Wednesday
07 October 2026

Ekonomi Indonesia 2026 Tetap Tangguh di Tengah Geopolitik Global DBS

Research menyoroti prospek ekonomi Indonesia 2026 yang tetap solid di tengah tekanan geopolitik dan volatilitas energi global. Simak strategi menjaga stabilitas inflasi, investasi, dan daya beli domestik.

William Simadiputra, Head of Research Indonesia DBS Group Research (kiri) dan Radhika Rao, Senior Economist DBS Bank, menyoroti prospek makro ekonomi, ketahanan energi, dan domestik jadi penopang penting pertumbuhan nasional. DBS Group bermarkas utama di Singapura (Foto/@: DBS Bank/AI)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmIDUSTRI.co.id – DBS Research (sumber): Di tengah eskalasi geopolitik global dan fluktuasi harga energi dunia, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat dengan pertumbuhan mencapai 5,6 persen year-on-year (yoy) pada kuartal pertama 2026.

Demikian DBS Research yang menilai bahwa fundamental domestik masih solid ditopang konsumsi rumah tangga, stimulus fiskal, serta investasi yang tetap tumbuh positif.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Akan tetapi, risiko eksternal seperti kenaikan harga energi, tekanan nilai tukar Rupiah, dan volatilitas pasar keuangan global diperkirakan akan menjadi tantangan utama pada semester kedua 2026.

Di tengah dinamika global, menjaga daya beli domestik juga menjadi prioritas utama untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, dunia usaha perlu mengantisipasi potensi kenaikan biaya produksi seiring volatilitas harga energi global.

Bank DBS Indonesia menegaskan posisinya sebagai mitra tepercaya dalam membekali pasar dengan wawasan terkini untuk menyikapi kondisi makroekonomi dan industri yang penuh volatilitas.

Pemaparan komprehensif dari DBS Research bertujuan untuk mendukung masyarakat dalam menavigasi situasi dengan baik serta mengambil keputusan yang lebih tepat, berdampak, dan berkelanjutan.

Antisipasi fundamental yang solid

Di tengah eskalasi geopolitik global dan fluktuasi harga energi, ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan kuat dengan pertumbuhan sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama 2026. Angka ini membuktikan pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022.

DBS Group Research menilai fundamental ekonomi Indonesia pada awal tahun masih sangat solid, meski tantangan volatilitas global pada semester kedua 2026 tetap perlu diantisipasi secara hati-hati.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun didorong oleh konsumsi domestik yang tetap kuat, stimulus fiskal pemerintah, peningkatan belanja negara, serta momentum musiman selama periode hari besar keagamaan.

Konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh hingga 7 persen yoy, sementara investasi tetap solid di kisaran 6 persen yoy.

Menurut Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao bahwa Indonesia memulai 2026 dengan fondasi ekonomi yang positif, namun risiko eksternal membuat proyeksi pertumbuhan tahunan perlu disesuaikan.

“Indonesia memasuki 2026 dengan percaya diri didukung fundamental yang kuat. Namun, proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen (dari sebelumnya 5,3 persen) guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar Rupiah,” papar Radhika Rao.

DBS Research menilai kuartal pertama 2026 kemungkinan menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Ke depan, aktivitas ekonomi juga diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi global, volatilitas pasar keuangan, serta kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

Stabilitas makro dan konsistensi kebijakan menjadi kunci

Stabilitas makroekonomi menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global saat ini. Sejalan dengan pemaparan DBS Research, diperlukan pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan komunikasi kebijakan yang konsisten dalam menjaga stabilitas pasar.

Dari sisi pengambil kebijakan, pemerintah diperkirakan tetap berupaya menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen terhadap PDB melalui pengendalian belanja, efisiensi program prioritas, serta optimalisasi penerimaan negara.

Selain itu, implementasi kebijakan yang konsisten, termasuk pelaksanaan Undang-Undang Cipta Kerja dan harmonisasi regulasi pusat-daerah, dinilai penting untuk menciptakan kepastian usaha dan meningkatkan kepercayaan investor.

Menjaga stabilitas makroekonomi tetap menjadi faktor kunci dalam menopang pertumbuhan nasional, terutama melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal yang konsisten.

Kepastian serta konsistensi regulasi, didukung komunikasi kebijakan yang jelas dan dapat diprediksi, akan menjadi faktor penting dalam menjaga sentimen pasar dan meningkatkan daya tarik investasi.

Melihat situasi tersebut, langkah strategis yang dapat dilakukan meliputi:

Stabilitas makroekonomi perlu dijaga melalui pengendalian inflasi dan disiplin fiskal.

Menjaga daya beli domestik tetap menjadi prioritas utama untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah perlu memastikan stimulus fiskal tetap tepat sasaran dan berkelanjutan.

Pelaku usaha disarankan mulai mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global pada semester kedua 2026.

Kepastian dan konsistensi regulasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan daya tarik investasi.

Komunikasi kebijakan yang jelas dan dapat diprediksi penting untuk menjaga sentimen pasar.

Hilirisasi dan ekosistem EV dinilai menjadi motor pertumbuhan jangka panjang

Di tengah ketidakpastian global, DBS Research menilai sektor-sektor berbasis nilai tambah tetap menjadi daya tarik utama investasi Indonesia, terutama ekosistem kendaraan listrik (EV), hilirisasi nikel, energi terbarukan, dan pembangunan infrastruktur.

Selanjutnya, Head of Research Indonesia, DBS Group Research, William Simadiputra menegaskan bahwa konsistensi arah kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga minat investor asing.

“Sektor EV ecosystem, pengolahan nikel, energi terbarukan, dan infrastruktur tetap menjadi pilar kekuatan pertumbuhan. Konsistensi kebijakan hilirisasi akan menjadi magnet utama bagi investor asing di tengah ketidakpastian yang terjadi,” demikian William Simadiputra,.

DBS Research juga mencatat bahwa kredit investasi masih tumbuh positif, terutama di sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Hal ini menunjukkan minat investasi domestik masih relatif terjaga meski pasar keuangan global bergejolak.

DBS Research menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi prospek ekonomi global dan Indonesia. Risiko gangguan distribusi energi global dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Dalam skenario dasar, harga minyak diperkirakan berada di kisaran USD80–85 per barel. Dalam skenario ekstrem, gangguan distribusi global berpotensi mendorong harga minyak melonjak hingga USD100–150 per barel.

Selain harga energi, pelemahan nilai tukar Rupiah, kenaikan harga produsen (PPI), dan risiko cuaca akibat El Nino juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan tekanan harga dalam beberapa kuartal mendatang.

DBS Research menilai Bank Indonesia akan semakin fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan likuiditas pasar di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Meski suku bunga acuan masih dipertahankan, arah kebijakan moneter dinilai cenderung lebih hawkish.

Selanjutnya, DBS Research menilai penguatan institusi dan reformasi pasar keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia. Reformasi pasar modal, penguatan kepastian hukum, dan peningkatan tata kelola dinilai menjadi perhatian utama investor global.

Indonesia dinilai perlu memperdalam pasar modal domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap aliran dana asing melalui penguatan peran investor lokal, termasuk dana pensiun domestik, manajer investasi lokal, dan Danantara sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

Di sisi keberlanjutan, pengembangan energi terbarukan dan proyek waste-to-energy (WTE) dinilai dapat memperkuat kredibilitas environmental, social, and governance (ESG) Indonesia di mata investor global.

Intisari utama dapat diterapkan

Stabilitas inflasi dan nilai tukar Rupiah tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar, sehingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus diperkuat.

DBS Research menilai terdapat beberapa langkah penting yang perlu menjadi prioritas Indonesia ke depan yang meliputi:

Stabilitas inflasi dan nilai tukar Rupiah menjadi faktor krusial menjaga kepercayaan pasar dan pemerintah dan Bank Indonesia perlu memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Sementara, dunia usaha perlu mengantisipasi risiko kenaikan biaya produksi akibat harga energi global, dan konsistensi kebijakan hilirisasi perlu terus dijaga untuk mempertahankan daya tarik investasi.

Percepatan pengembangan ekosistem EV dan energi terbarukan dapat menjadi sumber pertumbuhan baru Indonesia. Juga, keberlanjutan proyek infrastruktur strategis menjadi indikator penting kepercayaan investor jangka panjang.

Kedua pembicara menyarankan bahwa reformasi pasar modal dan penguatan institusi perlu dipercepat untuk meningkatkan kepercayaan investor. Demikian juga peran investor domestik perlu diperbesar untuk menciptakan stabilitas pembiayaan jangka panjang.

Penguatan agenda ESG dan transisi energi dapat menjadi katalis investasi berkelanjutan di masa depan.

DBS Research menilai Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global.

Selanjutnya, keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi nasional akan sangat ditentukan oleh konsistensi kebijakan, penguatan daya beli domestik, reformasi pasar keuangan, serta kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi risiko energi dan geopolitik secara pro-aktif. #SalamSobatmmINDUSTRI

 

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik