Inspiration, MICE

Jamur Peredam Suara Bising, Bukan Sekadar Cemilan dan Sayuran

Tanaman holtikultura jamur berpotensi sebagai peredam suara bising, bahan pakaian, furniture, dan sebagainya. Beragam jamur atau mushroom atau toadstool tumbuh di Indonesia,...

Written by Rayendra L. Toruan · 3 min read >
Peredam Suara Bising

Tanaman holtikultura jamur berpotensi sebagai peredam suara bising, bahan pakaian, furniture, dan sebagainya. Beragam jamur atau mushroom atau toadstool tumbuh di Indonesia, jangan biarkan hanya sekadar cemilan.  

Peredam Suara Bising
Tekanan spesimen berdasarkan miselium jamur. Jamur peredam suara bising (Foto/©: Fraunhofer UMSICHT)

Jamur adalah bahan pangan dan cemilan yang nikmat dan sehat. Jamur atau mushroom cocok diolah sebagai bagian sayuran yang dicampur dengan bahan lain seperti daging. 

Jamur Peredam Suara Bising

Jamur juga disebut toadstool merupakan bahan pangan yang lezat dan berprotein tinggi. Orang Barat, Rusia, Korea, China, dan Jepang umumnya gemar menyantap jamur dalam berbagai varian makanan dan sarat protein. 

Selain memiliki daging dan spora berbentuk benang, potensi ekonomi dan fungsi demikian besar bergantung pada jenis mushroom atau toadstool. Cara budi daya tanaman holtikultura ini pun demikian mudah bahkan ada jenis jamur yang tumbuh secara alami misalnya di hutan.

Lebih dari 15 jenis jamur dan separuhnya tumbuh di Indonesia sebagai tanaman holtikultura yang dibudidayakan dan tumbuh secara alami. Contoh jamur yang terdapat di Indonesia antara lain, jamur merang, kuping, kancing (champignon atau  Agaricus Bisporus), ling zhi, jamur tiram (Pleorotus Ostreatus).   

Sejumlah ilmuwan di Institut Fraunhofer UMSICHT yang menangani Teknologi Lingkungan, Keselamatan, dan Energi sedang meneliti potensi ekonomi jamur. Para ilmuwan dari Institut Fraunhofer  IBP yang menangani Fisika Bangunan juga bergabung menvcermati potensi jumur itu.  

Para ilmuwan ingin mengetahui potensi bahan jamur yang menghasilkan turunan lain yang dapat digunakan pada masa depan. Misalnya jamur yang menghasilkan  bahan yang mampu meredam suara bising sehingga tercipta kondisi yang ramah lingkungan.

Hasil cetak spesimen berdasarkan miselium                                                                                                            Contoh nyata kegiatan rekan kerja di kantor yang sedang berbicara di telepon dengan nada keras atau tetangga dekat rumah memutar musik dengan nada keras tanpa perduli tetangga lain. Banyak orang yang menjadi stres saat mendengarkan suara bising orang lain. 

Kesejahteraan dan kesehatan warga—baik di rumah, di ruang publik, di kantor, dan tempat lain—juga terbentuk dari faktor yang akustik. 

Peredam suara mampu meningkatkan akustik ruangan. Beragam elemen akustik yang digunakan untuk melapisi dinding kantor dan rumah atau elemen ruang individu dan kantor. Bahan peredam suara bising yang digunakan sekarang ini terdiri dari serat mineral atau busa plastik dibuat saat mendesain interior. 

Akan tetapi, beberapa dari materi peredam suara bising yang konvensional itu dianggap bukan bahan yang berkelanjutan karena tidak mudah didaur ulang. 

Para ilmuwan membuat alternatif yang lebih ramah lingkungan dan pada saat yang bersamaan bahan baru itu lebih efektif  ke pasar ekonomi. Tim peneliti Fraunhofer UMSICHT mengembangkan peredam suara yang terbuat dari bahan berbasis jamur bersama ilmuwan dari  Fraunhofer IBP.

Ide penggunaan jamur atau musroom sebagai bahan peredam suara bising diucetuskan  oleh Julia Krayer, Manajer Proyek yang bekerja di Fraunhofer UMSICHT, Oberhausen, Jerman. Asisten peneliti ini telah mengerjakan biomaterial secara tekub selama bertahun-tahun.  

“Sebagai bagian dari pengembangan material, fokus penelitian ada pada substrat tanaman dan miselium,” jelas Julia Krayer, Manajer Proyek penelitian jamur itu. 

Menurut Julia Krayer, miselium terdiri dari jaringan halus hifa seperti benang yang tumbuh di bawah tanah secara alami sesuai dengan spesiesnya yang ukurannya mencapai lebih dari satu kilometer persegi.

Untuk mengerjakan proyek pembuatan peredam suara berbasis jamur tersebut, Julia Krayer peneliti dan koleganya sedang menumbuhkan benang miselium di laboratorium. 

Bahan miselium jamur pertama kali dicampur dengan substrat nabati yang terdiri dari jerami, kayu, dan limbah produksi makanan, dan selanjutnya dicetak dalam bentuk bahan apa pun dengan printer 3D. 

“Selanjutnuya, benang miselium tumbuh melalui seluruh substrat dan membentuk struktur yang kokoh,” tutur Julia Krayer peneliti itu. 

Setelah miselium menembus substrat dengan butir halus, produk dikeringkan dalam oven untuk membunuh jamur. Selanjutnya, bahan yang dibuat dengan cara ini memiliki dinding sel yang terbuka, sehingga dapat menyerap atau meredam suara. 

Dengan struktur pori yang dicetak, peran bahan yang berbasis jamur itu sangat cocok sebagai penyerap atau peredam suara sehingga tidak menimbukan suara bising.

Apakah struktur pori yang ditargetkan dapat diproduksi dengan menggunakan printer 3D? Selain tingkat efisiensi yang tinggi, faktor positif dari keberlanjutan dan konservasi sumber daya, peredam suara berbasis jamur memiliki keunggulan lainnnya. 

“Karena struktur padat tempat miselium jamur tumbuh, peredam suara yang terbuat dari lapisan yang jauh lebih tipis ini dimungkinkan di masa depan,” jelas Roman Wack karyawan IBP Fraunhofer (Stuttgart) yang menjadi mitra kerja di proyek yang sama bersama Julia Krayer.   

Penggunaan printer 3D dalam produksi material memungkinkan adanya struktur pori di dalam absorber yang telah direncanakan sebelumnya. Struktur ini dapat diproduksi secara khusus oleh printer dan dengan demikian dioptimalkan selama penelitian. 

Pengembang mendapatkan keuntungan tambahan dan mengharapkan metode ini menghasilkan penyerap suara yang sempurna—dari segi manfaatnya melebihi produk yang tersedia saat ini dan juga terbuat dari bahan baku yang terbarukan.

Akan tetapi, tim peneliti memfokuskan pada produksi peredam suara yang berkelanjutan. Karyawan Fraunhofer UMSICHT ini, Julia Krayer sedang memproduksi berbagai prototipe penyerap suara yang berkelanjutan dan diuji di lab milik Fraunhofer IBP.

Apakah mungkin jamur digunakan sebagai bahan pakaian dan furnitur berbasis miselium jamur? Bahan berbasis jamur tidak hanya dapat digunakan di sektor akustik simpul peneliti melalui rilisnya.

“Produk akhir mungkin dapat digunakan sebagai bahan isolasi meski kita harus melakukan penelitian yang lebih intensif dan dalam sesuai dengan butuhkan di lapangan,” tandas Julia Krayer. 

Julia Krayer dan tim sedang merencanakan penggunaan miselium jamur sebagai bahan produk dengan menggunakan bahan-bahan lain yakni  kulit jamur menjadi serat benang (tekstil) dan plastik yang demikian menjanjikan pada masa depan. 

Para ilmuwan merencanakan bahwa di masa depan, materi berbahan dasar jamur tidak hanya  digunakan sebagai  untuk material peredam suara dan bahan isolasi.

Jamur atau mushroom berpotensi dijadikan sebagai serat benang untuk dijadikan sebagai bahan pakaian, furnitur, dan penutup peralatan atau komponen listrik misalnya untuk rice cooker.  

Para peneliti sedang bekerja keras untuk mewujudkan angan mereka menjadi kenyataan. 

Kapan para ilmuwan Indonesia mengungkap misteri dan potensi yang tersimpan di jamur yang tumbuh di Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *