Pertamina menjalankan strategi dual growth untuk menjaga ketahanan energi sekaligus membangun bisnis rendah karbon. Simak peluang dan tantangan yang dihadapi oleh Pertamina.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – PT Pertamina (sumber): Gejolak geopolitik global kembali menunjukkan bahwa energi bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi ketahanan ekonomi nasional.
Gangguan rantai pasok, volatilitas harga minyak dan gas, serta tuntutan penurunan emisi membuat industri energi menghadapi dua kebutuhan sekaligus yakni: memastikan energi tetap tersedia hari ini dan menyiapkan sumber energi yang lebih berkelanjutan untuk masa depan.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Dalam situasi tersebut, PT Pertamina (Persero) menempuh strategi dual growth—memperkuat bisnis minyak dan gas yang masih menjadi tulang punggung energi nasional sembari membangun portofolio bisnis rendah karbon dan energi baru terbarukan (EBT).
Gejolak geopolitik global membuat urusan energi tidak lagi sebatas soal memenuhi kebutuhan hari ini. Ketika konflik dapat mengganggu rantai pasok dan mendorong harga komoditas energi, ketahanan energi menjadi bagian penting dari strategi ekonomi sebuah negara.
Di tengah tantangan tersebut, PT Pertamina (Persero) menjalankan strategi dual growth, yakni pertumbuhan ganda untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru untuk masa depan.
Strategi ini berjalan melalui dua jalur. Pertama, memaksimalkan bisnis eksisting atau legacy business, terutama dalam penyediaan energi berbasis minyak dan gas. Kedua, membangun bisnis rendah karbon melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta berbagai teknologi rendah karbon.
“Bagi Pertamina, transisi energi bukan hanya mengenai bagaimana menurunkan emisi, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi dalam negeri,” kata Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) di Jakarta belum lama ini.
Pendekatan dual growth menjadi penting karena transisi energi tidak bisa dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan energi saat ini.
Di tengah permintaan energi yang terus tumbuh dan ketidakpastian geopolitik, Pertamina tetap perlu memastikan energi tersedia secara aman, andal, berkualitas, dan berkesinambungan, sembari menyiapkan sumber energi baru untuk kebutuhan jangka panjang.
Pada sisi pertama, Pertamina terus memperkuat bisnis legacy sebagai fondasi ketahanan energi nasional. Penguatan produksi minyak dan gas menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan energi dari dalam negeri.
Dual growth menempatkan bisnis legacy dan bisnis rendah karbon

Di sektor pengolahan, optimalisasi aset kilang juga diarahkan untuk memastikan kemampuan pengolahan dan pasokan energi tetap terjaga di tengah perubahan kebutuhan dan dinamika pasar.
Namun, pertumbuhan Pertamina tidak berhenti di sana. Jalur kedua dalam strategi dual growth diarahkan untuk membangun sumber energi dan bisnis baru yang akan semakin penting di masa depan.
Salah satu fokusnya adalah pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), termasuk panas bumi dan energi surya, serta pengembangan bahan bakar nabati.
Pertamina juga mengembangkan berbagai teknologi rendah karbon yang dapat mendukung proses transisi energi, termasuk carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina memperluas sumber energi sekaligus memanfaatkan potensi domestik.
Melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE), misalnya, Pertamina mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW), terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Kapasitas tersebut setara sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional.
Dengan demikian, dual growth menempatkan bisnis legacy dan bisnis rendah karbon bukan sebagai dua pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua jalur yang berjalan bersamaan.
Bisnis eksisting menjadi fondasi untuk menjaga ketahanan energi saat ini, sementara bisnis rendah karbon dipersiapkan sebagai sumber energi dan pertumbuhan baru di masa depan.
Strategi pertamina hadapi transisi energi
Strategi dual growth Pertamina mendapat penilaian positif dari ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal.
Menurut Faisal, pendekatan tersebut tepat karena Pertamina perlu menjaga bisnis yang selama ini menjadi fondasi perusahaan, sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru seiring perubahan lanskap energi.
Ia menjelaskan lebih rinci bahwa bisnis minyak dan gas masih perlu dipertahankan karena sektor tersebut tetap memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi domestik.
Akan tetapi, pada saat yang sama, Pertamina juga perlu mengantisipasi tantangan jangka panjang karena minyak dan gas merupakan sumber energi tidak terbarukan dengan cadangan yang semakin terbatas.
Karena itu, pengembangan EBT menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
“Harus mencari sumber lain di luar migas untuk yang kaitannya dengan energi, untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan domestik yang semakin terus mengalami peningkatan sejalan dengan upaya juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” jelas Mohammad Faisal.
Ia melihat peluang tersebut semakin besar karena Indonesia memiliki potensi EBT yang beragam, mulai dari energi surya, hidro, angin hingga panas bumi. Pengembangan sumber-sumber tersebut, menurutnya, dapat menjadi arah pertumbuhan Pertamina ke depan.
Meski begitu, Faisal menilai pergeseran dari migas menuju EBT perlu dilakukan secara bertahap. Bisnis migas dapat tetap menjadi penopang selama Pertamina membangun ekosistem energi baru.
Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai safe transition. Dengan mempertahankan bisnis migas sembari meningkatkan pengembangan EBT, Pertamina dapat menghindari perubahan yang terlalu mendadak terhadap kinerja perusahaan.
Menjaga energi hari ini, membangun energi esok
Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia yang masih menghadapi tantangan ketahanan energi sekaligus harus mengejar target pengurangan emisi.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan EBT merupakan bagian dari program prioritas pemerintah untuk mendorong swasembada energi.
Menurutnya, dinamika geopolitik global dapat mengganggu rantai pasok energi dan berdampak pada kenaikan harga energi, inflasi, biaya produksi, hingga beban subsidi dan kompensasi pemerintah.
“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” kata Yuliot Tanjung saat membuka IndoEBTKE ConEx 2026.
Meski demikian, perjalanan menuju bauran energi yang lebih besar masih panjang. Kementerian ESDM mencatat bauran EBT nasional pada semester I 2026 baru mencapai 17,3 persen, sementara pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 30 persen pada 2034.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dual growth bukan sekadar strategi bisnis Pertamina, tetapi juga respons terhadap dua kebutuhan yang berjalan bersamaan.
Bisnis legacy menjaga fondasi ketahanan energi nasional hari ini, sementara pengembangan EBT membuka jalan bagi sumber energi dan pertumbuhan Pertamina di masa depan.
“Perjalanan tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan energi hari ini tetap terpenuhi sembari membangun fondasi energi masa depan menuju Net Zero Emission 2060,” kata Muhammad Baron Baron.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Fenomena geopolitik global memperlihatkan bahwa ketahanan energi tidak bisa dibangun hanya dengan mengejar sumber energi baru, sementara kebutuhan energi hari ini terus meningkat.
Di sisi lain, mempertahankan ketergantungan pada energi fosil tanpa menyiapkan alternatif juga membawa persoalan baru, terutama ketika dunia bergerak menuju ekonomi rendah karbon dan Indonesia mengejar target Net Zero Emission 2060.
Di sinilah strategi dual growth Pertamina menemukan relevansinya. Bisnis minyak dan gas tetap dibutuhkan sebagai fondasi ketahanan energi, sementara EBT dan teknologi rendah karbon menjadi ruang pertumbuhan baru.
Tantangannya bukan sekadar memilih antara migas atau energi terbarukan, melainkan bagaimana memastikan keduanya dapat dikelola dalam sebuah transisi yang aman, bertahap, ekonomis, dan semakin menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Peluangnya pun terbuka lebar. Pengembangan panas bumi, energi surya, bahan bakar nabati, CCUS, hingga hidrogen rendah karbon menunjukkan bahwa transisi energi sedang membentuk lanskap industri baru.
Kapasitas panas bumi Pertamina melalui PGE yang mencapai 1.932 MW menjadi salah satu contoh bahwa fondasi bisnis energi masa depan sudah mulai dibangun.
Bagi pelaku industri, investor, pemerintah, lembaga pembiayaan, penyedia teknologi, akademisi, dan seluruh stakeholder energi, momentum ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai agenda perubahan bauran energi. Ini adalah kesempatan untuk membangun rantai nilai industri baru di Indonesia.
Oleh karena itu, pertanyaannya kini bukan lagi apakah transisi energi akan terjadi, melainkan siapa yang paling siap mengambil peran, membangun ekosistem, dan menciptakan nilai dari perubahan tersebut. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form