Engineering & Design, Industrialisasi

Mesin dengan Kecerdasan Buatan Tetap Bodoh jika tidak Memiliki ini

Mesin dengan kecerdasan buatan akan bodoh jika tidak memiliki jaringan dan pusat data. Meski penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin meningkat, kita tetap...

Written by Erwin Prasetyo · 2 min read >
Mesin dengan kecerdasan buatan

Mesin dengan kecerdasan buatan akan bodoh jika tidak memiliki jaringan dan pusat data. Meski penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin meningkat, kita tetap membutuhkan pendidikan. Bagaimana mungkin sebuah mesin dapat mendiagnosis penyakit jika dokter tidak beperan?

Mesin dengan kecerdasan buatan
Mikroskop buatan Nikon dengan kecerdasaan yang dimilikinya mampu mengungkap tabir benda sangat kecil berupa sel atau bakteri yang ditayangkan melalui monitor komputer. Mesin dengan kecerdasan buatan tetap bodoh jika tidak memiliki ini  (Foto: Rayendra L. Toruan )

Peran mesin yang memiliki kecerdasan buatan justru membantu manusia. Artinya, dengan kecerdasan buatan atau disebut artificial intelligence (AI) maka kualitas hidup semakin meningkat.

Beragam pekerjaan yang tadinya  dilakukan oleh manusia digantikan oleh mesin.

Pekerjaan pengelasan di dasar laut misalnya dapat dilakukan oleh mesin. Apakah pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh manusia akan diambil alih oleh mesin?

Bagaimana mesin “berpikir” seperti manusia? Teknologi kecerdasan buatan seolah membawa mitos yang menakutkan dan menyeramkan.

Apa lagi, belakangan ini kita sering mendengarkan learning machine yakni mesin yang dapat belajar agar mampu mengerjakan sesuatu tugas seperti dilakukan oleh manusia.

Mesin mempunyai jaringan saraf tiruan lengkap dengan teknologi algoritma yang berfungsi seperti mata atau pemandu.

Para insinyur  mampu membuat saraf tiruan yang diinspirasi  susunan otak manusia. Sama seperti otak yang mendapatkan sejumlah informasi.

Informasi itu berasal dari dalam tubuh manusia misalnya ada  perasan dahaga (berupa informasi) yang kemudian rasa haus itu disampaikan ke saraf otak yang lalu mengolahnya.

Otak kemudian memerintahkan anggota tubuh seperti mata, kaki, tangan, dan otak itu sendiri untuk mencari sumber air yang akan diminum melalui mulut.

Nah, analog dengan itu, demikian juga mesin yang belajar dari sejumlah besar data berupa informasi—dihimpun dengan sensor.

“Perdebatan tentang kecerdasan buatan sering ditandai dengan pengetahuan yang minim, timbul asumsi, ketakutan dan mitos, namun ada  juga harapan yang berlebihan,” tandas Profesor Stefan Wrobel, kepala Institut Fraunhofer yang membidangi Analisis Cerdas dan Sistem Informasi IAIS.

Orang merasa takut bahwa mesin kecerdasan buatan akan melenyapkan peran manusia. Jadi, apa gunananya manusia belajar hingga perguruan tinggi dengan titel doktor dan sebagainya?  

“Pendidikan sangat diperlukan,” Stefan Wrobel meyakinkan, “apa bila penerimaan sosial masyarakat baik terhadap mesin cerdas hal itu merupakan pusat penyebaran pembelajaran berbasis mesin yang berkelanjutan.”

Di sinilah peran studi yang dilakukan oleh Fraunhofer tentang “pembelajaran mesin” yang  ditugaskan oleh Kementerian Federal Pendidikan dan Penelitian, Jerman.

Sejak awal, para peneliti artificial intelligence (AI) menegaskan bahwa mereka tidak membangun atau membuat otak buatan atau menciptakan manusia buatan (tiruan).

Bandingkan dengan perancang pesawat terbang, apakah tim ahli membuat burung buatan yang bisa terbang di udara seperti burung? Burung yang dapat terbang hanya merupakan inspirasi bagi para perancang pesawat udara.

Para insinyur bukanlah menciptakan burung tiruan. Tim peneliti justru mengembangkan mesin yang adaptif  seperti manusia yang mampu menyelesaikan tugas kognitif dasar.

Sebetulnya, teknologi baru itu telah lama menyertai kehidupan kita sehari-hari. Alat bantu virtual seperti Siri, Alexa atau Cortana menjadi teman serumah yang sangat diperlukan oleh tiap keluarga.

Akan tetapi, tanpa jaringan mesin yang memiliki kecerdasan buatan, mesin itu tetap bodoh dan sekali lagi mesin yang cerdas itu tetap bodoh tanpa jaringan dan tanpa sensor.

Mesin  mengirim permintaan berupa informasi hanya ke pusat data (big data) raksasa yang kemudian dikumpulkan dan diproses.

Contohnya, pesanlah pizza melalui Internet.  Anda berkomunikasi bukan dengan manusia melainkan dengan chatbot yang mensimulasikan diri seperti manusia.  Anda tidak mengetahui sedang berbicara dengan komputer.

Pada masa mendatang, orang menghadapi sistem pembelajaran dalam banyak situasi. Kemajuan pesat AI dipicu oleh pembelajaran mesin (LM) dengan metode baru yakni pembelajaran mendalam yang bekerja dengan jaringan saraf tiruan.

Saraf tiruan berlatih berdasarkan sejumlah besar data dan sistem ini mengembangkan kinerja yang luar biasa.

Pada akhirnya, demikian rilis Fraunhofer,  metode ini bertanggung jawab atas kesuksesan besar dalam pemrosesan bahasa, teks, gambar, dan video.

Sementara itu, perlombaan senjata global telah berlangsung—khususnya bidang teknologi yang sangat penting secara ekonomi dan strategis—pelaku utama adalah  Amerika Serikat dan China.

Siapa yang bakal memenangkan pertarungan nanti? Bagaimana dengan posisi Indonesia? Mesin dengan kecerdasan buatan tetap bodoh jika tidak memiliki ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *