Kesepakatan tarif listrik antara PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dan PT PLN Indonesia Power untuk proyek PLTP Lahendong 15 MW menjadi langkah strategis menuju konstruksi dan percepatan transisi energi bersih nasional.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan’
mmINDUSTRI.co.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (sumber): Konsorsium PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. dan PT PLN Indonesia Power mencapai kesepakatan tarif listrik dengan PT PLN (Persero) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW.
Kesepakatan ini menjadi milestone krusial yang membuka jalan proyek ke tahap pengembangan lanjutan, sekaligus mempercepat optimalisasi energi panas bumi sebagai pilar utama transisi energi bersih Indonesia.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Penandatanganan yang dilakukan di Bandung belum lama ini menjadi bagian dari proses pengembangan proyek sekaligus menegaskan komitgmen para pihak dalam mendorong pemanfaatan energi panas bumi secara lebih optimal sebagai sumber energi bersih yang berkelanjutan.
Kesepakatan tarif yang dicapai juga merupakan salah satu langkah penting dalam proses pengadaan pembangkit melalui skema Independent Power Producer (IPP) sebelum proyek memasuki tahap pengembangan selanjutnya.
Proyek PLTP Lahendong Bottoming Unit merupakan pengembangan pembangkit yang memanfaatkan teknologi binary atau bottoming cycle. Teknologi ini mengolah panas sisa dari operasi pembangkit panas bumi eksisting untuk menghasilkan tambahan listrik.
Melalui pendekatan tersebut, dengan bottoming cycle memungkinkan pemanfaatan sumber daya panas bumi secara lebih optimal dengan menangkap energi panas yang sebelumnya belum dimanfaatkan dalam proses pembangkitan.
Dalam konteks panas bumi, binary cycle adalah sistem pembangkit sekunder yang menggunakan fluida kerja tambahan (biasanya cairan dengan titik didih rendah seperti isobutane atau pentane) untuk menghasilkan listrik dari panas yang tidak cukup tinggi untuk menggerakkan turbin utama.
Teknologi binary atau bottoming cycle pada pembangkit panas bumi adalah metode dengan memanfaatkan panas sisa atau waste heat dari proses pembangkitan utama agar bisa diubah kembali menjadi listrik tambahan.
Intinya: energi yang sebelumnya “terbuang” dimanfaatkan ulang supaya efisiensi pembangkit meningkat.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk., Ahmad Yani menyampaikan bahwa capaian ini merupakan langkah lanjutan PGE bersama PLN IP dalam mendukung percepatan transisi energi nasional berbasis energi bersih.
“Kami menyambut baik perkembangan proyek ini yang terus berjalan sesuai rencana. Pemanfaatan teknologi bottoming memungkinkan potensi energi panas bumi yang masih tersedia dari operasi pembangkit eksisting dapat dimanfaatkan secara lebih optimal,” ungkap Ahmad Yani.
Melalui teknologi ini, panas sisa yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik, sehingga meningkatkan efisiensi pembangkitan sekaligus memperkuat kontribusi panas bumi dalam bauran energi bersih nasional.
Ke depan, lanjug Ahmad Yani, pihak PGE siap melanjutkan proyek ini ke tahapan berikutnya agar manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat.
Setelah kesepakatan tarif tercapai, pengembangan proyek akan dilanjutkan dengan sejumlah tahapan lanjutan. Tahapan tersebut meliputi pembentukan joint venture, pelaksanaan proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC), hingga penyusunan Power Purchase Agreement (PPA).
Melalui tahapan tersebut, proyek ini ditargetkan dapat mencapai Commercial Operation Date (COD) pada tahun 2028.
Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, PGE dan PLN IP juga telah mencapai kesepakatan tarif listrik untuk proyek PLTP Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 MW.
Kedua proyek ini merupakan bagian dari sinergi dua afiliasi BUMN di bawah PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) tersebut, dalam pengembangan energi panas bumi di 19 proyek eksisting dengan total kapasitas sekitar 530 MW.
PGE pionir pengembangan energi panas bumi
Sebagai pionir pengembangan energi panas bumi di Indonesia dengan pengalaman lebih dari empat dekade, PGE terus memperluas pemanfaatan potensi panas bumi melalui berbagai inovasi teknologi serta pengembangan proyek strategis.
Saat ini, PGE mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW dari enam wilayah operasi (own operation). Selain itu, PGE turut mengembangkan sejumlah proyek untuk mendukung peningkatan kapasitas terpasang dalam beberapa tahun ke depan.
Kita bayangkan sebuah pembangkit panas bumi seperti mesin yang sudah bekerja keras setiap hari. Uap panas dari dalam bumi naik ke permukaan, memutar turbin, lalu menghasilkan listrik untuk ribuan unit rumah.
Setelah turbin berputar, ternyata masih ada satu hal yang sering luput dari perhatian: panasnya belum sepenuhnya habis. Di banyak pembangkit konvensional, sisa panas ini biasanya langsung didinginkan dan dikembalikan ke dalam tanah. Aman, efisien—tapi belum maksimal.
Akan tetapi, dengan teknologi binary atau bottoming cycle, sisa panas itu tidak lagi dianggap sebagai “limbah energi”, melainkan sebagai peluang baru. Panas yang masih tersisa dialirkan ke sebuah sistem tambahan, lalu digunakan untuk memanaskan fluida khusus yang memiliki titik didih lebih rendah dibanding air.
Begitu terkena panas, fluida ini langsung menguap dan menciptakan tekanan baru—cukup untuk memutar turbin kedua. Turbin ini memang lebih kecil, tetapi perannya signifikan: menghasilkan listrik tambahan tanpa perlu mengebor sumur baru atau mencari sumber energi baru.
Pendekatan ini bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi juga perubahan cara berpikir. Jika sebelumnya fokus industri adalah eksplorasi dan ekspansi, kini efisiensi dan optimalisasi menjadi sama pentingnya.
Proyek seperti yang dikembangkan oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk bersama PT PLN Indonesia Power menunjukkan bagaimana strategi ini diterapkan secara nyata. Dengan menambahkan unit bottoming pada pembangkit eksisting, kapasitas listrik bisa meningkat tanpa jejak lingkungan yang signifikan.
Bagi industri, ini memberi pesan yang jelas: masa depan energi bersih tidak selalu berarti membangun dari nol. Terkadang, dampak terbesar justru datang dari bagaimana kita memaksimalkan apa yang sudah ada.
Dan bagi Indonesia, langkah seperti ini menjadi penting. Di tengah dorongan menuju transisi energi, setiap tambahan megawatt dari sumber bersih adalah kontribusi nyata—terutama jika diperoleh dengan cara yang lebih efisien, lebih cepat, dan lebih berkelanjutan.
Kesepakatan ini menegaskan bahwa model kolaborasi berbasis sinergi BUMN dan skema Independent Power Producer (IPP) semakin matang dan layak direplikasi. Pemanfaatan teknologi bottoming cycle juga menunjukkan bahwa efisiensi energi tidak selalu membutuhkan eksplorasi baru, melainkan dapat dihasilkan dari optimalisasi aset eksisting.
Ini membuka peluang besar bagi pelaku industri untuk: mengembangkan inovasi berbasis efisiensi energi; mengadopsi teknologi peningkatan output (retrofit & optimization); dan memperkuat kemitraan strategis lintas sektor.
Selamat kepada PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. dan PT PLN Indonesia Power, keberhasilan ini menjadi validasi kuat atas efektivitas kolaborasi yang telah dibangun.
Konsistensi dalam melanjutkan kerja sama serupa akan menjadi kunci untuk: mempercepat pipeline proyek geothermal nasional; memaksimalkan potensi dari 19 proyek eksisting; dan mendorong pencapaian target bauran energi bersih.
Kolaborasi ini bukan sekadar proyek, melainkan fondasi ekosistem energi berkelanjutan yang berdampak luas—baik bagi ketahanan energi nasional maupun agenda dekarbonisasi global.
Ke depan, menjaga momentum dan eksekusi yang disiplin akan menjadi pembeda antara proyek yang berjalan dan proyek yang benar-benar memberi dampak.
Bahan yang redaksi olah berdasarkan press release yang dikirimkan oleh Muhammad Taufik, Manager Corporate Communication & CSR PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. dan bahan lain dari beberapa sumber. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form