ALAT PERTAHANAN (1)

Perancis Tawarkan Transfer Teknologi

0
15
Jet tempur Dassault Rafale yang ditawarkan siap transfer teknologi meski Indonesia membeli beberapa unit tidak seperti Rusia yang menganggap pembelian 8-12 unit jet tempur Sukhoi-35 terlalu sedikit, jika Indonesia menginkan produksi bersama. Nah, kenapa tidak membeli jet Rafale saja? (Sumber foto: http://dimasbagus.web.id/)

Produk turunan kelapa sawit dan produk kayu Indonesia didiskiriminasi di Perancis dan Eropa. Miliaran dolar kita gunakan untuk membeli teknologi dan rekayasa mereka.

Jet tempur Dassault Rafale yang ditawarkan siap transfer teknologi meski Indonesia membeli beberapa unit tidak seperti Rusia yang menganggap pembelian 8-12 unit jet tempur Sukhoi-35 terlalu sedikit, jika Indonesia menginkan produksi bersama. Nah, kenapa tidak membeli jet Rafale saja? (Sumber foto: http://dimasbagus.web.id/)
Jet tempur Dassault Rafale yang ditawarkan siap transfer teknologi meski Indonesia membeli beberapa unit tidak seperti Rusia yang menganggap pembelian 8-12 unit jet tempur Sukhoi-35 terlalu sedikit, jika Indonesia menginkan produksi bersama. Nah, kenapa tidak membeli jet Rafale saja? (Sumber foto: http://dimasbagus.web.id/)

Kunjungan Presiden Perancis Francois Gerard Georges Nicolas Hollande bersama sejumlah parlemen, dan 40 pengusaha menarik kita cermati. Dalam 31 tahun, Monsieur Hollande merupakan presiden yang mengunjungi Indonesia. Tiap kunjungan kenegaraan tentu saja tak lepas dari aspek bisnis.

Para pebisnis dari negeri anggur itu berkomit menggelontorkan US$2,6 miliar untuk membiayai proyek yang mereka minati  antara lain, bidang energi, retail, dan infrastuktur. Sesuai dengan kompetensi dan keunggulan teknologinya, Perancis menawarkan teknologi  pertahanan seperti jet tempur dan kapal selam.

Advertisement

Maklum, belakangan ini Indonesia membeli beberapa jet tempur  Sukhoi-35 dari Rusia dan melirik jet tempur buatan Korea Selatan. Sebelumnya, Indonesia membeli jet tempur dari paman Sam, tapi Amerika Serikat (AS) kadang mengaitkan bisnis dengan hak azasi manusia (HAM)—seolah AS dewanya HAM.

Di hadapan Presiden Hollande dan Presiden Joko Widodo, nota kesepakatan diteken oleh pejabat kedua negara. Para investor Perancis berkormit menanamkan modal di berbagai bidang seperti pembangunan perkotaan,  melakukan riset bersama di bidang ilmu pengetahun dan teknologi  muliputi nano, informasi, teknologi pangan,  dan pengembangan energi kemaritiman. Termasuk kerja sama kepariwisataan dan ekonomi kreatif seperti sinematografis, perfilman, fesyen, dan ekonomi digital.

Sekadar catatan, nilai perdagangan Perancis-Indonesia pada tahun 2016 mencapai US$2,34 miliar tentu saja defisit bagi Indonesia. Kita hanya mengandalkan produk  hasil bumi—tidak setara dengan produk teknologi yang direkayasa dan memiliki added-value yang besar.

Pada tahun 2016,  Perancis menanamkan  US$109 juta untuk membiayai 424 proyek di Indonesia. Sektor yang mereka garap meliputi perdagangan dan reparasi, transportasi dan gudang (logistik), komunikasi, kelistrikan, sektor gas, air, industri makanan,  industri dan produk kimia, dan farmasi.

Jangan seperti Renault dan PSA Peugeot

Yang masih mengganjal, produk turunan kelapa sawit (crude palm oil) dan kayu Indonesia kurang begitu lancar masuk pasar Perancis. Bahkan pasar Eropa masih diskriminatif terhadap produk kelapa sawit dan produk kayu asal Indonesia. Mereka tentu punya alasan, bisa saja melindungi pebisnis mereka. Produk turunan COP misalnya, bisa digantikan dari tanaman bunga matahari dan tumbuhan jenis lainnya yang beragam di Perancis dan Eropa.

Akan tetapi, Monsieur Francois Hollande berjanji kepada Presiden Joko Widodo. Dia membantu agar produk kelapa sawit dan produk kayu asal Indonesia mudah masuk ke Eropa melalui Perancis. Niat baik itu terbukti setelah pajak progresif atas prodok kelapa sawit dibatalkan. Apakah Perancis akan memberikan lisensi FLEG-T yang dibutuhkan produk kayu asal Indonesia agar mudah dipasarkan di Perancis dan Eropa?

Negara-negara maju pelit membocorkan rahasia teknologi mereka. Namun, di luar dugaan, Perancis secara terbuka menawarkan transfer teknologi atau alih teknologi jika Indonesia membeli jet-jet tempur Dassault Rafale dengan mesin yang dinamai Indonesian Fighter Experiment (IFX). India telah membeli 126 jet tempur Rafale buatan perusaaan Dassault Aviation seharga US$12 miliar setara Rp108 triliun.

Penggunaan teknologi Perancis bukan “barang baru” bagi Indonesia. Tahun 1980-an, TNI menggunakan radar Thomson—sebagai early warning (deteksi dini) dengan 3 dimensi. TNI AU juga membeli 4 unit radar tipe master-t sejak tahun 2012, 3 unit digunakan di Papua yang mendeteksi kawasan laut dan bagian Timur Indonesia.

TNI AU melengkapi satuan pesawat intai dengan memasang Ocean Master pada 6 unit NC-212MP, 10 unit CN-235MPA dan 3 unit Helikopter NBO 105. TNI AL pun menggunakan 4 unit Sonar TSM-2633 Sperion-B, 80 unit rudal anti pesawat mistral, 30 unit rudal anti kapal MM-40 Block-3 Exocet dalam program Korvet SIGMA.

Indonesia pun membeli 15 unit helikopter ringan EC 120 Colibri dan 5 unit pesawat latih TB-10 TOBAGO-GT. Kemudian PT Dirgantara Indonesia dipercaya merakit 4 unit helikopter AS-532 Cougar dari 10 unit yang dibeli tahun 2010. Sementara itu, TNI AD melakukan alih teknologi meretrofit 275 Tank AMX yang dikerjakan PT PINDAD. Bekerja sama dengan Renault Truck’s Defence,  PT PINDAD memproduksi panser ANOA—berbagai varian yang dikembangkan hingga sekarang dengan memproduksi tank Ranpur Sherpa. Bahkan meriam kelas berat dan mesin kapal sekelas Sigma yang diproduksi dengan teknologi Perancis sudah dilakukan di Indonesia.

Bagaimana dengan alih teknologi jet tempur, frigate, dan kapal selam buatan Perancis? Perancis proaktif menawarkan transfer teknologi seperti teknologi stealt, teknolgi kapal selam, dan jet tempur. Tampaknya Perancis “iri” ketika Indonesia membeli beberapa jet tempur Sukhoi-35 buatan Rusia.

Industri persenjataan Perancis harus dipertahankan agar tidak senasib dengan industri otomotif seperti Renault dan PSA Peugeot Citroën yang sudah di-bailout.  Konon Rusia enggan memproduksi bersama seperti dikehendaki Indonesia jika pembelian hanya 8-12 jet tempur.

Bagaimana jet Dassault Rafale bermanuver di udara Jakarta dan di atas laut Pelabuhan Ratu? (Bahan diolah dari berbagai sumber)

Simak  ALAT PERTAHANAN (2)
Jet Tempur Dassault Rafale Memukau Jakarta

Advertisement

Tulis Opini Anda