Wednesday
07 October 2026

Solusi Kekurangan SDM di Sektor Kesehatan

Gunakan AI dan robot sebagai solusi kekurangan SDM bidang kesehatan seperti tenaga perawat yang dibutuhkan tim medis. Bagaimana AI dan robot membantu kita mengatasi kekurangan perawat?

Sektor kesehatan pun telah menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan robot—petugas medis melakukannya secara digital (Foto/@: Fraunhofer IIS)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IIS (sumber): Para ahli menawarkan Solusi untuk mengatasi kekurangan sumber daya manusia (SDM) seperti tenaga perawat yang semakin mendesak di banyak negara, termasuk Indonesia.

Kabar terbaru dari riset-teknologi menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan robot sebagai asisten di ranah keperawatan kini bukanlah sekadar gagasan masa depan—melainkan solusi nyata yang sudah diuji untuk membantu meringankan beban tenaga kesehatan dan meningkatkan kualitas layanan.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Pertanyaan mendasar, haruskah robot merawat kita pada saat jatuh sakit? Mampukah AI dan robot melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan medis?

Apakah AI dapat menggantikan perawatan manusia? Universitas Sains Terapan Protestan Nuremberg di Jerman, bersama dengan Institut Fraunhofer untuk Sirkuit Terpadu (IIS) menyelenggarakan konferensi interdisipliner tentang topik ini beberapa waktu lalu di Nordostpark, Nuremberg, Jerman.

Masa depan digital dalam perawatan

Dapatkah robot merawat pasien ketika terjadi kekurangan tenaga terampil? Bukankah interaksi manusia merupakan aspek terpenting dalam perawatan?

Pertanyaan-pertanyaan ini mendesak, karena jumlah mencapai 280.000 tenaga keperawatan tambahan dibutuhkan dalam perawatan rawat inap dan rawat jalan di Jerman pada tahun-tahun mendatang.

Faktor kunci yang berpotensi meringankan beban mereka yang masih bekerja di bidang perawatan adalah digitalisasi.

Apakah digitalisasi sudah diterapkan atau diadopsi secara memadai di rumah sakit?

Inovasi teknologi seperti robotika dan kecerdasan buatan masih jarang digunakan.

“Profesi keperawatan diharapkan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam pengembangan dan penerapan teknologi ini dari perspektif profesionalnya sendiri. Profesi ini harus memahami potensi masa depannya serta peluang dan keterbatasan penggunaan teknologi,” pendapat Profesor Arne Manzeschke dari Universitas Sains Terapan Protestan Nuremberg.

Antropolog dan ahli etika ini telah meneliti hubungan antara manusia dan teknologi selama bertahun-tahun. Universitas Sains Terapan Protestan Nuremberg menyelenggarakan konferensi tahunan kesembilan dengan topik Teknologi – Etika – Kesehatan.

Konferensi itu bertujuan untuk mendorong pertukaran interdisipliner antara pengembang teknologi, tenaga profesional keperawatan, ilmuwan keperawatan, dan perwakilan politik.

Institusi riset seperti Fraunhofer IIS dan lembaga lainnya memfokuskan pengembangan teknologi robotik dan AI guna mendukung sektor keperawatan: mulai dari robot asistif, sistem pemantauan berbasis sensor, hingga data kesehatan terintegrasi demikian igd.fraunhofer.de

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Notre Dame menemukan bahwa penggunaan robot di panti jompo di Jepang berasosiasi dengan peningkatan retensi karyawan, serta kualitas perawatan pasien yang lebih baik — misalnya penurunan luka tekan atau pressure ulcers karena mobilitas yang terbantu robotika kutip ScienceDaily.

Fraunhofer mengangkat topik ini bahwa penggunaan robot sebagai asisten multifungsi dapat menjalankan tugas-tugas yang selama ini membebani perawat — seperti dokumentasi, transportasi material, pemantauan pasien.

Maka perawat bisa lebih fokus ke aspek “kehadiran manusia” yang tidak bisa digantikan mesin saat merawat pasien.

Di ranah logistik rumah sakit, misalnya Fraunhofer IML mengembangkan robot transport RemRob yang bisa mengendalikan logistik internal rumah sakit (misalnya pengiriman peralatan medis) secara otomatis, sehingga membantu mengurangi beban perawat terhadap tugas non-klinis

Meski demikian tantangan tetap harus dihadapi walau potensi besar, penerapan teknologi ini harus memperhatikan aspek keamanan, etika, penerimaan tenaga kesehatan dan pasien, adaptasi infrastruktur, serta integrasi ke dalam workflow klinik seperti dilaporkan aicommission.org

Peluang bagi Indonesia

Konferensi yang berlangsung di Nordostpark, Nuremberg, yang bersama dengan Asosiasi Bavaria untuk Perawatan Lansia Kota, merupakan mitra kerja sama.

Para pembicara ternama membahas implikasi etis dari penggunaan teknologi, potensi teknologi yang ada, dan kebutuhan staf keperawatan. Para peneliti berbagi pengalaman awal mereka dengan robot dalam perawatan keperawatan sehari-hari.

Apa peluang bagi Indonesia? Dengan tetap mempertimbangkan regulasi, biaya, dan konteks budaya, rumah sakit dan institusi perawatan di Indonesia bisa mulai pilot-proyek robot asisten atau sistem AI untuk tugas non-klinis (seperti transport barang, dokumentasi, monitoring dasar).

Oleh sebab itu, kolaborasi riset dan institusi teknologi sangat penting. Instansi pemerintah, pengelola fasilitas kesehatan, dan startup/peneliti teknologi harus bersinergi untuk merancang solusi yang sesuai dengan karakteristik pelayanan di Indonesia (misalnya ukuran institusi, kepadatan ruang, jenis perawatan).

Implementasi teknologi harus diiringi dengan pelatihan tenaga kesehatan agar terbiasa dengan kerja sama manusia-mesin, serta sosialisasi kepada pasien agar tidak menganggap robot “menggantikan” perawat tetapi “membantu”.

Kita memulai dengan skenario terbatas (misalnya satu ward, satu tugas spesifik) untuk mengukur efek terhadap beban kerja, kualitas perawatan, dan kepuasan tenaga kesehatan/pasien sebelum diterapkan secara luas.

Oleh karena teknologi seperti AI dan robot akan memproses data pasien dan berinteraksi secara fisik, penting untuk memastikan keamanan data, transparansi proses, dan aspek perlindungan pasien sesuai standar lokal/internasional.

Teknologi kecerdasan buatan dan robotik bukanlah pengganti tenaga perawat, melainkan pelengkap strategis yang mampu meringankan beban tugas non-klinis dan memberi ruang bagi perawat untuk mengoptimalkan peran kemanusiaan mereka.

Di tengah tantangan kekurangan tenaga keperawatan global (dan yang juga relevan untuk Indonesia), pendekatan ini menawarkan solusi yang menjanjikan—tentu saja pengimplementasiannya dilakukan dengan hati-hati, terukur, dan sesuai konteks lokal.

Dengan demikian, sektor kesehatan Indonesia bisa memanfaatkan gelombang inovasi untuk memperkuat kualitas layanan dan keberlangsungan SDM keperawatan.

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik