Investasi

60 Miliar Dolar Mengalir dari Tiongkok ke Indonesia

0
8

Sebanyak 59 perusahaan di Tiongkok menghimpun sejumlah dana lewat China Minsheng Investment Corporation Limited (CMI). Bersiap-siaplah bermitra dengan para investor dari negeri tirai bambu itu—mereka juga butuh lahan, ribuan tenaga kerja, dan bahan baku.

proses-manufaktur-baja
Proses produksi di sebuah pabrik baja. (Sumber foto/@: http://www.cascadesteel.com/)

Kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke dataran Tingkok pada akhir Maret 2015 membuahkan hasil yang menggembirakan. Para pebisnis di Tiongkok—sementara ini yang baru tercatat 59 perusahaan—sepakat mengucurkan dana hingga US$8 miliar. Dana itu akan digunakan untuk membiayai pelbagai proyek di Indonesia.
Menurut Chief Executive Officer (CEO) CMI, Li Huaizhen sebanyak US$1,6 miliar akan digunakan untuk mendirikan pabrik baja yang lokasi pabriknya sedang dicari—dekat pelabuhan, mudah akses lalu lintas, dan mencukupi energi listrik—untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Li yang mengunjungi Indonesia belum lama ini menjelaskan, para pebisnis di Tiongkok juga tertarik menangani pembangunan pelabuhan, batubara, dan industri semen. Selain tergoda atas potensi pasar domestik yang demikian besar, Tiongkok berpeluang memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tentu saja harganya lebih murah ketimbang membeli dari luar Indonesia.
Untuk mengorganiser dana, para pengusaha mendirikan China Minsheng Investment Corporation Limited disingkat CMI di Shanghai pada Mei 2014 dan telah menghimpun dana sebesar US$8 miliar. Rencana investasi yang akan dilakukan melalui CMI itu telah disetujui oleh Presiden Joko Widodo. CMI pun bekerja sama dengan Indonesian China Business Council (ICBC).
Tindak selanjutnya adalah dengan mendirikan CM International Holdings di Singapura dengan modal sebesar US$1,5 miliar. Lembaga itu berfungsi sebagai holdings CMI. Li tidak menjelaskan alasaan Singapura dijadikan sebagai tempat CM International Holdings berkantor. Namun, pendirian itu menguatkan dugaan bahwa Tiongkok serius melakukan ekspansi investasi di Indonesia.

Advertisement

Pabrik baja berkapasitas 6 juta ton per tahun

Jika hal itu terwujud, terbuka kesempatan ribuan lowongan kerja bagi anak-anak muda lokal (Indonesia). Selain itu, bagi para pemilik lahan akan kebagian rezeki karena para pengusaha dari Tiongkok itu butuh lahan untuk dijadikan lokasi pabrik baja. Dalam beberapa tahun ke depan, menurut Li, CMI berencana investasi sebesar US$5 miliar di Indonesia yang diawali pembangun pabrik baja dengan modal awal US$1,6 miliar pada tahun 2015.
Para investor di Tiongkok demikian jeli mengamati perkembangan dan perencanaan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Oleh karna itu, Li menuturkan kapasitas produksi terpasang pabrik baja itu bakal digenjot hingga 6 juta ton per tahun—sebagian besar produksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ini tantangan bagi produsen baja di Indonesia. Jangan sampai kehadiran perusahaan asing—utamanya dari Tiongkok—menyingkirkan perusahaan swasta nasional.
Rencana investasi CMI yang juga diberitakan oleh laman Wall Street Journal (22 April 2015), merupakan komitmen untuk ikut membantu mengembangkan kawasan industri di Indonesia kepada Presiden Jokowi yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Beijing, Tiongkok pada akhir Maret 2015. Tiongkok dan Indonesia menandatangani perjanjian (tentatif) untuk pendanaan bernilai lebih dari US$60 miliar.

Baca juga :   Asing Investasikan US$10.390 juta ke Sektor Logam

Kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo mendorong investasi perusahaan-perusahaan Tiongkok ke Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, jumlah investasi Tiongkok di Indonesia tidaklah besar, hanya tujuh persen. Oleh karena itu, seperti diungkapkan oleh Li, bahwa pertemuan Jokowi dengan pimpinan Tiongkok bakal meningkatkan jumlah investasi dari Tiongkok ke Indonesia.

Sementara itu, CLSA Securities Indonesia melaporkan bahwa investasi asing langsung (foreign direct investment/) ke Indonesia mencapai US$16 miliar pada kuartal I tahun 2015 meningkat 135 persen jika dibanding dengan periode sama tahun 2014 yang jumlahnya hanya US$ 6,8 miliar. Laju kenaikan investasi langsung itu merupakan kemudahan bagi investor asing karena Indonesia menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang dicanangkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Menjurut Kepala BKPM Franky Sibarani kebanyakan investasi mengalir ke industri makanan dan minuman. Sebagian besar investor berasal dari Jepang dan Amerika Serikat. BKPM kini sedang giat-giatnya menarik investasi dari Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan untuk membangun pabrik di Indonesia. (Bahan diolah dari berbagai sumber)

Advertisement

Tulis Opini Anda