Memperingati 100 tahun panas bumi Indonesia, PGE menghadirkan inovasi Geothermal Dry House yang menghasilkan kopi berkualitas berkat energi panas bumi yang medukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dan ketahanan energi nasional.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (sumber): Aksi ini menarik! Secangkir kopi dari Kamojang—hasil pengeringan dengan menggunakan panas bumi. Produk kopi pun mampu menembus pasar Asia hingga Eropa. Bagaimana inovasi PGE mengubah energi bersih dan menambah nilai ekonomi rakyat?
Satu abad setelah potensi panas bumi pertama kali ditemukan di Kamojang, Kabupaten Bandung, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kembali menunjukkan bahwa energi panas bumi bukan sekadar sumber listrik yang ramah lingkungan.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Melalui inovasi Geothermal Dry House, PGE menghadirkan pemanfaatan langsung energi panas bumi untuk mengeringkan biji kopi secara lebih cepat, higienis, dan efisien, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, memperkuat ketahanan energi nasional, dan mendukung agenda dekarbonisasi Indonesia.
Momentum peringatan 100 tahun panas bumi Indonesia menjadi tonggak penting bahwa pengembangan energi terbarukan kini telah berkembang menjadi ekosistem yang mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Dalam kunjungan tim PT Pertamina (Persero) belum lama ini ke PGE Area Kamojang, berbagai inovasi berbasis panas bumi diperlihatkan sebagai bukti bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Teknologi Geothermal Dry House merupakan salah satu inovasi unggulan dengan memanfaatkan steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif dalam proses pengeringan biji kopi Arabika di Kamojang.
Teknologi ini mempercepat proses pengeringan dari 30–45 hari menjadi hanya 3–10 hari dengan efisiensi mencapai 300 persen, sekaligus menjaga kualitas biji kopi agar lebih konsisten dan memiliki daya saing tinggi di pasar global.
Keberhasilan inovasi tersebut turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. PGE saat ini bermitra dengan tiga kelompok tani: Ecovill, Akkar, dan Penyoeka Kopi, serta memberdayakan sekitar 320 keluarga petani kopi.
Aroma produk kopi Kamojang telah menembus pasar ekspor di Asia dan Eropa dengan volume mencapai 20 ton, membuktikan bahwa energi panas bumi mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata.
Burung Elang Jawa dilestarikan dan dijaga

Selai panen kopi, PGE juga mengembangkan program Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal disingkat KANYAAH yang mencakup budidaya perikanan, pertanian, pengolahan pangan, hingga produksi pupuk organik berbasis panas bumi.
Seluruh program tersebut dirancang untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus memaksimalkan pemanfaatan energi bersih secara berkelanjutan.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui berbagai program konservasi lingkungan, termasuk pelestarian Elang Jawa melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang.
Konsistensi tersebut mengantarkan PGE Area Kamojang meraih 15 penghargaan PROPER Emas secara berturut-turut serta menjangkau sekitar 15.000 orang penerima manfaat melalui berbagai program sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Di sisi operasional, PLTP Kamojang dengan kapasitas 235 MW kini menjadi salah satu tulang punggung penyedia listrik panas bumi nasional.
Pembangkit ini mampu memasok listrik bagi lebih dari 260.000 rumah tangga setiap hari serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon sekitar 1,22 juta ton CO₂ per tahun, mendukung target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060.
President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron mengatakan area operasi Kamojang merupakan bagian penting dari sejarah panjang Pertamina dalam mengembangkan energi bersih yang berkelanjutan.
“Seratus tahun lalu, potensi panas bumi Indonesia pertama kali ditemukan di Kamojang. Hari ini, kita melihat bagaimana sejarah tersebut berkembang menjadi sumber energi bersih yang andal dan sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tutur Muhammad Baron.
Ia menyatakan komitmen PGE mengembangkan panas bumi untuk menghasilkan listrik sekaligus menjaga lingkungan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Sejarah panjang panas bumi di Kamojang juga tumbuh bersama masyarakat di sekitarnya. Selain menjadi rumah bagi pembangkit listrik panas bumi pertama di Indonesia.
Kawasan ini kini menjadi contoh bagaimana energi panas bumi dapat dimanfaatkan secara langsung untuk menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian dan ekonomi lokal.
Teknologi Geothermal Dry House merupakan inovasi dengan memanfaatkan steam trap panas bumi dari PGE sebagai sumber panas alternatif dalam proses pengeringan, sehingga menghasilkan biji kopi yang lebih higienis dengan kematangan yang konsisten.
Selain meningkatkan kapasitas produksi dan menekan biaya operasional, inovasi ini juga membantu menjaga kualitas biji kopi sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Corporate Secretary PGE, Muhammad Taufik mengatakan bahwa seratus tahun perjalanan panas bumi di Indonesia menunjukkan energi ini merupakan sumber daya yang berkelanjutan dan berasal dari potensi asli Indonesia.
Keberhasilan PGE di Kamojang menunjukkan bahwa pemanfaatan panas bumi sebaiknya tidak hanya difokuskan pada pembangkitan listrik, tetapi juga diperluas untuk mendukung sektor pertanian, industri pangan, dan usaha mikro berbasis masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas lokal perlu terus diperkuat agar model pemanfaatan langsung panas bumi seperti Geothermal Dry House dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia yang memiliki potensi serupa.
Pendekatan ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional.
Perjalanan 100 tahun panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi terbarukan mampu menjadi fondasi pembangunan yang tidak hanya menghadirkan listrik bersih, tetapi juga membuka peluang ekonomi, menjaga kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Inovasi yang dikembangkan PGE di Kamojang menjadi contoh nyata bagaimana teknologi, keberlanjutan, dan pemberdayaan dapat berjalan selaras.
Ke depan, sinergi seluruh pemangku kepentingan akan menjadi kunci untuk memperluas manfaat panas bumi sehingga Indonesia semakin kokoh sebagai salah satu pemimpin energi hijau dunia sekaligus mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Selamat kepada PT Pertamina Geothermal Energy yang mencapai usia 100 tahun!
#SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form