Perusahaan Bluewater kabarkan bahwa air keran global terancam kontaminasi berdasarkan hasil temuan di Amerika Serikat (AS). Apakah air minum di Indonesia juga terkontaminasi, mengingat Indonesia sebagai penghasil limbah plastik terbesar ke-2 di dunia?

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Bluewater (sumber): Data air keran yang beracun atau terkontaminasi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) mengusik perhatian produsen air minum Bluewater yang bermarkas di Stockholm, Swedia.
Data yang mengejutkan yang betasal dari Badan Perlindungan Lingkungan atau Environmental Protection Agency (EPA) mengungkapkan bahwa lebih dari 158 juta warga di Amerika Serikat—hampir separuh populasi AS—kini terpapar senyawa PFAS beracun.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Bahan Toxic PFAS compounds yang dikenal luas sebagai “bahan kimia abadi” yang terdapat dalam air minum masyarakat di AS.
Meskipun temuan yang mengkhawatirkan itu disorot oleh Kelompok Kerja Lingkungan (EWG) di Washington dan memicu kekhawatiran di Amerika Serikat, namun hal itu justru menjadi perhatian bagi Bluewater pelopor teknologi pengolahan air terkemuka di dunia.
Bluewater memperingatkan peristiwa itu bukan hanya krisis air keran (minum) yang menimpa AS. Ancaman yang sama juga terjadi pada air keran dan air minum kemasan di seluruh dunia, termasuk Indonesia (?).
“Perlu diperjelas, apa yang terjadi di AS hanyalah puncak gunung es—temuan itu adalah ancaman global terhadap kesehatan masyarakat,” ungkap Bengt Rittri, pendiri dan CEO Bluewater. “Dari bahan kimia abadi hingga partikel plastik, air minum kita sedang terancam. Dunia tidak bisa lagi mengabaikannya.”
PFAS atau zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil adalah bahan kimia sintetis yang digunakan dalam aplikasi industri dan produk konsumen seperti peralatan masak antilengket, busa pemadam kebakaran, dan kemasan makanan.

PFAS tahan terhadap degradasi dan terakumulasi di lingkungan maupun tubuh manusia, menimbulkan risiko ancaman kanker, gangguan hormonal dan reproduksi, penekanan sistem kekebalan tubuh, dan bahaya perkembangan pada bayi dan anak-anak.
Data terbaru yang dirilis oleh EPA menggarisbawahi skala masalah di AS, dan hasil studi di seluruh Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika Latin justru mengonfirmasi adanya kontaminasi PFAS di sungai, waduk, dan bahkan terjadi dalam air minum kemasan.
Di Eropa, penelitian yang dilakukan oleh PAN Europe menemukan asam trifluoroasetat atau trifluoroacetic acid (TFA)—produk pemecahan PFAS—dalam 94 persen sampel air keran dari 11 negara di Uni Eropa.
Kawasan industri yang sedang berkembang di Afrika mengalami kontaminasi serupa, terutama di Afrika Selatan, Nigeria, dan Ghana, di mana kesenjangan regulasi dan infrastruktur air limbah yang usang memperparah risiko tersebut.
Ancaman tak terlihat masuk dalam tiap kemasan air
Bersamaan dengan PFAS, mikroplastik—pecahan plastik kecil dari kain sintetis, kemasan, ban bekas, dan produk perawatan pribadi—berubah menjadi kontaminan global yang mengkhawatirkan.
Partikel-partikel itu seringkali berukuran kurang dari 5 milimeter, telah ditemukan di lebih dari 80 persen sampel air keran global (berdasarkan tinjauan WHO tahun 2024); 93 persen merek air minum kemasan terkemuka, menurut hasuk penelitian Orb Media.
Darah manusia, plasenta, paru-paru, dan ASI—menimbulkan tanda bahaya tentang bioakumulasi dan dampak kesehatan jangka panjang
“Kita minum plastik – secara harfiah,” kata Bengt Rittri, CEO Bluewater. “Dan karena mikroplastik mengandung bahan kimia beracun seperti BPA, ftalat, dan bahkan PFAS di permukaannya, implikasi terhadap kesehatan kemungkinan jauh lebih besar daripada yang kita pahami saat ini.”
Oleh karena itu, Bluewater melakukan pemurni air bawah wastafel kompak dengan menggunakan teknologi reverse osmosis generasi kedua perusahaan untuk memberikan air bersih kepada penggunanya.
Reverse osmosis (RO) adalah standar emas untuk memurnikan air keran, menghilangkan hingga 99 persen kontaminan seperti logam berat, bahan kimia, bakteri, dan mikroplastik.
Teknologi SuperiorOsmosis™ milik Bluewater membawa RO lebih jauh – menawarkan solusi generasi kedua yang meningkatkan pemulihan air, mengurangi penggunaan energi, dan mengurangi air limbah.
Cara Bluewater adalah peningkatan yang ampuh dan berkelanjutan untuk rumah dan bisnis. Teknologi Bluewater SuperiorOsmosis™, tersedia dalam sistem konsumen dan komersial, telah diuji dan diverifikasi secara independen untuk:
Menghilangkan hingga 99,99 persen senyawa PFAS
Efektif menghilangkan mikroplastik hingga tingkat submikron
Menyaring logam berat, farmasi, klorin, nitrat, dan lainnya
Pemurni air berkinerja tinggi Bluewater digunakan di rumah, sekolah, kantor, restoran, hotel, dan acara olahraga besar di lebih dari 50 negara.
Tidak seperti filter tradisional, sistem Bluewater menggabungkan osmosis terbalik, karbon aktif, dan pemurnian membran canggih untuk kinerja tak tertandingi – tanpa biaya lingkungan seperti botol air plastik.
“Dengan Bluewater, orang-orang dapat kembali mengendalikan air yang mereka minum,” jelas Bengt Rittri pendiri Bluewater itu. . “Misi kami adalah mewujudkan air minum yang bersih dan aman – baik Anda tinggal di Stockholm atau São Paulo, Paris, Cape Town, atau Los Angeles.”
Indonesia penghasil limbah plastik terbesar kedua
Bluewater mendesak pemerintah, otoritas air, bisnis, dan individu untuk menangani krisis air global dengan urgensi yang dibutuhkan:
Pemerintah harus memperkenalkan atau memperketat regulasi PFAS dan mikroplastik.
Perusahaan air minum membutuhkan investasi untuk memodernisasi pengujian dan pengolahan.
Konsumen harus mengambil langkah-langkah untuk melindungi rumah tangga mereka menggunakan teknologi pemurnian yang terverifikasi – dan menuntut akuntabilitas dari para pencemar.
“Akses terhadap air minum bersih bukanlah kemewahan. Itu adalah hak asasi manusia,” Bengt Rittri menegaskan. “Dan itu adalah hak yang harus kita perjuangkan bersama-sama.”
Kapan Bengt Rittri menjelaskan pandangannya di Indonesia sebelum masalah air minum di Indonesia masuk kategori krusial.
Indonesia sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia menghadapi dampak serius terhadap kualitas lingkungan seperti kualitas air keran dan air minum kemasan. Menurut rangkuman beberapa sumber, berikut dampak utama yang perlu kita perhatikan.
Mikroplastik merupakan potongan plastik kecil (<5 mm) yang berasal dari degradasi limbah plastik atau dari produk seperti kosmetik dan pakaian sintetis.
Dampaknya adalah mikroplastik ditemukan dalam air keran dan air minum kemasan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Studi (dilakukan oleh Orb Media dan Universitas Indonesia) menunjukkan sebagian besar sampel air keran dan air minum kemasan di Indonesia terkontaminasi mikroplastik.
Konsumsi mikroplastik jangka panjang masih diteliti, tapi berpotensi berdampak pada kesehatan manusia, seperti gangguan hormon atau efek toksik dari bahan kimia yang melekat di permukaan plastik.
Penurunan kualitas air baku yakni sumber utama air yang diolah menjadi air minum. Plastik di sungai dan danau membusuk perlahan, melepaskan zat kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol A) atau ftalat ke dalam air.
Dampaknya: memperburuk kualitas air sungai, danau, dan waduk yang menjadi sumber PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Meningkatkan biaya dan kompleksitas pengolahan air namun tetap tidak menjamin air bebas dari kontaminan mikroskopis seperti mikroplastik.
Dampak terhadap air minum kemasan: Banyak air minum kemasan (terutama dalam botol plastik) juga terpapar kontaminasi dari kemasannya sendiri dan proses produksinya.
Botol plastik yang dipanaskan (misalnya terpapar sinar matahari saat distribusi) bisa melepaskan zat kimia berbahaya ke air. Mikroplastik sering kali ditemukan dalam air galon isi ulang, botol air kemasan, dan bahkan produk air premium.
Ancaman kesehatan jangka panjang: Penelitian masih berlangsung, tapi ada indikasi mikroplastik dapat masuk ke aliran darah, paru-paru, dan bahkan plasenta manusia.
Solusi dan upaya pengurangan risiko dengan filtrasi air keran: Gunakan filter air rumah tangga dengan teknologi ultrafiltrasi atau reverse osmosis.Kurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, beralih ke botol kaca atau stainless steel.
Daur ulang dan edukasi masyarakat untuk mengurangi sampah plastik dari sumbernya dan dukung kebijakan pemerintah seperti pelarangan kantong plastik di beberapa kota besar dan penerapan Extended Producer Responsibility (EPR).
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form