Thursday
08 October 2026

Industri Manufaktur Menerapkan AI agar Energi Efisien dan Keberlanjutan

Sebanyak 48 persen perusahaan menerapkan AI—menunjukkan  potensi awal teknologi sebagai akselerator keberlanjutan. Dua dari 5 perusahaan menyebut dinamika geopolitik tinggi sebagai hambatan investasi keberlanjutan di Indonesia.

Sebanyak 36 persen perusahaan berencana menginvestasikan sedikitnya US$1 juta untuk inisiatif keberlanjutan dalam dua tahun ke depan (Foto/@: Schneider Electric)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Schneider Electric (sumber): Manufaktur menerapkan AI di tengah tekanan biaya energi, volatilitas rantai pasok, dan tuntutan untuk pengurangan emisi.

Industri manufaktur di Indonesia makin pro-aktif memosisikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai komponen kunci dalam strategi operasional berkelanjutan. 



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Temuan dari survei Green Impact Gap 2025 yang dilakukan oleh Schneider Electric menunjukkan bahwa hampir separuh perusahaan di Indonesia telah mengadopsi AI untuk pencapaian target keberlanjutan.

Hal itu menandai fase awal transformasi digital industri yang tidak lagi berfokus semata pada otomatisasi, tetapi pada efisiensi energi, optimalisasi sumber daya, dan ketahanan bisnis jangka panjang.

Perusahaan Schneider Electric, pemimpin global dalam teknologi energi, mengumumkan hasil survei tahunan Green Impact Gap yang mengungkap bahwa para pemimpin perusahaan di Indonesia semakin memandang keberlanjutan sebagai penggerak pertumbuhan dan peningkatan daya saing.

Manajemen perusahaan menyadari bahwa ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih menjadi hambatan dalam meningkatkan investasi pada inisiatif keberlanjutan.

Tahun 2025 merupakan salah satu tahun dengan dinamika perubahan yang tinggi. Sebanyak  32 persen chief executive officer (CEO) di Indonesia menyatakan bahwa perusahaan menerapkan agenda keberlanjutan untuk memperkuat ketahanan terhadap disrupsi yang terjadi, naik dari 23 persen dibandingkan tahun 2023.

Tahun 2023  merupakan kali pertama survei dilakukan. Selain itu, 43 persen CEO menyatakan bahwa keberlanjutan meningkatkan citra dan reputasi perusahaan (naik dari 25 persen dari 2023), dan 49 persen memprioritaskan agenda keberlanjutan untuk mendorong efisiensi biaya (naik dari 37 persen  dari 2023).

Sebanyak 51 persen CEO menilai keberlanjutan dapat menciptakan peluang bisnis, hal tersebut konsisten dengan hasil di tahun 2023. 

Angka ini menunjukkan perubahan pandangan bahwa keberlanjutan kini bukan lagi sebagai agenda pelengkap, melainkan bagian inti dari strategi bisnis untuk menghadapi dinamika pasar.

Sementara ketidakpastian ekonomi, regulasi, dan kebijakan masih menjadi penghambat utama investasi keberlanjutan di Indonesia. Hambatan seperti minimnya insentif (turun 7 poin menjadi 33 persen), kurangnya data pasar (turun 5 poin menjadi 21 persen).

Sedangkan  hambatan birokrasi (turun 15 poin menjadi 36 persen), mengalami penurunan signifikan sejak 2023. Hal ini menandakan bahwa iklim investasi keberlanjutan di Indonesia semakin kondusif bagi pelaku usaha.

AI membuka peluang efisiensi biaya dan energi

Teknologi digital seperti kecerdasan buatan (AI) semakin terbukti membantu perusahaan di Indonesia dalam mengelola risiko finansial dan konsumsi energi. 

Saat ini, hampir separuh perusahaan memanfaatkan solusi berbasis AI untuk mencapai target keberlanjutan mereka. 

Sebanyak 37 persen perusahaan menggunakan AI untuk mengoptimalkan proses dan pemanfaatan sumber daya, menjadikannya sebagai teknologi digital yang paling banyak diterapkan untuk keberlanjutan. 

Angka tersebut melonjak signifikan setelah sebelumnya di tahun 2024 menempati posisi keempat.

Lebih lanjut, Perusahaan di Indonesia menilai bahwa manfaat terbesar dari penerapan AI untuk keberlanjutan terletak pada otomatisasi pengumpulan dan pelaporan data (49 persen), optimasi konsumsi energi (43 persen), serta dukungan untuk desain dan pengembangan produk (47 persen).

Pemanfaatan AI untuk optimasi energi ini secara langsung menjawab risiko energi yang terus berulang, di mana hampir 45 persen perusahaan di Indonesia menyebut bahwa fluktuasi harga energi sebagai risiko utama. 

Hal ini masih menjadi sebuah tren yang konsisten sejak 2023 di seluruh negara yang disurvei. Pusat data krusial dalam mendorong inovasi berbasis keberlanjutan. 

Dari seluruh sektor, pelaku industri pusat data menjadi yang paling banyak menyebut inovasi dan daya saing sebagai pendorong utama agenda keberlanjutan, dengan 51 persen responden menunjukkan hal tersebut, naik dari tahun sebelumnya di 48 persen. 

Selain itu, 65 persen menyatakan bahwa investasi pada inovasi dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadapi lonjakan permintaan daya komputasi di Indonesia, sekaligus memastikan operasional yang lebih efisien dan rendah emisi.

Di tengah meningkatnya diskusi global mengenai kebutuhan energi untuk AI, sebanyak 37 persen  pemimpin bisnis di Indonesia menerapkan kebijakan green IT untuk menurunkan jejak karbon dari proses komputasi dan penyimpanan data. 

Pada saat yang sama, hambatan dekarbonisasi terus menurun, termasuk berkurangnya laporan mengenai minimnya alternatif energi bersih (26 persen, turun dari 35 persen pada 2023), dan kurangnya sumber daya pendukung (21 persen, turun dari 26 persen).

Selanjutnya, imaturitas teknologi energi bersih (33 persen, turun dari 45 persen), serta hambatan regulasi (31 persen, turun dari 41 persen). Perkembangan ini menunjukkan iklim yang semakin kondusif bagi percepatan transformasi keberlanjutan di berbagai sektor.

Investasi tetap stabil di tengah dinamika ekonomi

Dengan semakin jelasnya kontribusi keberlanjutan terhadap kinerja bisnis, rencana investasi Perusahaan di Indonesia tetap stabil, dengan 40 persen di antaranya berencana mengalokasikan sedikitnya US$1 juta untuk inisiatif keberlanjutan dalam dua tahun ke depan. 

Meski demikian, sejumlah hambatan masih membayangi, terutama ketidakpastian ekonomi (49 persen), ketidakpastian kebijakan dan regulasi (43 persen), serta ketidakstabilan geopolitik (39 persen), yang menjadi faktor utama dalam pertimbangan investasi sektor swasta.

Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste (Foto/@: Schneider Electric)

“Perusahaan di Indonesia menjadikan keberlanjutan sebagai langkah strategis untuk terus bertumbuh di tengah situasi bisnis yang penuh dinamika,” tutur Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste. 

“Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan di kawasan ini, para pelaku bisnis bergerak lebih awal memanfaatkan digitalisasi dan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang.”

Walaupun komitmen perusahaan di Indonesia terhadap keberlanjutan terus menguat, survei ini  menunjukkan adanya Green Impact Gap—sebuah kesenjangan antara target keberlanjutan dan aksi nyata untuk mencapainya. 

Tahun 2025, 97 persen perusahaan di Indonesia memiliki target keberlanjutan, namun kurang dari separuh yang telah mengambil langkah komprehensif untuk mencapainya. Kesenjangan itu konsisten berada di sekitar 48 persen sejak 2023.  

Akan tetapi, tahun 2025 dianggap sebagai titik penting menuju target iklim tahun 2030. Perusahaan di Indonesia menunjukkan keyakinan tinggi bahwa mereka dapat mencapai atau bahkan melampaui target tersebut. 

Sebanyak 89 persen perusahaan merasa yakin terhadap pencapaian target tahun 2030, dan 23 persen di antaranya mengaku sudah berada tiga tahun lebih cepat dari jadwal. 

Perusahaan yang targetnya telah diverifikasi oleh pihak ketiga menunjukkan tingkat keyakinan yang lebih kuat, dengan 44 persen menyatakan sudah tiga tahun lebih cepat dari rencana. 

Sementara itu, perusahaan yang membuat komitmen keberlanjutan secara umum namun tidak melaporkan progresnya secara terbuka justru paling banyak yang berpotensi tidak mampu mencapai target di tahun 2030, yaitu 15 persen. 

Situasi ini menegaskan bahwa akuntabilitas publik dan verifikasi independen berperan penting dalam keseriusan dan keakuratan pelaporan keberlanjutan.

Memasuki tahun ketiga, survei Schneider Electric Green Impact Gap dilakukan terhadap 4.500 pemimpin bisnis di sembilan negara di Asia yakni: Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Survei dilakukan berkerjasama dengan Milieu Insight dan menargetkan eksekutif tingkat menengah hingga senior di sektor swasta. Para responden menjawab 30 pertanyaan mengenai prioritas keberlanjutan dan dampaknya terhadap bisnis mereka. 

Adopsi AI di sektor manufaktur dan industry lainnya di Indonesia menandai babak baru transformasi industri menuju efisiensi energi dan keberlanjutan yang terukur. 

Di tengah ketidakpastian global dan tekanan biaya produksi, AI hadir sebagai enabler strategis yang menjembatani produktivitas dan keberlanjutan. 

Ke depan, industri manufaktur yang mampu mengintegrasikan AI secara menyeluruh dalam operasi pabrik akan memiliki keunggulan kompetitif dalam membangun pertumbuhan yang tangguh dan berkelanjutan. #SalamSobatmmINDUSTRI


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik