Bagaimana memperkuat teknologi keamanan siber lembaga TNI AU? Huawei dan BSSN bekerja sama untuk memperkuat literasi digital dan keamanan siber TNI AU. Apa saja bentuk serangan siber?

Penulis/editor: Marinus L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Huawei (sumber): Para militer harus memperdalam pengetahuan teknologi keamanan siber agar keamanan data dan sistem pertahanan di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) lebih kuat mengadapi serantan siber yang sering terjadi belakangan ini seperti menimpa Pusat Data Nasional milik pemerintah belum lama ini.
Serangan siber terhadap militer berdampak yang sangat serius dan luas dengan bentuk serangan siber yang mengganggu operasi militer: merusak sistem komunikasi, navigasi, dan kontrol. Serangan ini dapat menghambat kemampuan militer untuk merespons ancaman dengan cepat, taktis, dan efektif.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Melalui serangan siber yang mengakibatkan pencurian data rahasia seperti rencana operasi, informasi intelijen, data persenhataan, strategi pertahanan, dan data personel. Kebocoran data sangat membahayakan keamanan nasional dan keselamatan personel militer.
Memperbaiki kerusakan akibat serangan siber dan meningkatkan sistem keamanan membutuhkan biaya yang sangat besar. Selain itu, serangan siber dapat mengganggu logistik dan rantai pasokan, yang juga berdampak pada biaya operasional.
Serangan siber pun merusak kepercayaan publik dan internasional terhadap kemampuan militer untuk melindungi negara. Ini dapat mempengaruhi hubungan diplomatik dan kerja sama internasional.
Selanjutnya, serangan siber digunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau propaganda, yang dapat mempengaruhi moral pasukan dan opini publik.
Serangan siber tak lepas dari upaya target mereka yakni merusak infrastruktur seperti jaringan listrik, sistem air, dan transportasi dapat menyebabkan kerusakan fisik dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Dan untuk menghadapi ancaman ini, militer perlu meningkatkan kemampuan pertahanan siber mereka dan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan keamanan dan kesiapan menghadapi berbagai bentuk serangan siber.
Militer menghadapi serangan siber dengan berbagai strategi dan teknologi dengan membentuk satuan khusus yang bertugas memantau, mendeteksi, dan merespons ancaman siber secara real-time
Melatih personel untuk mengenali dan merespons ancaman siber serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan siber. Bekerja sama dengan lembaga lain seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Badan Intelijen Negara (BIN), dan Kementerian Komunikasi dan Informatika demikian dikutip dari sumber.
Militer menguasai teknologi keamanan siber
Oleh sebab itu, kerja sama Huawei dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) bertujuan untuk memperkuat literasi digital dan keamanan siber di lingkungan TNI AU. Diharapkan, kerja sama itu akan memberikan kesempatan bagi para militer (peserta) untuk menguasai teknologi keamanan siber.
Menurut laman consumer.huawei.com, beberapa langkah yang dilakukan adalah pelatihan keamanan siber yang dilaksanakan oleh Huawei dan BSSN. Peserta latihan adalah personel TNI AU dan diharapkan pengetahuan dan ketrampilan mereka meningkatkan supaya lebih andal dalam menghadapi ancaman serangan siber.
Huawei menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan dan teknologi terbaru dalam keamanan siber dan untuk membangun kepercayaan digital dan memastikan keamanan serta privasi dalam interaksi dan transaksi digital.
Melalui pelatihan itu, maka perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi memunculkan tantangan baru di bidang keamanan ruang siber.
Literasi digital dan pengenalan teknologi keamanan siber terkini menjadi elemen penting dalam mengamankan ruang siber militer serta data pertahanan dan keamanan negara.
Pelatihan yang berlangsung di Gedung Pramanasala, Sekolah Komando Kesatuan TNI AU (SEKKAU) Halim Perdanakusuma, Jakarta, merupakan implementasi nota kesepahaman (MOU) antara Huawei dan BSSN dalam memperkuat kapasitas dan wawasan keamanan siber talenta digital di Indonesia, termasuk para personel militer di TNI AU.
Kepala BSSN Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian mengapresiasi dedikasi dan niat baik Huawei untuk berbagi wawasan dalam rangka penguatan literasi dan kompetensi digital di bidang keamanan siber di lingkungan TNI AU.
“Keamanan siber menjadi tanggung jawab seluruh stakeholder ekosistem digital tak terkecuali TNI AU. Pelatihan yang diinisiasi oleh Huawei ini patut diapresiasi tinggi karena bertujuan untuk menjawab tantangan keamanan siber yang kompleks dan terus berkembang,” tandas Hinsa Siburian.
Menyadari pentingnya penguatan kapasitas dan wawasan para personelnya, Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan (Dankodiklatau) Marsekal Madya (Marsdya) TNI Dr. Arif Mustofa menyambut baik pelaksanaan pelatihan keamanan siber yang digelar Huawei-BSSN.
“Upaya meningkatkan literasi keamanan siber, terkhusus di lingkungan TNI AU, amatlah penting mengingat semakin kompleksnya ancaman keamanan di era digital saat ini. Harapannya melalui peningkatan pengetahuan dan kemampuan digital ini, kita semua, termasuk personel TNI AU, dapat lebih waspada dan mampu menghadapi tantangan keamanan digital,” jelas Marsekal Madya (Marsdya) TNI Dr. Arif Mustofa.
Dengan demikian para pesertaq memahami berbagai jenis ancaman siber, cara pencegahan dan penanganan ancaman siber. Pihak Marsekal Madya (Marsdya) TNI Dr. Arif Mustofa mengapresiasi inisiatif Huawei yang mau berbagi pengetahuan dan mengenalkan solusi teknologi majunya dalam kolaborasi multi pihak ini.
TNI AU akan terus mengeksplorasi solusi inovatif terkini dalam mengantisipasi serangan siber dan menyambut jalinan kolaborasi yang produktif di masa mendatang demikiaan Marsekal Madya (Marsdya) TNI Dr. Arif Mustofa.
Kepala Dinas Informasi dan Pengolahan Data TNI Angkatan Udara (Kadisinfolahtaau) Marsekal Pertama (Marsma) TNI Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom, menambahkan, program literasi keamanan siber di lingkungan TNI AU dibutuhkan guna memperkuat kapasitas personel dalam menjaga keamanan data terkait pertahanan udara negara.
“Kerjasama Angkatan Udara dengan semua pihak, khususnya dengan sektor swasta, seperti Huawei dalam penguatan SDM di bidang keamanan siber diharapkan memberikan manfaat dan meningkatkan kapasitas building di bidang tersebut. Kami mengapresiasi inisiatif ini dan berharap kerjasama dapat terjalin semakin erat,” sambung Prof. Dr. Ir. Rudy Agus Gemilang Gultom.
Sementara itu, Syarbeni, Cyber Security and Privacy Officer (CSPO) Huawei Indonesia mengatakan, bahwa tidak hanya konektivitas antara ekonomi dan digital yang terjadi, namun aspek keamanan dan privasi juga perlu diperhatikan untuk keberlangsungan bisnis.
Untuk mewujudkan hal tersebut, peran Digital Trust Framework (DTF) dalam membangun kepercayaan pengguna dalam berinteraksi dan bertransaksi secara digital menjadi hal yang fundamental, mengingat berbagai tantangan dan risiko keamanan digital juga meningkat seiring dengan masyarakat yang semakin terdigitalisasi.
“Keamanan siber merupakan fondasi utama terbentuknya kepercayaan publik terhadap teknologi digital. Guna memperkuat fondasi tersebut, Huawei berinisiatif menjalin kolaborasi multi pihak dalam berbagi ilmu dan pengetahuan digital secara mendalam yang mencakup aspek People, Process, dan Technology,” urai Syarbeni.
Pelatihan keamanan siber yang digelar oleh Huawei dan BSSN bersama Kodiklat TNI AU merupakan gelaran perdana yang melibatkan 500 peserta. Dengan tema Menghadirkan Digital Trust in the Digital Era, Huawei dan BSSN ingin meningkatkan kewaspadaan keamanan siber untuk memperkuat kepercayaan digital publik terhadap eksosistem digital Tanah Air.
Teknologi keamanan siber bagi TNI AU mencakup berbagai alat dan teknik yang digunakan untuk melindungi sistem informasi dan jaringan dari ancaman siber. Perangkat Firewall dan Sistem Deteksi Intrusi (IDS) digunakan untuk mencegah akses tidak sah dan mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Demikian pula Enkripsi Data yang berguna untuk melindungi data sensitif selama transmisi dan penyimpanan. Dengan pelatihan dan membangun kesadaran siber maka hal itu memastikan personel memahami ancaman siber dan cara menghadapinya.
Peserta pun dilatih lebih mampu mendeteksi dan merespons ancaman secara real-time dan memastikan hanya personel yang berwenang yang dapat mengakses informasi tertentu di TNI AU.
TNI AU berperan penting dalam menjaga keamanan siber nasional dengan melakukan pengawasan dan pengendalian sistem keamanan terpadu yang terintegrasi dengan komponen bangsa lainnya.
TNI AU memberdayakan semua potensi Sumber Daya Siber Nasional (SDSN) untuk memastikan respons cepat terhadap ancaman siber tulis laman consumer.huawei.com
Perusahaan Huawei yang berdiri pada tahun 1987 (China), merupakan penyedia infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan perangkat pintar terkemuka di dunia.
Dengan solusi terintegrasi di seluruh domain utama—jaringan telekomunikasi, daya digital, perangkat pintar, dan layanan cloud – Huawei komit untuk menghadirkan digital ke setiap orang, rumah, dan organisasi untuk dunia yang sepenuhnya terhubung dan cerdas.
Sementara, Huawei Indonesia aktif sejak tahun 2000, mengembangkan ekosistem industri TIK lokal untuk menyediakan konektivitas bagi mayoritas penduduk Indonesia. Dengan dukungan 2.300 karyawan yang 90 persen di antaranya adalah orang Indonesia, Huawei menciptakan lebih dari 20.000 lapangan pekerjaan secara langsung dan tidak langsung melalui kemitraan dengan hampir 1.200 pelaku industri lokal.
Dengan berpegang teguh pada 4 pilar I Do Contribute, Collaborate, Create, Care, Huawei menempatkan diri sebagai bagian integral dari perjalanan bangsa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Kita tunggu apakah Huawei Indonesia bersedia melakukan pelatihan bagi para jurnalis di Indonesia.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form