Technical Infrastructure, WATER-TECH

Hadiah Satu Juta Dolar bagi Penemu Solusi Krisis Air, Suqia UEA Tunggu Inovasi Anda

Bagi penemu solusi krisis air,  berpeluang menerima hadiah sebesar US$1 juta dari Uni Emirat Arab yang disponsori oleh UEA Water Aid Foundation...

Written by Erwin Prasetyo · 3 min read >

Bagi penemu solusi krisis air,  berpeluang menerima hadiah sebesar US$1 juta dari Uni Emirat Arab yang disponsori oleh UEA Water Aid Foundation (Suqia UEA). Perusahaan dan individu boleh mengikuti lomba yang dilakukan sekali dalam dua tahun. Program ini ditutup pada 30 April 2021.

Solusi Krisis Air
HH Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri Uni Emirat Arab (UEA) dan Penguasa Dubai (Foto/@: Suqia UAE)

Air bukan hanya pemuas dahaga orang. Akan tetapi, keterbatasan daya sumber air bagi lebih 8 miliar populasi dunia semakin dekat ke ambang krisis dan kelangkaan. 

Kelangkaan daya sumber air (natural) dan meningkatnya aktivitas industri serta pemanasan global menyebabkan perubahan iklim yang berdampak terhadap berkurangnya sumber air tawar. 

Sumber air di bumi relatif stabil namun dunia kehilangan sejumlah air yang disebabkan penguapan ke ruang angkasa atau penambahan uap air dari sisa ekor komet. 

Sebagian besar sumber air berada dalam bentuk air laut dengan salinitas tinggi. Sementara manfaat air laut bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya memerlukan teknologi untuk menjadikannya air tawar. 

Menurut laman filterairlaut.co.id air tawar di permukaan bumi berjumlah hanya 1 persen, dan 0,9 persen  tersedia dalam bentuk air tanah yang sulit terbarukan (unrenewable). Sedangkan 0,1 persen merupakan  air dalam bentuk alirann sungai, genangan di danau, kolam, rawa, dan sebagainya.

Kebutuhan air per kapita (minum, masak, mandi, industri, pertanian, dan sebagainya) berbeda di tiap negara bergantung pada kemajuan suatu negara, jumlah penduduk,  kondisi geografis, dan iklim. Bahkan di tiap negara, kebutuhan air per kapita tidak sama. 

Misalnya kebutuhan air untuk penduduk di Pulau Jawa yang dihuni lebih 140 juta jiwa dari total penduduk Indonesia, berbeda dengan keadaan di Papua dan Papua Barat yang didiami oleh lebih 5,6 juta jiwa. 

Para stakeholders di tiap negara berusaha mengatasi masalah kelangkaan dan krisis air. Sementara data PBB menyatakan, hampir 50 persen dari jumah populasi dunia tinggal di wilayah dengan kelangkaan air setidaknya dalam satu bulan tiap tahun. 

Jumlah penduduk yang mengalami kekurangan air  diprediksi bakal meningkat menjadi 4,8 higga 5,7 miliar juwa jiwa pada tahun 2050. Sekitar  73 persen manusia yang kelangkaan air tinggal di Asia. Bagaimana mengatasi kelangkaan air?  

Laporan PBB itu menarik bagi Uni Emirat Arab (UEA) dan berusaha membantu dunia untuk mengatasi kelangkaan air di berbagai negara.   Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri UEA dan Pemegang otoritas tunggal kota Dubai, HH Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum mengumumkan pemberian hadiah sebesar USD1 juta.

Hadiah itu diperuntukkan bagi pihak yang  menemukan solusi berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan air. Pendaftaran dimulai sejak 16 November 2020—dapat diikuti oleh perorangan, pusat penelitian, institusi, dan perusahaan dari seluruh dunia. 

Empat 4 kategori yang dapat diikuti yakni melalui proyek, individu, penelitian dan pengembangan, dan solusi yang inovatif (program baru) untuk mengatasi krisis kelangkaan air di berbagai negara. 

Solusi Krisis Air

Penyelanggara adalah UEA Water Aid Foundation atau disingkat Suqia UEA di bawah kepemimpinan HH Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Tujuan program itu  tidak terbatas pada penyediaan air minum bagi masyarakat yang membutuhkan. 

Namun, menurut rilis, pihak Suqia mengharapkan solusi berupa teknologi yang inovatif yang berkelanjutan untuk mengatasi krisis air global di berbagai negara yang membutuhkan air tawar utamanya bagi masyarakat. 

Menurut Suqia UEA bahwa skala krisis air menuntut pendekatan yang berbeda. Sesuai dengan misi UEA untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dicapai dengan  berbasiskan ilmu pengetahuan yang fokus pada peran kuat  teknologi, Litbang, dan inovasi. 

Perluasan cakupan penghargaan tahun ini, mencakup bidang teknologi yang digunakan pada proses produksi air, distribusi, penyimpan, pemantauan, desalinasi, dan memurnikan air dengan menggunakan energi terbarukan, serta penambahan kategori penghargaan ke-4 yakni Krisis Inovatif Penghargaan Solusi.

“Dengan inovasi dan  gagasan baru, kita dapat membangun negara, dan lembaga, dan masa depan milik generasi muda,” jelas Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri Uni Emirat Arab sekaligus Pemimpin tertinggi kota Dubai. 

Ketua Dewan Pengawas Suqia UEA, Saeed Mohammed Al Tayer menandaskan, “UEA memberikan aksi nyata sesuai misi Yang Mulia Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Wakil Presiden merangkap Perdana Menteri UEA dan Pejabat tinggi kota Dubai. Tujuan program ini untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat.” 

“Melalui penghargaan ini, kami ingin berperan proaktif mencari solusi atas kelangkaan air terutama bagi mereka yang menderita dan kurang mampu di seluruh dunia tanpa memandang agama, etnis, dan kebangsaan,” tambah Saeed Mohammed Al Tayer.

UEA Water Aid Foundation (Suqia UEA) berdiri pada tahun 2015. Suqia UEA merupakan entitas di bawah payung yayasan Mohammed bin Rashid Al Maktoum Global Initiatives, sebuah organisasi nirlaba yang membantu masyarakat yang membutuhkan kecukupan air di seluruh dunia. 

Sejak penghargaan ini dilaksanakan oleh Suqia UEA pada 5 tahun lalu, penyelenggara telah membantu lebih dari 13 juta orang di 36 negara. Lembaga ini membiayai 1.000 proyek pengadaan air yang berkelanjutan.

Penghargaan tahun 2020 ini mencakup 4 kategori utama dengan target organisasi perintis, pusat penelitian, individu, lembaga pendidikan, dan inovator di seluruh dunia. 

Hadiah disediakan untuk memotivasi peserta agar kreatif menghasilkan solusi yang inovatif dengan tenaga energi terbarukan. Temuan para peserta berguna untuk memproduksi air, mendistribusikannya, menyimpan, memantau, desalinasi, dan penjernihan air—semua dilakukan secara berkesinambungan. 

Penghargaan Proyek Inovatif, Individu Inovatif, dan Penelitian & Pengembangan Inovatif  dengan masing-masing mempunyai 2 subkategori. 

Contohnya penghargaan Innovative Crisis Solutions yang baru diperkenalkan kali ini dengan hadiah  US$20.000, bisa diikuti oleh perusahaan kecil, lembaga penelitian, dan Lembaga swadaya masyarakat yang inovatif menciptakan proyek untuk mengatasi keadaan darurat air minum.

Aplikasi akan dievaluasi berdasarkan serangkaian kriteria yang relevan dengan kategori yang diterapkan untuk memastikan penilaian dan pemilihan pemenang yang adil sesuai dengan ketentuan. 

Misalnya, penghargaan Crisis Solutions yang baru dinilai berdasarkan ketentuan dengan presentase 30 persen untuk kemudahan penerapan, 30 persen kreativitas dan inovasi, 30 persen untuk kemampuan beradaptasi dengan lingkungan lokal, dan 10 persen untuk efektivitas biaya. 

Penjurian dilakukan oleh Suqia UAE dengan mematuhi kriteria secara ketat. Pada siklus ke-2 yang lalu, perusahaan Singapura Liquinex Group Ptd memenangkan tempat pertama dengan kategori Penelitian dan Pengembangan Inovatif. 

Sistem pemurnian air ringkas yang bentuknya seperti koper yang dirancang oleh Liquinex yang memiliki kemampuan untuk menyediakan air minum sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia dengan kualitas tinggi berkecepatan 500 liter /jam—bermanfaat bagi sekitar 1.700 orang.

Kecepatan air mencapai 3 liter/hari/orang/per koper dan beroperasi dengan daya 12V yang berarti energi  sangat rendah.

Pihak Suqia UEA menunggu karya perusahaan, pusat penelitian, institusi, innovator, dan bahkan para pemuda dari seluruh dunia. Teknologi baru ciptaan peserta harus memberikan solusi untuk mengatasi kelangkaan air.

Program Mohammed bin Rashid Al Maktoum Global Water Award dimulai sejak 16 November 2020 dan ditutup pada 30 April 2021. Selamat berinovasi!

Info selengkapnya dengan mengakses: https://www.suqia.ae/en/awards

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *