Wednesday
07 October 2026

Eksoskeleton Bantu Penyandang Disabilitas Kembali Bekerja

Eksoskeleton membantu penyandang disabilitas kembali bekerja dengan proses seleksi sistem yang disesuaikan dengan kondisi individu, tugas, dan lingkungan kerja.

Seorang mencoba eksoskeleton saat festival sains di Kampus Fraunhofer, Stuttgart, Jerman, belum lama ini (Foto/©: /Foto: Ludmilla Parsyak/Fraunhofer IAO)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IPA (sumber): Eksoskeleton berpotensi membantu orang yang memiliki keterbatasan kesehatan atau disabilitas untuk tetap bekerja maupun kembali ke dunia kerja. 

Melalui RehaCare Expo di Düsseldorf, Jerman, September 2026 tim Fraunhofer IPA memperkenalkan penerapan eksoskeleton sebagai teknologi pendukung reintegrasi kerja, sekaligus menekankan pentingnya memilih sistem yang sesuai dengan kondisi pengguna, jenis pekerjaan, dan lingkungan kerja.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Eksoskeleton dapat membantu orang dengan keterbatasan kesehatan untuk tetap bekerja atau kembali bekerja. Tim  Fraunhofer IPA mendemonstrasikan bagaimana eksoskeleton penunjang kerja dapat secara praktis mendukung reintegrasi ke dunia kerja—dan  alasan pemilihan sistem yang tepat.

Orang yang pekerjaannya melibatkan banyak aktivitas seperti mengangkat suatu barang, membawa, berjalan, atau memindahkan beban berat membutuhkan kekuatan fisik dan daya tahan tubuh. 

Ketika penyakit kambuh, atau seseorang itu adalah disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik dan beban semakin bertambah membuat suatu pekerjaan sulit dilakukan, perjalanan dan rutinitas sehari-hari pun dengan cepat menjadi beban. 

Faktor-faktor keseharian ini dapat menentukan apakah seseorang bisa terus bekerja atau harus perlahan mundur dari dunia profesional. 

Pameran RehaCare yang dilaksanakan di Düsseldorf pada 23 – 26 September 2026, tim Fraunhofer IPA mendemonstrasikan cara bagaimana eksoskeleton dapat berkontribusi pada reintegrasi kerja dalam situasi semacam itu.

Eksoskeleton adalah sistem teknis yang dapat dikenakan untuk menunjang gerakan atau postur tubuh. Di dunia industri, alat ini terutama digunakan dalam upaya pencegahan primer guna mengurangi beban fisik dan mencegah gangguan kesehatan. 

Tim ahli Fraunhofer IPA lebih berfokus pada penerapan yang berbeda: kompensasi disabilitas secara individual di tempat kerja dalam konteks pencegahan sekunder dan tersier. 

Pertanyaan khususnya adalah apakah eksoskeleton dapat membantu seseorang untuk mempertahankan pekerjaannya atau kembali bekerja setelah mengalami masalah kesehatan serius? 

Apakah semua eksoskeleton cocok bagi setiap orang?

Di sinilah letak tantangannya. Saat ini, pasar menawarkan lebih dari 100 sistem yang berbeda. Sistem-sistem tersebut menopang berbagai bagian tubuh, bekerja secara pasif maupun aktif, dan kesesuaiannya bergantung pada lingkungan serta jenis aktivitas yang dilakukan. 

Apa yang tampak masuk akal di atas kertas belum tentu efektif dalam kehidupan sehari-hari. Faktor penentunya adalah apakah suatu sistem kompatibel dengan kemampuan fisik individu, aktivitas yang dilakukan, lingkungan kerja, serta tingkat penerimaan pribadi pengguna. 

“Pertanyaannya bukan apakah eksoskeleton dapat memberikan dukungan secara prinsip, melainkan dalam kondisi seperti apa alat ini sebaiknya digunakan,” ungkap Urban Daub peneliti Fraunhofer IPA. 

“Jika eksoskeleton dipertimbangkan sebagai langkah reintegrasi kerja, Anda tidak bisa sekadar memilih sistem apa pun. Sistem tersebut harus sesuai dengan individu, tugas, dan rutinitas kerja sehari-hari,” lanjut Urban Daub.

Hambatan praktis dalam penggunaan eksoskeleton meliputi ruang gerak yang terbatas serta kompatibilitas dengan pakaian kerja dan alat bantu yang sudah ada. Selain itu, prasyarat medis harus diperjelas bagi individu yang memiliki kondisi kesehatan tertentu sebelumnya. 

Faktor psikososial juga berperan penting: penggunaan sistem dalam jangka panjang hanya dapat terwujud jika pengguna menerimanya dalam kehidupan sehari-hari dan merasa aman saat menggunakannya.

Proses seleksi yang terstruktur

Dalam sebuah proyek percontohan, Fraunhofer IPA bekerja sama dengan 13 kantor inklusi dan integrasi untuk mengembangkan proses terstruktur guna mengevaluasi eksoskeleton secara sistematis bagi penyandang disabilitas berat. 

Titik awalnya bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan situasi kerja individu yang bersangkutan.

Proses seleksi ini mencakup beberapa tahapan: Pertama, situasi spesifik individu dan tempat kerja dinilai. Berdasarkan penilaian tersebut, dilakukan seleksi awal terhadap sistem yang dianggap sesuai. 

Kedua, eksoskeleton diuji langsung di tempat kerja yang didampingi oleh tim Fraunhofer IPA. Sistem yang tepat kemudian ditentukan, diikuti oleh masa uji coba selama dua minggu dan disertai dengan pengisian kuesioner. 

Ketiga, dilakukan evaluasi bersama yang melibatkan individu terkait, layanan penasihat teknis, perwakilan karyawan penyandang disabilitas berat, serta dokter. Hasil proyek ini juga berfungsi sebagai sarana pendukung pengambilan keputusan. 

Tujuannya adalah membantu kantor inklusi dan integrasi di masa mendatang dalam mengevaluasi eksoskeleton secara menyeluruh sebagai langkah untuk mendukung partisipasi dalam dunia kerja.

Manfaatnya melampaui kasus individu: Mengidentifikasi sistem yang tepat sejak awal dan memilihnya secara lebih akurat dapat mencegah pengambilan keputusan yang keliru. 

Hal ini menghemat waktu dan sumber daya, meningkatkan peluang keberhasilan, serta memperkuat dasar pengambilan keputusan yang transparan dalam proses konsultasi dan persetujuan. Bagi perusahaan, hal ini dapat berarti mempertahankan karyawan berpengalaman lebih lama. 

Bagi individu yang bersangkutan, hal ini dapat menjamin partisipasi profesional mereka.

Mereka menampilkan beberapa produsen eksoskeleton, dan publik (pengunjung) berkesempatan untuk mengeksplorasi dan mencoba berbagai sistem. Bagaimana rasanya mengenakan sistem-sistem tersebut, dan bagaimana alat-alat itu mendukung pergerakan? 

Memungkinkan partisipasi profesional bersama

Melalui RehaCare 2026, Fraunhofer IPA  mendorong pertukaran gagasan mengenai inklusi dalam dunia kerja. 

Selama pameran berbagai pihak baik individu yang terdampak, tenaga ahli di bidang rehabilitasi dan kedokteran kerja, penyedia layanan, pusat konseling, hingga perusahaan dan produsen dapat berdiskusi. 

Dialog semacam ini sangatlah penting, terutama untuk topik yang sangat bergantung pada kondisi individu masing-masing.

Di saat yang sama, penelitian lebih lanjut juga diperlukan. Studi berkelanjutan dibutuhkan untuk menentukan kondisi medis, aktivitas, serta kondisi kerja seperti apa yang memungkinkan penggunaan eksoskeleton secara efektif dalam jangka panjang. 

Berbagai pertanyaan terkait pembiayaan dan dukungan dalam keseharian kerja juga perlu diperjelas lebih lanjut oleh para pemangku kepentingan.

Hasil pekerjaan tim Fraunhofer IPA dengan para mitranya adalah proyek percontohan yang diharapkan dapat membantu penerapan eksoskeleton secara tepat sasaran—yakni pada situasi di mana alat tersebut benar-benar memberikan dampak nyata—sehingga pada akhirnya mempermudah proses kembali bekerja. 

Penggunaan eksoskeleton sebaiknya tidak dilakukan dengan pendekatan satu sistem untuk semua pekerja. 

Setiap perangkat perlu dinilai berdasarkan kemampuan fisik pengguna, aktivitas pekerjaan, kondisi tempat kerja, pakaian kerja, perangkat bantu yang sudah digunakan, serta tingkat kenyamanan dan penerimaan pengguna.

Pendekatan terstruktur seperti yang dikembangkan Fraunhofer IPA bersama 13 kantor inklusi dan integrasi dapat menjadi acuan. 

Prosesnya dimulai dengan penilaian kondisi individu dan pekerjaan, dilanjutkan pemilihan awal perangkat, pengujian langsung di tempat kerja, masa uji coba selama dua minggu, serta evaluasi bersama pengguna, tenaga ahli, perwakilan pekerja disabilitas berat, dan dokter.

Bagi perusahaan, pemilihan eksoskeleton yang tepat berpotensi membantu mempertahankan pekerja berpengalaman lebih lama. 

Bagi pekerja dengan keterbatasan fisik, teknologi ini dapat membuka peluang untuk mempertahankan partisipasi profesional atau kembali bekerja setelah mengalami masalah kesehatan.

Eksoskeleton bukan sekadar teknologi untuk mengurangi beban fisik, tetapi juga berpotensi menjadi alat pendukung inklusi dan reintegrasi kerja. Efektivitasnya sangat bergantung pada kecocokan antara perangkat, pengguna, tugas, dan lingkungan kerja. 

Oleh karena itu, evaluasi langsung serta masa uji coba menjadi langkah penting sebelum sistem diterapkan secara permanen. 

Pengembangan penelitian, pembiayaan, dan dukungan penggunaan sehari-hari juga masih diperlukan agar eksoskeleton benar-benar memberikan manfaat bagi pekerja dengan keterbatasan kesehatan. #SalamSobatmmINDUSTRI


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik