FINANCE & INVESTMENT, Industrialisasi

Solusi IFRS 9 bagi Lembaga Keuangan agar tidak Dikadali, Bagaimana SAS dan KPMG Membantu?

Lembaga keuangan menggunakan solusi IFRS 9 (International Financial Reporting Standard) agar terhindar dari berbagai penipuan. Untuk itu SAS dan KPMG siap membantu...

Written by Marinus L Toruan · 2 min read >

Lembaga keuangan menggunakan solusi IFRS 9 (International Financial Reporting Standard) agar terhindar dari berbagai penipuan. Untuk itu SAS dan KPMG siap membantu Lembaga Keuangan seperti bank menghadapi masalah.

Solusi IFRS
Febrianto Siboro, Managing Director SAS Indonesia. Solusi IFRS 9 bagi lembaga keuangan agar tidak dikadali (Foto/@: SAS)

Lembaga keuangan seperti bank tak luput dari masalah yakni risiko yang berasal dari internal dan eksternal. Contohnya, kerangka akuntansi harus sesuai dengan International Financial Reporting Standard (IFRS) 9.

Solusi IFRS 9 bagi Lembaga Keuangan

Kesesuaian IFRS 9  itu menuntut tingkat infrastruktur, sumber daya, dan kemampuan integrasi sistem namun justru seringkali berada di luar kapabilitas perusahaan keuangan yang lebih kecil. 

Sementara IFRS 9 harus diterapkan dalam laporan keuangan lembaga keuangan untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2020. IFRS 9 merupakan standar pelaporan keuangan yang diakui secara internasional dan diterbitkan/disahkah oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB). 

Oleh sebab itu, Lembaga keuangan di Indonesia harus membuat perubahan signifikan dalam hal melakukan estimasi, mengkalkulasi, dan dan melaporkan selisih kerugian pinjaman yang ditempuh melalui langkah-langkah sesuai dengan pedoman yang baku.

Untuk itu, PT KPMG Siddharta Advisory yang memiliki jaringan global yang berafiliasi dengan KPMG International Limited. 

Secara indepeden, PT KPMG Siddharta Advisory sebagai firma jasa profesional dalam  penyediaan jasa Audit, Perpajakan, Penasihat, dan bekerja sama dengan SAS, perusahaan global terdepan di bidang analitik, memberikan solusi bagi industri perbankan dan lembaga keuangan di Indonesia.

Kemitraan SAS dan KPMG Indonesia memberikan layanan yang komprehensif mulai dari proses awal hingga akhir untuk memberikan solusi dan strategi dalam memenuhi kebutuhan lembaga keuangan di Indonesia. 

SAS dan KPMG Indonesia membantu klien yakni bank dalam pelayanan manajemen resiko yang terbaik di kelasnya,  ahli pengelola data, dan pakar kuantitatif. 

Kerangka akuntansi IFRS 9 menuntut tingkat infrastruktur, sumber daya, dan kemampuan integrasi sistem yang seringkali berada di luar kapabilitas perusahaan keuangan seperti bank yang lebih kecil. 

Lembaga keuangan harus  membuat perubahan signifikan dalam hal melakukan estimasi, mengkalkulasi, dan melaporkan selisih kerugian pinjaman. 

Bank melakukan peninjauan berkala atas risiko kredit klien mereka, yang paling signifikan mengubah metodologi penurunan nilai dari kerugian yang terjadi (incurred loss) menjadi kerugian yang diharapkan (expected loss). 

Perbankan  harus mampu mengidentifikasi resiko dalam portofolio yang dilakukan  jauh lebih awal dari sebelumnya, dan menerapkan metode perkiraan kerugian kredit yang sesuai. 

Perubahan tersebut tentu akan memengaruhi operasi lembaga keuangan, perencanaan keuangan, dan terlebih lagi strategi portofolio.

Head of Risk Consulting KPMG Indonesia, Denny Hanafy mengatakan, meskipun lembaga keuangan memiliki waktu untuk menerapkan langkah-langkah baru, namun bank terutama bank yang berukuran lebih kecil tak luput dari tantangan. 

Apakah lembaga keuangan sudah siap menghadapinya? 

“Biaya dan kerumitan mengadopsi IFRS 9 telah terbukti memberatkan organisasi seperti bank. Banyak lembaga keuangan membutuhkan solusi kuat dengan lebih sedikit investasi, jika dibandingkan dengan solusi on-premise, dengan hasil yang optimal,” ujar Denny Hanafy. 

Solusi berbasis langganan dan berbasis cloud, lanjut Denny Hanafy, dikombinasikan dengan pemodel gangguan berpengalaman KPMG sendiri, dapat menjadi solusi yang tepat pada saat-saat seperti ini. 

Solusi cloud berarti perusahaan tidak perlu berinvestasi pada lebih banyak perangkat keras dan infrastruktur.

Solusi on-premise merupakan kebutuhan teknologi bagi perusahaan seperti bank dengan menggunakan teknologi dari cloud—sesuai kebutuhan tanpa menggunakan server yang berbiaya besar.

Sementara Managing Director SAS Indonesia, Febrianto Siboro menjelaskan, untuk memenuhi persyaratan kepatuhan, bank perlu menganalisis data yang berjumlah besar secara efisien. Bank harus mampu menyesuaikan pendekatan untuk menerapkan solusi manajemen risiko di dalam organisasi. 

“Dengan kekurangan profesional analisis data di Indonesia, dan kurangnya pemahaman tentang pemodelan statistik, kebutuhan mendesak akan solusi dan layanan yang dapat memenuhi permintaan ini menjadi sangat penting, ujar Febrianto Siboro, Managing Director SAS Indonesia.

Untuk itulah SAS menghadirkan kapabilitas terdepan dalam mesin penghitungan IFRS, analitik tingkat lanjut, alur kerja, manajemen data, dan visualisasi untuk mendukung penghitungan kepatuhan dalam skala besar dengan garis keturunan dan transparansi data, demikian Febrianto Siboro.

Melalui rilisnya, Febrianto Siboro menambahkan bahwa fokus utama SAS adalah untuk menciptakan kemampuan pemodelan yang lancar dan komprehensif dengan tata kelola menyeluruh, kontrol, jejak audit, dan manajemen alur kerja. 

Sebagai penyedia solusi risiko keuangan, SAS berkomitmen untuk mendukung pelanggannya dengan persyaratan kompleks seputar IFRS 9. SAS memanfaatkan jaringan yang kuat milik mitranya yang berpengalaman pelanggan untuk mendukung sifat kepatuhan terhadap peraturan yang berubah. 

Manajemen SAS memanfaatkan pengetahuan yang luas dan jaringan mitranya untuk membantu KPMG memenuhi semua mandat IFRS 9 dalam satu lingkup kepatuhan yang komprehensif. 

Solusi baru ini dibangun di atas platform analitik berkinerja tinggi dan fleksibel yang dapat membantu perusahaan keuangan dan asuransi menjaga segala sesuatunya secara mudah, patuh, dan kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *