Resonansi keresahan terhadap efek rumah kasa mencuat dan tergetar lewat sejumlah lagu. Jika pertunjukan para musisi dilengkapi dengan slide show maka misi isyu lingkungan lebih bergaung, bukan hiburan semata.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – sonic/panic (sumber): Apa kaitan efek rumah kaca dengan para musisi? Penampilan musisi disaksikan oleh lebih 500 orang anak muda—minus pejabat dan pebisnis terkait. Mereka memekikkan Hutan Punah, Kota Musnah.
Guna membantu pemahaman publik terhadap isyu yang dikumandangkan oleh sejumlah musisi, kita garis bawahi pengertian efek rumah kaca yang kita sarikan dari beberapa referensi.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Efek rumah kaca adalah fenomena di mana panas dari sinar matahari yang masuk ke atmosfer bumi tertahan oleh gas-gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan uap air.
Gas-gas itu membentuk lapisan yang memungkinkan radiasi matahari masuk, dan mencegah panas itu keluar kembali ke angkasa. Hal itu menyebabkan peningkatan suhu di permukaan bumi.
Pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batu bara) untuk energi dan transportasi. Dan deforestasi dan perubahan penggunaan lahan yang mengurangi jumlah pohon yang dapat menyerap CO₂.
Demikian pula pertanian dan peternakan yang menghasilkan gas metana serta emisi industri yang menghasilkan berbagai gas rumah kaca.
Oleh sebab itu, terjadilah peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan yang menyebabkan kebakaran hutan lebih sering dan merusak habitat alami. Peningkatan suhu dapat memperburuk efek gelombang panas, mengurangi kualitas udara, dan memengaruhi infrastruktur perkotaan.
Terjadi kenaikan permukaan laut akibat pemanasan global yang menyebabkan banjir di daerah pesisir, merusak rumah dan properti, meng hsruskan penduduk untuk mengungsi ke daerah yang lebih nyaman.
Narasi di atas merupakan pesan yang disampaikan oleh para musisi yang bergabung dalam sonic/panic dan melakukan gelaran di M Bloc Space, Jakarta belum lama ini. Mereka memadukan musik dan aksi nyata dalam menghadapi isyu lingkungan yang tambah krisis.
Kolaborasi IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab) dan M Bloc Entertainment bertujuan mengamplifikasi urgensi perlindungan lingkungan. Para musisi terkesan bahwa kebijakan tidak lagi berpihak pada keberlanjutan yang pro-aktif.
Penampilan Musisi Efek Rumah Kaca ft. Adrian Yunan, Barasuara, Endah N Rhesa, Voice of Baceprot, Navicula, REP & Tuantigabelas, Matter Mos, Petra Sihombing, Made Mawut, dan Bachoxs cukup menghentak para penonton.
Wadah sonic/panic (Jakarta) mewakili musisi untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap situasi sosial-politik yang tengah ramai diperbincangkan di Indonesia belakangan ini. Mereka melantumkan lagu-lagu ciptaan mereka yang berisi kritik dan solidaritas terhadap berbagai isyu yang menimpa masyarakat.
Efek Rumah Kaca tampil bersama Adrian Yunan, Robi Navicula, Iga Massardi, Petra Sihombing, dan Endah Widiastuti dari Endah N Rhesa, demikian juga Teddy Adhitya.
“Rasanya sangat berbeda. Dalam proses menciptakan lagu, saya semakin terdorong untuk membahas hal-hal yang lebih nyata dan memiliki dasar yang kuat,” cerita Iga Massardi, salah satu musisi dari album kompilasi sonic/panic. “Hal ini berpengaruh pada album terbaru saya,” lanjut Iga.
Secara artistik, Iga berpesan, dan dari sisi humanis, dia semakin menyadari bahwa setiap hal yang dikonsumsi dan digunakan oleh manusia sehari-hari memiliki dampak negatif. Kesadaran itu membuat Iga Massardi lebih berhati-hati dan bijak dalam memilih produk yang digunakannya.

Eksploitasi sumber daya alam
Para musisi semakin khawatir terhadap kebijakan yang berisiko memperparah eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, serta mengancam ruang hidup masyarakat adat dan ekosistem perkotaan.
Demikian pula isyu pembatasan kebebasan berekspresi melalui musik yang baru-baru ini terjadi juga menunjukkan bahwa suara kritis terhadap isu sosial dan lingkungan masih menghadapi tekanan.
Pengurus sonic/panic mempraktikkan nilai berkelanjutan seperti water refill station sebagai edukasi bagi masyarakat untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai yang tidak diizinkan sepanjang acara.
Hidangan bagi musisi dan panitia tesaji dalam wadah yang dapat didaur ulang. Uniknya, gelang panitia dibuat dari kain perca—pengganti tanda panitia sebagai bentuk komitmen terhadap pengurangan limbah.
Upaya mereka menegaskan: industri musik melangkah nyata untuk lebih ramah lingkungan, dan menginspirasi ekosistem musik yang lebih sadar akan dampaknya terhadap bumi.
sonic/panic mengamplifikasi pesan tentang krisis iklim lewat lagu-lagu dalam album Volume 2 kepada publik. Melalui IKLIM Fest yang digelar pada tahun 2023 dan 2024 di Bali, dan roadshow di Yogyakarta dan Malang.
Album sonic/panic merupakan sebuah kompilasi multi-genre yang menghadirkan warna suara kaya yang disatukan oleh satu fokus utama yaitu panggilan mendesak untuk aksi iklim.
Album kompilasi sonic/panic Volume 2 melibatkan 28 musisi dari berbagai genre yang menyuarakan keprihatinan dan harapan mereka terhadap masa depan bumi. Dengan energi dan semangat yang terbangun di Jakarta.
Musik sebagai alat bersuara tidak berhenti di satu panggung, pesan ini akan terus menggema di berbagai ruang dan platform, menghubungkan lebih banyak orang dalam perjuangan menghadapi krisis iklim.
Para musisi membuat lagu yang mengangkat tema lingkungan, mengadakan konser amal untuk mendukung proyek lingkungan, atau berkolaborasi dengan organisasi lingkungan untuk kampanye kesadaran.
Mereka juga bisa menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan tentang kelestarian alam dan mengajak penggemarnya untuk ikut serta dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Dengan basis penggemar yang luas dan daya tarik global, mereka dapat membawa perhatian pada pentingnya menjaga kelestarian hutan dan ekosistem perkotaan melalui musik, lirik, dan kampanye publik.
Para musisi dapat memainkan peran penting dalam mengingatkan pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian hutan dan ekosistem perkotaan.
Dengan memanfaatkan platform dan basis penggemar mereka, musisi dapat menyuarakan isu lingkungan melalui musik dan kampanye kesadaran.
Contohnya adalah proyek “Musik untuk Bumi” yang diselenggarakan oleh sejumlah musisi Indonesia, yang berhasil mengumpulkan dana untuk reboisasi dan menarik perhatian publik pada pentingnya menjaga lingkungan.
Kontribusi musisi dalam upaya pelestarian alam tidak hanya menginspirasi masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kebijakan dan tindakan nyata untuk masa depan yang lebih hijau. Salam #mmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form