Packaging, Packaging & Food Processing

Kelebihan Mesin Screw Extrusion Additive Dibanding Printer 3D Konvensional, Rahasianya?

Apa kelebihan mesin Screw Extrusion Additive Manufacturing dibandingkan dengan mesin cetak 3D konvensional? Kapasitas produksi meningkat delapan kali lipat. Industri manufaktur seperti...

Written by Erwin Prasetyo · 2 min read >
Kelebihan Mesin Screw Extrusion Additive

Apa kelebihan mesin Screw Extrusion Additive Manufacturing dibandingkan dengan mesin cetak 3D konvensional? Kapasitas produksi meningkat delapan kali lipat. Industri manufaktur seperti otomotif dan dirgantara tepat menggunakan teknologi baru ini.

Kelebihan Mesin Screw Extrusion Additive
Mesin Screw Extrusion Additive Manufacturing (SEAM) dapat mempercepat pembuatan aditif komponen plastik delapan kali lipat dari proses konvensional. Proses ini mencapai kecepatan produksi sangat cepat dengan menggabungkan pencetakan 3D dan sistem gerak pada alat mesin. Kelebihan mesin screw extrusion additive dibanding printer 3d konvensional  (Foto/©: Fraunhofer IWU)

Pembuatan aditif komponen plastik dalam volume besar merupakan pekerjaan yang membutuhakan banyak waktu.

Akibatnya, ongkos produksi bertambah yang berdampak terhadap daya saing produk di pasar global. Apa yang harus kita lakukan?

Para peneliti yang bekerja  di Institut Fraunhofer khususnya yang menangani pengembangan  Peralatan Mesin dan Teknologi Pembentukan mengembangkan apa yang disebut dengan Screw Extrusion Additive Manufacturing (SEAM).

Peneliti mengembangkan sebuah sistem dan proses yang kinerhanya meningkat delapan kali lebih cepat dibanding dengan pencetakan 3D konvensional.

Hasil temuan itu telah dimplementasikan pada printer 3D ultrafast yang didemokan pada Hannover Messe sebuah pameran permesinan di Hannover, Jerman pada 1 – 5 April 2019.

Mesin printer 3D memroduksi barang berupa  suvenir kecil yang terdiri dari beberapa lapis bahan plastik—hasil pemanasan hingga meleleh sampai terbentuk berupa produk yang dapat digunakan—dalam hal ini berupa suvenir (produk).

Proses pembuatannya memerlukan waktu selama satu jam untuk menghasilkan produk berupa suvenir yang ukurannya selebar saku kemeja.

Analog dengan proses produksi massal misalnya pada pembuatan komponen otomotif, waktunya terlalu lambat atau tidak sesuai dengan kebutuhan waktu di industri otomotif yang proses produksinya harus massal dan sangat cepat.

Sebuah sistem buatan tim peneliti di Institut Fraunhofer untuk Peralatan Mesin dan Teknologi Pembentukan IWU yang berlokasi di Chemnitz, Jerman,  menghasilkan mesin cetak 3D ke tingkat yang baru. Bagaimana mesin itu bekerja?

Dengan teknologi baru mesin cetak bekerja dengan kecepatan sangat tinggi dan sistemnya  hanya membutuhkan waktu singkat dan menghasilkan komponen plastik setebal 30 sentimeter.

Sebuah tim peneliti di Fraunhofer IWU mengembangkan teknologi yang digunakan untuk memroduksi komponen plastik resilien yang aditif dalam volume besar.

Produsen alat dan komponen pendukung industri otomotif dan kedirgantaraan memerlukan mesin printer 3D yang inovatif agar mampu mencapai kecepatan proses meningkat delapan kali dari sistem konvensional.

Printer ini menggunakan Screw Extrusion Additive Manufacturing atau disingkat SEAM—merupakan  proses yang dikembangkan di Chemnitz Institute, ungkap rilis Fraunhofer.

Bagaimana SEAM mencapai kecepatan proses tinggi ini?

“Dengan menggabungkan teknologi alat mesin dengan mesin pencetakan 3D,” ujar Dr. Martin Kausch, seorang ilmuwan di Fraunhofer IWU.

Untuk memproses plastik, para peneliti menggunakan unit mesin yang dirancang khusus agar mampu melelehkan bahan baku (plastik) dan mengeluarkannya sebagai produksi pada tingkat output yang tinggi.

Unit mesin itu dipasang di atas platform konstruksi yang dapat diputar dalam enam sumbu dengan menggunakan sistem gerak alat mesin.

“Sejauh ini, kombinasi mesin dan teknologi ini cukup unik,” imbuh  Dr. Martin Kausch sambil tersenyum.

Bahan plastik yang telah panas disimpan  dalam bentuk berlapis-lapis pada platform konstruksi. Sistem gerak mesin memastikan bahwa panel konstruksi meluncur di bawah nozzle sedemikian rupa sehingga bentuk komponen yang diprogram sebelumnya diproduksi dengan tepat.

Tabel dapat dipindahkan dengan kecepatan satu meter per detik dalam sumbu X-, Y-, dan Z yang dapat dimiringkan atau diposisikan hingga sudut 450.

“Dengan demikian mesin memungkinkan untuk mencetak delapan kali lebih cepat dari proses konvensional, sangat mengurangi waktu produksi untuk komponen plastik sehingga lebih efisien,” tandas Dr. Martin Kausch.

Teknmologi baru pada printer 3D hasil temuan tim peneliti Fraunhofer mampu memproses bahan dasar dengan lebih hemat biaya.

Setiap jam, hingga tujuh kilogram plastik ditekan melalui nosel panas dengan diameter satu milimeter.

Proses pencetakan 3D yang sebanding seperti Fused Deposition Modeling (FDM) atau Fused Filament Modeling (FLM), biasanya hanya mencapai 50 gram plastik per jam. Jauh sekali perbedaan jumlah produksinya.

Para pelaku industri manufaktur di Indonesia dan ASEAN sebaiknya mengadopsi kelebihan mesin screw extrusion additive manufacturing dibanding printer 3D konvensional  yang rahasianya telah diungkap oleh para peneliti.

Akan tetapi, kita masih penasaran, apa yang dimaksud dengan additive manufacturing dan apa manfaatnya? Simak jawabannya pada artikel lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *