proses pembuatannya agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada generasinya.
Cerita keluarga itu menjadi dasar berdirinya Nelamayu Tradisional pada 2018. Pada awalnya, produk Nelam lebih banyak digunakan oleh calon pengantin yang masih mengenal tradisi nombungu.
Seiring perubahan waktu, produknya mulai menjangkau konsumen yang tertarik pada perawatan tubuh berbahan alami dan tradisi kecantikan dari berbagai daerah di Indonesia.
“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” cerita Nelam Ayu Kusuma.
Mengubah resep keluarga menjadi produk yang dapat dipasarkan lebih luas tidak cukup hanya dengan membuat kemasan baru. Nelam berusaha memahami kebersihan dan keamanan produk, klasifikasi yang tepat, perizinan, serta batas klaim manfaat yang dapat digunakan.
Titik penting dalam perkembangan Nelamayu Tradisional terjadi ketika usaha tersebut mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam memperoleh pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran, dan akses pasar.
“Pendampingan fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ungkap Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.
Menggunakan Ketan Hitam dari Petani Sigi

Ketan hitam digunakan untuk membuat badabida yang diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi (Foto/@: Nelamayu Tradisional)
Pendampingan justru membantu Nelam Ayu Kusuma untuk memahami posisi produknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Produk yang sebelumnya berada di antara perawatan tradisional dan kosmetik modern diarahkan untuk memenuhi persyaratan sesuai klasifikasi dan penggunaannya.
Ketan hitam yang digunakan untuk membuat badabida diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam.
Pada proses produksi diusahakan mengurangi bahan (material) yang terbuang agar lebih efisien. Dedak hasil penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau disalurkan kembali kepada petani.
Sedangkan abu dari proses sangrai digunakan sebagai abu gosok rumah tangga. Model ini mencerminkan praktik ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.
Menurut Nedya, inilah bentuk nyata ekonomi restoratif. “Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi,” imbuhnya.
Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) memiliki visi mewujudkan kemandirian kabupaten melalui model ekonomi restoratif.
LTKL mendukung proses yang dijalankan Gampiri sebagai bagian dari upaya kolektif memperkuat ekosistem ekonomi lokal, membangun resiliensi, dan mendorong terwujudnya visi kabupaten lestari di masa depan.
Bagi Nelam Ayu Kusuma, membawa badabida ke pasar yang lebih luas bukan berarti mengubahnya menjadi sekadar produk kecantikan. Ia ingin konsumen juga mengenal cerita perempuan Kaili yang hidup dan sarart maknanya.
Oleh karena itu, jadikan budaya sebagai nilai tambah, bukan sekadar ornamen. Produk lokal akan lebih kuat ketika konsumen memahami siapa yang membuatnya, dari tradisi mana ia berasal, dan nilai apa yang ingin diwariskan.
Naikkan kelas produk tanpa menghilangkan identitas. Seperti badabida yang dikembangkan menjadi body scrub, UMKM dapat melakukan inovasi bentuk, kemasan, pengalaman penggunaan, dan pemasaran tanpa menghapus akar pengetahuan tradisional.
Perkuat keamanan, legalitas, dan standar produk. Kisah Nelam Ayu Kusuma menunjukkan bahwa kekayaan tradisi perlu berjalan bersama pengetahuan tentang kebersihan, klasifikasi produk, perizinan, serta batas klaim manfaat. Justru di sinilah pendampingan usaha menjadi penting.
Konsisten membangun rantai nilai yang menghidupkan masyarakat sekitar. Penggunaan ketan hitam dari petani Dolo Barat memperlihatkan bahwa sebuah produk perempuan dapat menciptakan dampak lebih luas—dari petani, pengolah, pelaku UMKM, hingga konsumen.
Terapkan ekonomi sirkular sejak skala kecil. Dedak yang dimanfaatkan untuk pakan ternak dan abu yang digunakan kembali menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak harus dimulai dari sistem industri raksasa. Rumah produksi pun dapat menjadi titik awal.
Perempuan perlu ditempatkan sebagai pemilik pengetahuan sekaligus penggerak ekonomi. Resep nenek Nelam Ayu Kusuma bukan hanya cerita keluarga; ketika dikembangkan dengan pengetahuan bisnis, ia berubah menjadi aset yang menghubungkan generasi, budaya, dan peluang penghidupan.
Pemerintah daerah, komunitas, pendamping usaha, koperasi, akademisi, pasar, dan masyarakat pun perlu membangun ekosistem bersama agar UMKM berbasis potensi lokal tidak berjalan sendirian.
Badabida mengingatkan kita bahwa di balik banyak produk tradisional Indonesia terdapat pengetahuan yang diwariskan oleh perempuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Persoalannya, pengetahuan itu sering berhenti sebagai kenangan ketika tidak ada regenerasi, dokumentasi dan informasi, inovasi, pasar, dan ekosistem usaha yang mampu menjaganya tetap hidup.
Kisah Nelamayu Tradisional menawarkan arah yang berbeda. Tradisi tidak harus digembok seagai kisah masa lalu agar tetap autentik. Tradisi dapat tumbuh, beradaptasi, dan memberikan penghidupan selama nilai dasarnya tetap dihormati.
Di tangan UMKM, bahan lokal dapat menjadi produk bernilai tambah. Di tangan perempuan, resep keluarga dapat menjadi sumber kemandirian ekonomi. Dan melalui kolaborasi, sebuah produk sederhana dapat menciptakan manfaat bagi petani, keluarga, komunitas, budaya, dan lingkungan.
Oleh karena itu, peluang industri di Indonesia sesungguhnya tidak selalu berada jauh di luar sana.
Sebagian peluang (mungkin) sedang tumbuh di kebun petani, tersimpan dalam resep seorang nenek, hidup dalam ritual masyarakat, atau berada di tangan perempuan yang selama ini belum mendapat ruang cukup untuk mengembangkan pengetahuannya.
Kini saatnya masyarakat bergerak: bukan hanya membeli produk lokal, tetapi mengenali ceritanya; bukan hanya mengagumi budaya, tetapi ikut menjaganya; bukan hanya berbicara tentang pemberdayaan perempuan, tetapi menciptakan ruang agar perempuan menjadi pelaku utama ekonomi.
Sebab ketika warisan budaya mampu menjadi usaha yang lestari, kita bukan sekadar menyelamatkan aset masa lalu—kita sedang membuka jalan bagi masa depan Indonesia yang lebih mandiri, inklusif, sarat budaya, dan berkelanjutan. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form