Inspiration, MICE

Apakah Ponsel Anda Memiliki Teknologi 5G? Apa Dampak Akhir Era 4G Bagi Kita?

Tirai masa dominasi teknologi 4G bakal berakhir—dan penerusnya adalah teknologi 5G. Dengan teknologi 5G, mesin-mesin di pabrik dapat berkomunikasi, mobil tidak membutuhkan...

Written by Rayendra L. Toruan · 2 min read >
Akhir Era 4G

Tirai masa dominasi teknologi 4G bakal berakhir—dan penerusnya adalah teknologi 5G. Dengan teknologi 5G, mesin-mesin di pabrik dapat berkomunikasi, mobil tidak membutuhkan pengemudi lagi, dan masih banyak manfaat lain.

Akhir Era 4G
Mesin dapat berkomunikasi secara real time meski tanpa kabel yang dimungkinkan dengan teknologi 5G. Apakah Ponsel Anda Memiliki Teknologi 5G? (Foto: Fraunhofer IPT)

Penyempurnaan teknologi baik hardware dan software memberi kemudahan yang lebih besar.

Kita sudah menikmati kemudahan yang dihasilkan teknologi 4G—misalnya kemudahan dan kecepatan memback up data pada jaringan komunikasi. Dengan teknologi 4G, kita leluasa menonton video atau musik melalui ponsel di tangan.

Kalau hasilnya maksimal, kenapa tirai teknologi 4G harus diakhiri dan kemudian membuka  kedatangan teknologi 5G? “Kehadiran 5G hanya pandai-pandai para pebisnis,” ujar seorang rekan jurnalis muda.

Penemuan dan penggunaan teknologi terkini tidak lepas dari kepentingan bisnis. Akan tetapi, kita tahu bahwa temuan itu merupakan proses penelitian yang sangat panjang dan menghabiskan ongkos.

Kita dan para pebisnis dan industri—justru berterima kasih kepada para insinyur. Tim peneliti di Fraunhofer (Jerman) misalnya selalu bekerja sama dengan para pelaku industri yang menyediakan infrastruktur  industri.

Belakangan istilah link and match   ramai diperbincangkan di Indonesia. Kata para politisi, hasil dan kualitas pendidikan—terutama lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Atas—di Indonesia kurang sesuai dengan kebutuhan sektor industri. Dan hasil penelitian pun sulit diterapkan (dibisniskan).

Kita mengakui bahwa kebanyakan mesin, alat industri dan pendukung teknologi (perangkat keras dan lunak) masih kita beli dari negara-negara yang lebih maju. Yang menjadi pertanyaan, kapan para insinyur di Indonesia meciptakan karya kelas dunia—seperti temuan Dr. B.J. Habibie?

Kita apresiasi para insinyur di Korea Selatan, Jerman, China, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara yang industri dan teknologi mereka lebih maju. Mereka mampu membudayakan peran teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup keseharian.

Contohnya media-media sosial, perangkat telekomunikasi, teknologi informasi, dan alat komunikasi berbasis digital driver platform—semua buatan asing.

Kalau pun kita ikut serta dalam pusaran kemajuan itu—tanpa bermaksud merendahkan bangsa awak—paling banter sebagai pengguna dan tukang servis.  Bagaimana dengan teknologi 5G?

Layar era teknologi 5G sudah dibuka, Korea Selatan dan China saling berlomba menghasilkan produk ponsel dengan kandungan teknologi 5G.

Teknologi 5G lebih kuat dalam jaringan dan penanganan data yang lebih banyak, namun lebih efisien ketika kita menggunakannya yang lebih nyaman dan safety.

Contohnya di lapangan, meski produknya sempat menghilang di pasar, perusahaan pemilik merek Nokia dan Ericsson sedang bergelut membangun infrastruktur 5G.

Sementara menurut tim peneliti Fraunhofer, jaringan seluler 5G pertama harus dapat digunakan pada tahun 2020. Sebagai penerus standar  long term evolution (LTE), teknologi 5G bukan lagi bagian dari masa depan untuk digunakan pada alat komunikasi seluler. Kore Selatan telah menggunakan 5G.

Para insinyur di berbagai belahan dunia bakal memungkinkan standarisasi secara global terutama  sistem komunikasi nirkabel atau tanpa kabel itu. Kebutuhan standardisasi sangat mutlak dengan meningkatnya tren penggunaan Industry 4.0—mobilitas yang terhubung dengan Internet of Things.

Teknologi 5G mengkonektivitaskan secara cerdas antarobjek agar mesin-ke-mesin mudah berkomunikasi yang terkontrol  secara otomatis.

Sebagai lembaga penelitian berorientasi aplikasi, Fraunhofer IIS membantu membentuk masa depan konektivitas itu.

Para peneliti terus mengembangkan teknologi 5G agar memenuhi persyaratan komunikasi seluler dan kebutuhan transmisi data mutakhir antarobjek—misalnya manufaktur dan mobil tanpa pengemudi. Bagaimana dengan tantangan teknis?

Tim peneliti mengakui bahwa kriteria utama dari standar 5G yang baru meliputi latensi ultra pendek di bawah milidetik, kecepatan transmisi luar biasa 10 Gbit/detik atau lebih tinggi.

Juga ketersediaan di seluruh dunia, koneksi yang kuat, dan konsumsi daya yang dikurangi secara drastis—dikombinasikan  dengan kemampuan pemosisian yang canggih.

Fraunhofer menambahkan, bahwa persyaratan pasti untuk koneksi data nirkabel bervariasi sesuai dengan aplikasi. Contohnya, latensi minimal dan ketahanan yang luar biasa sangat penting untuk sistem otomasi di bidang manufaktur dan di sektor transportasi.

Sementara efisiensi energi berperan penting dalam transmisi data telemetri dari smart meter. Penentuan posisi objek—termasuk pengguna ponsel cerdas serta mesin, kendaraan, dan node sensor—mencakup ragam metode penempatan.

Khususnya pengguna dan perangkat diarahkan langsung melalui sinyal jaringan seluler atau melalui sistem berbasis satelit, Wi-Fi, dan Bluetooth.

Jaringan komunikasi global masih dalam tahap pengembangan maka standar 5G harus mampu menawarkan banyak solusi untuk mengatasi beragam jenis kebutuhan.

Transmisi dan teknologi jaringan yang benar-benar baru diperlukan untuk 5G, dan untuk itu Institut Fraunhofer yang menangani Sirkuit Terpadu IIS mempunyai peran kunci dalam pengembangannya.

Tim peneliti di Fraunhofer IIS memanfaatkan keahlian yang lebih luas dalam komunikasi nirkabel dan penentuan posisi untuk menciptakan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan unik pelanggan dan untuk beragam aplikasi.

Jika ponsel Anda memiliki teknologi 5G artinya Anda lebih maju dan hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *