Wednesday
07 October 2026

Adopsi Network Slicing dan 5G Global Melonjak Hingga 2031

Berdasarkan  teknologi atau adopsi  network slicing, sebanyak 33 operator telekomunikasi selular menyediakan layanan konektivitas yang berbeda-beda—dari total  gabungan yang mencapai 65 penawaran. Apa yang terbaru dari Ericsson Mobility Report (EMR)? 

Ilustrasi Ericsson Mobility Report (Foto/@: Ericsson)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Ericsson Indonesia (sumber): Ericsson Mobility Report (EMR) terbaru mencatat percepatan signifikan dalam pemanfaatan layanan konektivitas terdiferensiasi berbasis teknologi network slicing, dengan 33 operator seluler global—menawarkan 65 paket layanan komersial. 

Laporan tersebut memprediksi bahwa langganan 5G akan mencapai 6,4 miliar pada akhir 2031, setara dua pertiga dari total pelanggan seluler dunia, sementara layanan Fixed Wireless Access (FWA) diperkirakan menjangkau 1,4 miliar pengguna—90 persen di antaranya melalui jaringan 5G.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Menurut Ericsson, network slicing adalah kemampuan jaringan 5G untuk membagi atau slice infrastruktur jaringan fisik yang sama menjadi beberapa jaringan virtual yang terpisah, dan tiap slice memiliki karakteristik performa, keamanan, dan kualitas layanan (QoS) yang berbeda sesuai kebutuhan pengguna atau aplikasi.

Penerapan 5G Standalone (5G SA) mendorong pertumbuhan signifikan pada tahun 2025 dalam jumlah operator telekomunikasi seluler yang menawarkan model layanan konektivitas yang berbeda berdasarkan 5G SA Network Slicing. 

Dengan teknologi ini, operator telekomunikasi  menjamin kualitas layanan untuk berbagai kebutuhan pelanggan dengan menyediakan potongan jaringan khusus. 

Statistik ini merupakan bagian dari laporan mendalam, analisis, dan perkiraan dalam Ericsson Mobility Report (EMR) pada November 2025.

Lebih dari 90 operator telekomunikasi  meluncurkan atau melakukan peluncuran awal jaringan 5G Standalone (5G SA)—peningkatan sekitar 30 operator telekomunikasi  dibandingkan periode yang sama tahun 2024 dan 20 operator telekomunikasi dibandingkan laporan EMR Juni 2025.

Tim peneliti EMR mengidentifikasi 118 kasus di 56 operator telekomunikasi, di mana pemotongan jaringan digunakan untuk menyediakan layanan konektivitas yang terdiferensiasi. 

Dari 118 kasus, sebanyak 65 kasus yang tersebar di 33 CSP telah melewati tahap proof of concept dan sudah masuk ke layanan komersial. Layanan tersebut hadir dalam bentuk paket berlangganan atau paket add-on yang digunakan oleh pelanggan konsumen mau pun bisnis.

Dari 65 penawaran komersial, hampir sepertiga di antaranya (21 penawaran), diluncurkan pada tahun 2025.

“Kami melihat, penyedia layanan telekomunikasi di seluruh dunia semakin siap untuk mengadopsi dan menerapkan 5G SA untuk menghadirkan konektivitas yang terdiferensiasi berdasarkan layanan berbasis nilai, bukan sekadar paket berbasis volume data,” cerita Erik Ekudden, penerbit EMR merangkap Chief Technology Officer Ericsson. 

“Seperti yang terlihat pada studi kasus dalam edisi EMR ini, 5G SA membuka peluang konektivitas yang terdiferensiasi. Kami melihat banyak penyedia layanan beralih dari tahap proof-of-concept ke penerapan komersial selama tahun 2025. Perkirakan kami, tren tersebut terus berlanjut.”

Mendorong transformasi digital nasional di Indonesia

Sedangkan President Director Ericsson Indonesia, Singapura, Filipina, dan Brunei, Daniel Ode  menambahkan bahwa edisi EMR November 2025  menekankan bagaimana konektivitas yang terdiferensiasi, yang dimungkinkan oleh 5G SA dan network slicing.

Bagaimana penggunaan 5G di Indonesia (Foto/@: Ericsson)

Hal itu akan berperan penting ketika operator telekomunikasi menghadirkan pengalaman digital yang lebih bermakna bagi industri dan masyarakat. Ericsson tetap berkomitmen mendukung operator di Indonesia untuk membuka kapabilitas ini serta menghadirkan jaringan 5G yang aman dan andal. 

Akan tetapi, ketersediaan spektrum yang cukup dengan harga yang terjangkau tetap menjadi faktor penting. Dengan ekosistem digital yang semakin kuat, Indonesia akan berada pada posisi yang lebih baik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mendorong transformasi digital nasional.  

Isi EMR November 2025 mencakup rentang proyeksi yang baru, mulai tahun 2025 hingga akhir 2031. Periode pelaporan EMR terbaru mencakup perkiraan peluncuran awal layanan komersial 6G. 

Berdasarkan pola adopsi network slicing langganan pada siklus generasi seluler sebelumnya, para peneliti EMR memperkirakan, peluncuran komersial pertama akan dipimpin oleh penyedia layanan terdepan di pasar-pasar maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, China, India, dan beberapa negara di kawasan Gulf Cooperation Council.

Langganan 6G global diperkirakan akan mencapai 180 juta pada akhir 2031, belum termasuk adopsi awal perangkat Internet of Things berbasis AI. Jumlah langganan akan meningkat secara signifikan apabila 6G diluncurkan lebih awal dari yang ditunjukkan oleh siklus generasi sebelumnya.

Peluncuran komersial 6G di Eropa diperkirakan berlangsung sekitar satu tahun lebih lambat dibandingkan negara-negara lain, berbeda dengan 5G sebelumnya, terutama karena penerapan 5G SA di kawasan tersebut relatif lebih lambat.

Sebagai salah satu use case utama 5G yang terus berkembang, enhanced mobile broadband diperkirakan akan mencapai 6,4 miliar langganan 5G pada akhir 2031, atau sekitar dua pertiga dari seluruh langganan seluler pada saat itu. 

Sekitar 4,1 miliar dari jumlah tersebut—sekitar 65 persen—diperkirakan akan berbasis 5G SA. Pada tahun 2025 saja, langganan 5G diperkirakan akan melampaui 2,9 miliar pada akhir 2025—setara dengan sekitar sepertiga dari seluruh langganan seluler saat ini—atau meningkat sekitar 600 juta langganan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi cakupan geografis, tahun 2025 mencatat peningkatan 400 juta orang di seluruh dunia yang dapat mengakses 5G. Sekitar 50 persen populasi global di luar China daratan diperkirakan memiliki cakupan 5G pada akhir 2025.

Trafik data jaringan seluler meningkat 20 persen dari kuartal ketiga 2024 hingga periode yang sama di 2025—kenaikan yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan, didorong oleh China daratan dan India. Pertumbuhan diperkirakan akan terus berlanjut dengan rata-rata tahunan sebesar 16 persen hingga 2031.

Jaringan 5G diperkirakan akan menangani 43 persen dari seluruh trafik data seluler pada akhir 2025—naik dari 34 persen pada periode yang sama tahun lalu. Para ahli yang ikut menyiapkan EMR memperkirakan angka ini akan meningkat menjadi 83 persen pada 2031.  yang

Sementara Fixed Wireless Access (FWA) broadband terus berkembang sebagai salah satu use case 5G. tim EMR November 2025 memperkirakan bahwa sekitar 1,4 miliar orang di seluruh dunia,  mengakses broadband FWA pada akhir 2031, dengan 90 persen di antaranya melalui 5G.

Tim riset EMR mengidentifikasi 159 penyedia layanan telekomunikasi yang saat ini menawarkan layanan FWA melalui 5G, setara dengan sekitar 65 persen dari seluruh penyedia layanan FWA. 

Jumlah penyedia layanan yang menawarkan paket berbasis kecepatan—model monetisasi yang umum digunakan pada broadband tetap berbasis fiber atau kabel—meningkat dari 43 persen menjadi 54 persen sejak EMR November 2024.

Laporan EMR November 2025 setebal 36 halaman mencakup tiga artikel use case yang ditulis Bersama yang meliputi:

Singtel: 5G SA menghadirkan pengalaman yang sesuai kebutuhan

Softbank: memodernisasi IT perusahaan dengan 5G

SailGP: meningkatkan operasi dan pengalaman penonton dengan 5G

Sejak EMR diluncurkan tahun 2011, laporan ini menjadi acuan utama industri dalam data jaringan, performa, statistik, dan proyeksi berdasarkan wawasan jaringan Ericsson dan mitra-mitranya termasuk di Indonesia. 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik