Bilateral, Jepang-Indonesia

Indonesia-Jepang Tingkatkan B-to-B, IJB-Net Ciptakan Terobosan

Bagaimana Indonesia-Jepang tingkatkan b-to-b? Beragam program dan terobosan dilakukan oleh pengurus Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) dengan Dr. Suyoto Rais selaku Ketua...

Written by Marinus L. Toruan · 2 min read >
Indonesia-Jepang

Bagaimana Indonesia-Jepang tingkatkan b-to-b? Beragam program dan terobosan dilakukan oleh pengurus Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) dengan Dr. Suyoto Rais selaku Ketua Umum. Rais san yang baru mengunjungi negeri Sakura itu membawa kabar menarik bagi para pebisnis.

Indonesia-Jepang
Ketua Umum IJB-Net, Dr. Suyoto Rais;  Ketua IJB-Net Jepang, Prof. Bambang Rudyanto; dan pengurus lainnya, Satoru Nakamura serta Kenichi Okada foto bersama setelah  berdiskusi dengan Atase Perdagangan KBRI Tokyo, Arief Wibisono; Kepala BKPM Tokyo,   Rakhmat Yulianto; dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tokyo, Causa Iman Karana (gambar kiri). (kanan) Profesor Bambang Rudyanto dan kedua anaknya Aso dan  Kakinuma. Bambang  mengaktifkan sekretariat di Bambang Laboratory, Wako University, Tokyo. (Foto/@: IJB-Net)

Penulis/editor: Marinus L. Toruan 

mmINDUSTRI.co.id – Menjelang tanggal 8 Agustus 2021, Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) memasuki usia tiga tahun.

Indonesia-Jepang Tingkatkan B-to-B

Organisasi yang menghimpun para pebisnis dari kedua negara—Indonesia dan Jepang—telah melakukan beragam program dan terobosan untuk meningkatkan perdagangan dengan fokus b-to-b.

Contohnya, Ketua Umum IJB-Net, Dr. Suyoto Rais dan timnya melakukan kunjungan kerja di Jepang yang saat ini ditandai dengan mekarnya bunga Sakura seolah menyambut para pebisnis dari Indonesia.

Akan tetapi, Rais san—sapaan khas Jepang, dan timnya harus melakukan isolasi mandiri selama 15 hari penuh sebelum bersua dengan kerabat bisnis di Tokyo.

Rais san salah satu pendiri IJB-Net, merupakan alumnus yang pernah studi di universitas di Jepang. Bersama kawan-kawan, Rais san ingin meningkatkan hubungan kedua negara—Indonesia-Jepang—yang dilakukan melalui serangkaian program untuk meningkatkan bisnis antarkedua negara.

Meski IJB-Net didirikan oleh para alumni Jepang, organisasi nirlaba ini terbuka bagi para pelaku industri, pebisnis, pemerhati, dan sebagainya yang ingin meningkatkan hubungan dengan Jepang.

Di grup bisnis telah terhimpun lebih dari 350 orang pebisnis yang berlokasi di berbagai daerah di Indonesia. Sedangkan pengurus pusat IJB-Net berlokasi di Jakarta.

Di  4 provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sumatera Utara sudah terbentuk pengurus daerah, juga di 9 koordinator daerah, dan satu perwakilan di Tokyo, Jepang.

Menurut Direktur Eksekutif IJB-Net, Solihin, pihaknya belum mencari anggota sebanyak mungkin. “Pengurus bekerja untuk menjembatani antaranggota. Tujuan utama adalah mengutakaman anggota untuk melakukan b-to-b dengan pihak Jepang,” tandas Solihin.

Jika berencana meningkatkan bisnis dengan pebisnis Jepang, sebaiknya kita lebih mengetahui budaya dan cara berbisnis orang Jepang.

Menurut sebuah sumber pebisnis Jepang memiliki budaya khas yang disebut horenso—singkatan dari hokoku (melaporkan), renraku (menginformasikan), dan sodan (konsultasi).

Budaya hokoku itu direalisasikan  oleh Ketua Umum IJB-Net, Dr. Suyoto Rais dengan menemui beberapa orang mitra kerja di Jepang.

Solihin mengakui bahwa pihak yang bergabung dengan IJB-Net bukanlah 100 persen alumni Jepang. Pihak IJB-Net mendorong yang 60 persen (anggota IJB-Net) adalah pebisnis untuk meningkatkan kontribusi dalam hubungan Indonesia-Jepang berdasarkan b-to-b.

“Sebanyak mungkin anggota dapat mengekspor produk apa pun ke Jepang. Misalnya produk makanan, minuman, kerajinan,  dan hasil agribisnis,” ujar Solihin. “Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kami miliki, pengurus IJB-Net berupaya mencari pasar (baru) di Jepang,” tandasnya.

Indonesia-Jepang

Sementara itu, Ketua Umum IJB-Net, Dr. Suyoto Rais bertatap muka dengan manajemen Green Power Development of Japan yang berencana berinvestasi untuk mengolah kelapa menjadi bioenergi. IJB-Net telah melakukan feasibility study  beberapa waktu lalu.

Rencana investasi di bidang energi dengan menggunakan kelapa sawit sebagai bahan baku merupakan peluang bagi pengusaha lokal untuk memasok cangkang.

Dr. Suyoto Rais Selanjutnya telah menemui Nakamura san, Hironiwa san, Okada san, Kakinuma san, dan Aso san. Pertemuan dengan Yoshitsugu san dan Shiratsuchi san dilakukan secara virtual. Mereka membahas pengurus perwakilan IJB-Net yang berkedudukan di Tokyo, Jepang.

Pertemuan dengan Profesor Bambang Rudyanto yang didampingi kedua anak didiknya, Aso dan Kakinuma di Bambang Laboratory, Wako University, semakin melegakan bagi Rais san.

Promosi biomasa, produk halal, kolaborasi bisnis antarkedua negara akan segera dimulai di kedua sekretariat baik di Indonesia juga di Jepang.

Di Indonesia, pengurus IJB-Net melakukan berbagai promosi peluang bisnis dan investasi di Jepang, sementara itu  perwakilan IJB-Net Tokyo dilakukan  promosi tentang Indonesia.

“Bagaimana mengembangkan potensi sumber daya alam dan memperbanyak ekspor Indonesia ke Jepang? Sebaliknya (dari sisi Jepang) bagaimana memanfaatkan teknologi yang aplikatif buatan Jepang untuk Indonesia dan mencari solusi untuk aging country di Jepang,” ungkap Dr. Suyoto Rais.

“Kita kembangkan ekspor, mulai mengerucut ke energi terbarukan dan makanan, inuman, dan tidak menutup kemungkinan produk lainnya. Jepang sangat menggantungkan pasokan dari luar negeri untuk komoditas itu. Kita harus bersinergi,” Ketika Dr. Suyoto Rais mmperkenalkan IJB-Net.

Baca: Bagaimana Cara IJB-Net Menembus Pasar Jepang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *