Wednesday
07 October 2026

Risiko Penggunaan Teknologi Ultrasonik Bagi Manusia

Apakah penggunaan teknologi ultrasonik berisiko bagi manusia? Teknologi ultrasonik memanfaatkan gelombang ultrasonik dalam bentuk suara dengan frekuensi di atas batas pendengaran manusia ketika diterapkan. 

Dalam perencanaan terapi, bidang suara dihitung dan ditentukan untuk wilayah tertentu di otak. Sistem Terapi Ultraschall untuk Neurostimulasi (Foto/©: Fraunhofer IBMT)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer (sumber):  Apa yang dimaksud dengan teknologi ultrasonik? Bagaimana penggunaannya dan untuk tujuan apa digunakan?   

Dihimpun dari beberapa sumber, bahwa teknologi ultrasonik memanfaatkan gelombang ultrasonik dalam bentuk suara dengan frekuensi di atas batas pendengaran manusia saat diterapan atau digunakan.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Dunia medis menggunakan teknologi ultrasonik seperti dalam pencitraan ultrasonik (ultrasound). 

Contohnya pada saat memeriksa janin dalam kandungan ibu selama kehamilan, maka teknologi ultrasonik  berguna untuk mengidentifikasi masalah pada organ dalam tubuh, dan mengukur ketebalan lapisan kulit.

Selain itu, teknologi ultrasonik juga digunakan dalam terapi fisik, seperti fisioterapi dan terapi pemulihan cedera.

Apa keunggulan teknologi ultrasonik? Menurut laman news.ciptamedika.com, teknologi ultrasonik tidak memerlukan pembedahan atau tusukan pada tubuh manusia yang tentu saja meminimalisasi risiko infeksi dan mempercepat pemulihan.

Penggunaannya pun tidak memerlukan radiasi seperti pada penggunaan sinar-X. Teknologi ultrasonik tidak menggunakan radiasi ionisasi yang tentunya lebih aman bagi pasien.

Teknologi ultrasonik  mampu mendeteksi struktur jaringan lunak dalam tubuh sehingga ultrasonik efektif dalam memeriksa organ-organ seperti hati, ginjal, otak, dan jantung yang  dapat divisualisasikan dalam struktur jaringan lunak.

Teknologi ultrasonik memungkinkan pencitraan secara real-time dan tim dokter leluasa melihat pergerakan organ dan aliran darah saat prosedur pemeriksaan  berlangsung.

Teknologi ultrasonik memanfaatkan gelombang ultrasonik  berupa suara dengan frekuensi di atas batas pendengaran manusia dan penerapannya.

Prinsip kerja teknologi ultrasonik adalah dengan mengirimkan gelombang suara ultrasonik melalui medium (seperti jaringan tubuh) dan mengukur waktu antara pengiriman dan penerimaan sinyal yang dipantulkan.

Apa saja elemen pendukung atau pelengkap teknologi ultrasonik? 

Transduser ultrasonik: komponen yang menghasilkan dan menerima gelombang ultrasonik.

Elektronik pengolah sinyal: mengolah data dari transduser menjadi gambar atau informasi yang dapat dianalisis.

Monitor atau layar: berguna untuk menampilkan hasil pencitraan ultrasonik.

Gel atau cairan kontak: digunakan untuk memastikan kontak yang baik antara transduser dan kulit pasien.

Titik penanda dari pencitraan resonansi magnetik

Selain transduser ultrasonik dan komponen elektronik, tim dari Fraunhofer IBMT juga mengembangkan perangkat lunak yang digunakan untuk mengontrol 256 elemen individual transduser. 

Perangkat lunak ini mendapatkan data yang diperlukan untuk tujuan perencanaan dari pemindaian MRI pasien tersebut. Area otak yang berperan atas masalah neurologis spesifik pasien dan posisinya ditandai pada gambar.

Sistem terapi USG untuk neurostimulasi.(Foto/©: Fraunhofer IBMT/Bernd Müller)

Penandaan ini kemudian dimasukkan ke dalam catatan data yang dimasukkan ke dalam perangkat lunak kontrol. 

Data posisi dapat digunakan untuk mengarahkan sinyal USG secara tepat ke tempat yang dibutuhkan. 

Dimungkinkan juga untuk memprogram perangkat ultrasonik untuk mengirimkan sinar dalam urutan yang telah ditentukan atau mengikuti pola gerakan tertentu. 

Artinya, dokter dapat mengatur semua parameter perangkat secara individual untuk setiap pasien di masa mendatang.

“Ini masih merupakan bidang penelitian yang sangat baru, namun juga sangat menjanjikan. Saat ini, pusat kesehatan dan peneliti di seluruh dunia sedang berupaya mengembangkan dan menguji rangkaian ultrasound semacam ini,” urai Steffen Tretbar, Kepala tim peneliti Fraunhofer.

Fraunhofer IBMT memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam mengembangkan susunan ultrasound dan sistem ultrasound multi-saluran serta dalam membentuk pancaran suara melalui beam steering.

Keahlian para peneliti telah membentuk landasan bagi platform teknologi yang dapat digunakan secara universal dan sedang menjalani pengembangan lebih lanjut secara berkelanjutan. 

“Para peneliti dapat menggunakan platform teknologi kami untuk mengembangkan berbagai macam pengobatan yang berbeda dan juga mengujinya dalam uji klinis,” ungkap Steffen Tretbar, Kepala tim peneliti Fraunhofer.

Mengurangi gejala

Dokter tidak mengharapkan pengobatan USG untuk menyembuhkan penyakit seperti Parkinson atau epilepsi, namun mereka yakin hal itu akan memberikan efek nyata dalam mengurangi gejala. 

Penggunaan USG merupakan alternatif yang menjanjikan dibandingkan pengobatan konvensional. 

Dalam jangka panjang, teknologi baru ini mungkin digunakan dalam skenario seperti memecah plak di sel otak penderita penyakit Alzheimer atau untuk mengobati depresi dan gangguan kecanduan yang disebabkan oleh faktor neurologis.

Tim Fraunhofer bekerja sama dengan peneliti dari berbagai mitra proyek dan universitas. Prof Andreas Melzer, Direktur Eksekutif Pusat Inovasi Bedah Berbantuan Komputer (ICCAS) di Fakultas Kedokteran Universitas Leipzig, memiliki harapan besar terhadap teknologi inovatif ini.  

“Kemampuan untuk secara tepat menargetkan titik-titik yang paling dalam di otak dan mengurutkannya sinyal ultrasonik akan membuka peluang baru untuk menguji dan mengembangkan neurostimulasi individu,” tandas Prof Andreas Melzer. 

Bagaimana teknologi stimulasi otak dengan ultrasonik bekerja? 

Teknologi ini menggunakan sinyal ultrasonik untuk merangsang area tertentu di otak.

Sistem ultrasonik dengan 256 transduser yang dapat dikendalikan secara individu memungkinkan penargetan dan stimulasi titik-titik dalam otak dengan sinyal suara.

Metode ini berpotensi menggantikan prosedur bedah saraf yang berisiko tinggi, seperti Deep Brain Stimulation (DBS), dengan stimulasi otak non-invasif menggunakan ultrasonik.

Akan tetapi, meskipun teknologi ini menjanjikan, ada beberapa risiko dan efek samping yang perlu dicermati:

     – Kemungkinan kerusakan jaringan otak jika tidak dikendalikan dengan baik.

     – Potensi efek samping seperti sakit kepala, mual, atau gangguan pendengaran.

     – Perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami risiko jangka panjang.


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik