Wednesday
07 October 2026

Gangguan Kesehatan dari Asap Rokok Elektrik

Apa gangguan kesehatan yang disebabkan rokok elektrik? Perokok eletrik terus meningkat di perkotaan dan pedesaan di Indonesia: usia penikmat asap e-cigarette ini masih muda belia.

Para peneliti di Fraunhofer ITEM menggunakan prototipe EVape yang dipatenkan untuk menguapkan cairan elektronik dalam kondisi terkendali guna menganalisis emisi yang dihasilkan selama proses dan kemudian melakukan penilaian toksikologi terperinci tentang vape atau rokok elektrik (Foto/©: Fraunhofer ITEM/Ralf Mohr)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer ITEM (sumber): Bukan hanya tembakau yang menyebabkan gangguan kesehatan bagi perokok dan perokok pasif. Selama ini, rokok elektrik atau e-cigarette pada umumnya dianggap kurang berbahaya bagi kesehatan manusia dibandingkan rokok tembakau.

Akan tetapi, rokok elektrik memiliki potensi yang mengganggu kesehatan. Banyak bahan yang tidak kita ketahui bagaimana reaksi bahan rokok elektronik itu ketika dipanaskan atau dibakar saat perokok/pengguna mengonsumsi.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Kenyataannya, suhu di dalam rokok elektrik bervariasi yang menyebabkan beragam  produk mudah terlepas selama penguraian termal. Di dalam rokok elektrik terdapat e-liquid yakni cairan yang digunakan dalam rokok elektronik atau vape. Bahan e-liquid mengandung nikotin, propilen glikol (PG), gliserin (VG), dan berbagai aroma.

Ketika rokok elektrik itu dipanaskan oleh elemen pemanas dalam vape, maka  e-liquid menguap dan menghasilkan asap yang mudah dihirup oleh pengguna atau perokok.  Untuk meminimalisai dampak gangguan kesehatan yang disebabkan rokok elektrik maka para ahli membuat alat  EVape –hasil penelitian dari Fraunhofer Institute for Toxicology and Experimental Medicine ITEM.

Lembaga yang menangani toksikologi dan eksperimen kedokteran itu mengembangkan perangkat prototipe untuk penguapan yang terkontrol atas cairan elektrik dalam rentang suhu yang luas. Emisi yang dilepaskan selama proses tersebut kemudian dapat dianalisis dan dikenakan penilaian toksikologi. Temuan ini secara umum valid, terlepas dari jenis rokok elektrik yang digunakan oleh perokok.

EVape merupakan prototipe perangkat yang dikembangkan oleh Fraunhofer Institute for Toxicology and Experimental Medicine ITEM. Bagaimaa para peneliti melakukan percobaan mereka?

– E-liquid dimasukkan ke dalam EVape.

– Perangkat memanaskan e-liquid pada rentang suhu yang luas.

– Selama proses pemanasan, e-liquid menguap dan menghasilkan asap.

– Emisi asap ini kemudian dianalisis secara toksikologi untuk mengevaluasi potensi risiko terhadap kesehatan perokok elektrik.

Tim peneliti mengakui sulit mengukur potensi risiko alternatif tembakau elektronik oleh karena hingga saat ini, belum ada sistem pengujian yang dapat digunakan untuk menguji bahan yang digunakan pada seluruh rentang suhu yang relevan.

Meminimalisasi gangguan kesehatan

Rokok elektrik atau vape semakin populer dan sangat mudah dicari di berbagai tempat seperti supermarket, kios, dan pom bensin di perkotaan dan pedesaan. Tersedia banyak pilihan, yang mencakup berbagai model, rasa atau sensasi, dan cairan guna memenuhi pencari sensasi dari asap.

Banyaknya varian membuat sulit untuk menilai risiko gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh rokok elektrik atau e-cigarette secara umum. Berdasarkan Ordonansi Produk Tembakau Jerman (Tabakerzeugnisverordnung, TabakerzV), cairan yang digunakan dalam rokok elektrik tidak boleh menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, baik saat dipanaskan maupun tidak.

Akan tetapi, untuk banyak bahan, tidak diketahui bagaimana bahan akan berperilaku saat dipanaskan atau dihisap.

Penguapan cairan dapat melepaskan komponen yang bermasalah dari sudut pandang kesehatan—terutama jika mengandung zat yang dianggap aman saat dikonsumsi secara oral atau dihirup tetapi terurai menjadi zat lain dengan profil toksikologi yang berpotensi mengkhawatirkan saat dipanaskan.

Penelitian lebih lanjut dan mendalam diperlukan untuk mengetahui  sejumlah aditif dan perasa makanan yang dimaksudkan untuk meningkatkan rasa rokok elektrik, yang sebagian besar terbuat dari gliserin, propilen glikol, dan nikotin.

“Nikotin stabil saat terkena suhu tinggi. Struktur molekulnya tetap terjaga saat dipanaskan hingga 500 derajat Celsius. Namun, aditif lainnya berbeda. Salah satu contohnya adalah sukralosa, pemanis yang juga digunakan dalam e-liquid, atau jus vape,” tutur Dr. Stefanie Scheffler, seorang ilmuwan di Fraunhofer ITEM di Hannover, Jerman.

Sukralosa sensitif terhadap suhu. Bahan ini terurai hanya pada 120 derajat Celsius dan membentuk zat yang bersifat karsinogenik. Oleh  sebab itu, semakin banyak produsen e-liquid yang menghilangkannya dari produk mereka demikian Dr. Stefanie Scheffler melanjutkan.

Ia dan timnya berupaya meningkatkan keamanan konsumen untuk rokok elektrik, karena banyak zat aditif yang belum diteliti secara memadai.

Sepertu dijelaskan di atas bahwa bahan baku rokok elektronik  tidak lepas dari nikotin dalam bentuk zat adiktif yang terdapat dalam e-liquid. Selanjutnya, propilen glikol yang digunakan sebagai pengencer untuk menghasilkan sensasi saat asap melewati tenggorokan.

Sedangkan gliserin (VG) yang menghasilkan asap tebal dan memberikan rasa manis disertai aroma yang juga bermacam aroma seperti buah, menthol, dan sebagainya.

Dirangkum dari beberapa sumber, gangguan kesehatan atau risiko kesehatan bagi perokok elektronik tidak lepas dari efek terhadap paru-paru meskipun lebih sedikit berbahaya daripada rokok tembakau, namun vape tetap menyebabkan iritasi paru-paru yang mengganggu fungsi pernapasan.

Menurut Survei Kesehatan Indonesia (kemkes.go.id) pada 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah perokok aktif di Indonesia diperkirakan mencapai 70 juta orang, dan dari jumlah tersebut, sebanyak 7,4 persen adalah perokok yang berusia 10-18 tahun masih muda belia.

Sementara itu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2022, sekitar 2,76 persen penduduk Indonesia usia 5 tahun ke atas  mengonsumsi rokok elektrik setiap hari. Sedangkan populasi konsumen rokok elektrik lebih besar di perkotaan dengan persentase 2,81 persen dan di perdesaan mencapai 2,7 persen.

Jumlah perokok elektrik di Indonesia terus meningkat, meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan perokok tembakau. Oleh sebab itu, para pihak periu berupaya untuk melakukan pencegahan dan edukasi mengenai dampak gangguan kesehatan dari merokok dan penggunaan rokok elektrik.

Bagaimana cara meminimalisasi gangguan kesehatan yang disebabkan asap rokok elektrik? Bagaimana alat EVape memastikan penguapan   kondisi yang terkendali sehingga asap rokok eltrik tidak menggangu kesehatan?


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



2
FOLLOW US
  • Rubrik