AUTO-TECH, Materials

Roda Truk Berbasis Karet Sintesis, Apa Lebih Unggul dari Karet Alam?

Bahan roda truk berbasis karet sintesis telah digunakan di Eropa. Bagaimana masa depan karet Indonesia dengan 3,4 juta hektar lahan terluas di...

Written by Erwin Prasetyo · 2 min read >
Karet Sintesis

Bahan roda truk berbasis karet sintesis telah digunakan di Eropa. Bagaimana masa depan karet Indonesia dengan 3,4 juta hektar lahan terluas di dunia? Pohon karet alami terancam punah.

Karet Sintesis
Dikutip dari laman tiretechnologyinternational.com  adalah gambar karet sintesis (kiri). Pengujian awal ban (kanan) yang terbuat dari karet sintesis biomimetik yang identik dengan karet alam. Bahan karet sintesis BISYKA mengalami abrasi (kerusakan) sekitar 30-50 persen dibandingkan dengan kekuatan karet alam yang pasokannya semakin berkurang. Para ahli harus mengatasinya dengan menggantikan karet alam. Roda truk berbasis karet sintesis, apa lebih unggul dari karet alam? (Foto/©: Fraunhofer IAP/Till Budde)

Indonesia memiliki pohon penghasil karet yang tersebar di lahan  3,4 juta hektar terluas di dunia.

Akan tetapi, kapasitas  produksi nasional masih di bawah produksi Malaysia dan Thailand yang masing-masing 1,3 ton dan 1,9 ton per satu hektar. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan satu ton per hektar.

Karet alam yang berasal  dari pohon karet dengan sebutan Hevea brasiliensis merupakan  bahan baku yang pasokannya sangat terbatas.

Sementara karet sintesis  belum mampu menandingi perilaku  produk alami karena abrasi (kerusakan) mencapai lebih dari 30 persen.

Karet sintesis belum cocok dijadikan sebagai bahan pembuatan roda atau  ban truk. Bagaimana mengatasinya? Para peneliti berkutat terus dan mampu menghasilkan jenis baru karet sintesis.

Hasil pengembangan itu mencapai 30-50 persen untuk tingkat abrasi atau kerusakan dibanding karet alam. Ingat, bahwa ban atau roda  truk raksasa—biasanya dioperasikan di area tambang atau pelabuhan—harus tahan (kuat) mendukung beban.

Truk-truk biasanya mendukung  beban berat dan menempuh jalan darat  jarak jauh yang ditempuh setiap hari. Truk juga dioperasikan di lokasi area yang sama namun berulang-ulang misalnya saat mengangkut bahan galian dari sumber tambang ke lokasi penampungan.

Ban atau roda truk mengalami keausan yang sangat berat. Dampaknya adalah tapak ban mengalami kerusakan (abrasi) dan roda tidak mulus lagi seperti semula. Kondisi seperti itu berpotensi menimbulkan masalah ketika dioperasikan.

Ban yang terbuat dari karet alam hingga saat ini menunjukkan karakteristik abrasi terbaik. Ban truk dengan bahan karet alami lebih tangguh dengan sedikit abrasi.

Kekuatan karet buatan (sintesis) belum mampu menyamai kinerja dan kualitas  karet alam. Permasalahan utama dengan karet alam adalah penyediaan pasokan untuk dijadikan sebagai bahan baku penting di sektor industri otomotif.

Melalui sebuah rilis, tim peneliti Fraunhofer mengingatakan bahwa keberadaaan pohon karet  semakin terancam punah.

Contohnya Brazil yang merupakan asal  muasal pohon karet berangsur-angsur punah karena diserang  jamur Microcyclus—merupakan limbah yang merusak seluruh perkebunan karet di Brazil.

Tim peneliti mengkhawatirkan, jika jamur (limbah) memasuki area perkebunan karet di beberapa negara di Asia—seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan negara-negara lain—maka area budidaya utama pohon karet (alami) bakal terancam punah.

Pasokan  karet alami sungguh terancam. Bagaimana mengatasinya?

Tim peneliti bekerja untuk menciptakan karet sintesis biomimetik dengan perilaku abrasi yang dioptimalkan (BISYKA) yakni dengan meminimalkan tingkat kerusakan pada produk (ban).

Ancaman kepunahan atas karet alam  menjadi bahan diskusi sangat serius bagi sejumlah peneliti di beberapa lembaga milik Fraunhofer Institutes.

Para peneliti bertekad mengoptimalkan karakteristik karet sintesis yang dapat menggantikan peran atau fungsi bahan karet alami.

“Sintesis buatan yakni BISYKA merupakan singkatan dari bahasa Jerman yang berarti karet sintesis biomimetik. Sebenarnya bahan ini juga memiliki karakteristik unggul dari karet alam,” jelas Dr. Ulrich Wendler pemimpin proyek.

Bersama timnya,  Dr. Ulrich Wendler  melakukan serangkaian penelitian di Pusat Percontohan Pabrik Fraunhofer yang menangani Sintesis Polimer dan Memproses PAZ.

Pendirian Fraunhofer PAZ merupakan inisiatif  dua lembaga yakni Fraunhofer IAP dan Fraunhofer IMWS. Karet alami dan karet sintesis merupakan bagian penelitian tim ahli Fraunhofer PAZ.

“Ban yang terbuat dari karet sintesis kehilangan 30 persen massa lebih kecil dari ban setara yang terbuat dari karet alam. Akan tetapi, dengan menggunakan ban sintesis pengguna dapat mencegah setengah kerugian,” ungkap Dr. Ulrich Wendler.

Ia meyakinkan bahwa karet sintesis dapat diproduksi pada skala industri dengan menggunakan pabrik dan peralatan yang tadinya digunakan untuk karet alam.

Ini berarti bahwa karet sintesis menawarkan alternatif yang sangat baik untuk  mengganti fungsi karet alam.

Bahan karet sintesis itu juga dapat digunakan sebagai bahan pembuatan ban atau roda truk dengan kinerja yang tinggi.

Bahan apa yang dijadikan oleh tim peneliti untuk membuat karet sintesis?

Temukan jawaban yang menganalisis bahan secara ilmiah untuk menghasilkan bahan pembuatan  roda truk berbasis karet sintesis yang kualitasnya tak kalah unggul dari karet alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *