Bagaimana cara pengembangan panas bumi yang dilakukan oleh Pertamina Geothermal Energy agar perusahaan pelat merah ini lebih cepat melaju menuju NZE 2060? Kolaborasi dan penerapan teknologi tandas.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (sumber): Salah satu cara untuk mempercepat pengembangan panas bumi di Indonesia adalah melakukan kolaborasi dan penerapan inovasi teknologi demikian tekad PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) yang disampaian oleh Julfi Hadi orang nomor satu di PGE.
Pengembangan energi panas bumi di Indonesia menjadi fokus utama untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai salah satu pemain utama dalam industri ini, melakukan inovasi dan berkolaborasi untuk mempercepat transisi energi hijau.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Panas bumi merupakan energi hijau yang paling layak untuk dikembangkan sebagai tulang punggung transisi energi nasional guna mendukung agenda transisi energi nasional dan pencapaian Net Zero Emission (NZE) 2060.
Upaya percepatan pengembangan panas bumi akan menarik investasi, mendorong pengembangan teknologi di dalam negeri, dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.
Pesan mengenai pentingnya peran energi panas bumi ini telah disampaikan oleh maajemen PGE pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) yang berlangsung di Jakarta belum lamaa ini.
Tekad itu kembali digaungkan pada pameran The 10th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada 18 – 20 September 2024.
Direktur Utama PGE, Julfi Hadi menyampaikan bahwa Indonesia memiliki total potensi panas bumi sebesar 24 GW, setara dengan 17 persen cadangan global dan terbesar kedua di bawah Amerika Serikat.
Sebagian besar Cadangan itu merupakan sumber daya berkualitas tinggi atau termasuk kategori high enthalpy (bersuhu tinggi) yang sangat sesuai untuk pembangkit kelistrikan di Indonesia.
Pemanfaatan 30 persen saja dari potensi energi panas bumi Indonesia tersebut akan mampu memperkuat ketahanan energi nasional. Karena itu, diperlukan upaya percepatan pengembangan energi panas bumi demikian Julfi Hadi.
Menurut perhitungan Julfi Hadi, untuk mencapai target bauran energi nasional pada tahun 2033 dibutuhkan penambahan kapasitas terpasang 4,4 GW yang diperkirakan akan menarik investasi sebesar USD27–28 miliar.
Untuk setiap investasi sebesar USD1 di sektor bisnis energi hijau seperti panas bumi akan menghasilkan peningkatan Produk Domestik Bruto sebesar USD1,25 yang memberikan manfaat berganda secara signifikan bagi ekonomi Indonesia.
PGE mempercepat pengembangan panas bumi
“Tak hanya itu, diperkirakan 70-100 lapangan kerja akan tercipta untuk setiap USD1 juta yang diinvestasikan di sektor panas bumi,” papar Julfi Hadi belum lama ini.
Julfi Hadi menekankan bahwa panas bumi adalah sumber energi terbarukan yang stabil, andal, dan berperan penting dalam mendukung transisi energi Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi konvensional.
Panas bumi memiliki dua karakteristik penting untuk mendukung peran tersebut. Pertama, potensi panas bumi di Indonesia sebagian besar (70-80 persen) berada di wilayah yang memiliki kebutuhan energi listrik terbesar, yaitu Jawa dan Sumatra.
Oleh karena itu, pengembangan energi panas bumi secara langsung mampu memenuhi kebutuhan energi hijau Indonesia seiring dengan bertumbuhnya ekonomi.
Kedua, selain tidak bersifat intermittent, dalam memberikan pasokan listrik secara terus-menerus, pembangkit panas bumi memiliki capacity factor sekitar 90 persen yang berarti efisiensi sangat tinggi antara kapasitas terpasang dan daya listrik aktual yang mampu dibangkitkan.
Karakteristik ini menjadikan panas bumi memiliki potensi besar sebagai energi hijau yang menjadi pemikul beban dasar kelistrikan atau green baseload di masa depan tutur Julfi Hadi.
Meski potensinya sangat besar, saat ini baru 2,6 GW atau sekitar 11 persen dari sumber daya panas bumi Indonesia yang telah dimanfaatkan. Data itu menunjukkan masih banyak ruang dan peluang untuk masa depan, termasuk mengembangkan ekosistem investasi panas bumi.
“Penting untuk menarik investasi dari perusahaan manufaktur panas bumi, baik di sektor hulu maupun hilir, agar mereka datang ke Indonesia dan membangun kapasitas manufaktur di sini,” tutur Gigih Udi Atmo, Direktur Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Gigih Udi Atmo melakukan diskusi panel ISF bersama PGE bahwa Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mencapai target NZE 2060. Semua sumber energi baru dan terbarukan, termasuk panas bumi, harus dioptimalkan potensinya.
Gelaran IIGCE 2024 yang bertema Powering Together: Stakeholder Unity in Geothermal Innovation & Acceleration merupakan forum penting dalam menggalang kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi.
Julfi Hadi menggarisbawahi bahwa periode satu dekade ke depan sangat krusial bagi pelaku industri panas bumi, mengingat pencapaian target kapasitas panas bumi 7 GW pada tahun 2033 sesuai target bauran energi nasional membutuhkan penambahan kapasitas terpasang 400-500 MW per tahun.
PGE berhasil mengidentifikasi potensi panas bumi sebesar 24 GW di Indonesia atau setara dengan 17 persen cadangan global. Dengan memanfaatkan hanya 30 persen dari potensi itu, maka Indonesia mampu memperkuat ketahanan energi nasional.
Bahkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. PGE berfokus pada pengembangan wilayah kerja panas bumi di Jawa dan Sumatra yang memiliki kebutuhan energi listrik terbesar.
Selain itu, PGE juga menjalin kemitraan strategis untuk meningkatkan efisiensi eksplorasi dan transfer teknologi. PGE menggunakan berbagai teknologi canggih untuk mengatasi tantangan eksplorasi dan pengembangan panas bumi.
Contonya teknologi seperti Remotely Operated Vehicles (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicles (AUV) digunakan untuk survei dan pemetaan dasar laut.
Selain itu, metode geofisika seperti magnetotellurik dan seismik refleksi membantu dalam mendeteksi struktur bawah permukaan dan anomali yang terkait dengan sistem panas bumi demikian kutipan dari indef.or.id.
Pengeboran laut dalam dengan rig khusus memungkinkan akses ke reservoir panas bumi yang dalam dan sulit dijangkau.
Oleh sebab itu, pihak PGE melakukan langkah strategis dengan menjalin kemitraan untuk meningkatkan efisiensi eksplorasi, transfer teknologi, dan pengembangan rantai pasok domestik.
Bagaimana mencapai target NZE 2060? Salah satu yang sebaknya dilakukan oleh PGE adalah meningkatkan efisiensi dan inovasi-inivasi baru dalam pengembangan panas bumi.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat sangat penting untuk mengatasi tantangan dan memaksimalkan potensi energi panas bumi di Indonesia.
Dengan kapasitas dan sumber daya yang besar, serta peta jalan strategis untuk memanfaatkan potensi cadangan 3 GW panas bumi di wilayah operasinya, PGE optimistis dapat menjadi pemimpin utama dalam mempercepat transisi energi nasional tandas Julfi Hadi, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form