Green & Waste Management, WATER-TECH

Penggunaan Lampu LED Meningkat dan Limbahnya pun Menimbun

Bagaimana mengolah limbah bahan lampu LED yang terus menimbun? Lampu Light Emitting Diode  (LED)  juga digunakan sebagai laptop, smartphone, televisi, dan otomotif—juga...

Written by Erwin Prasetyo · 3 min read >
Penggunaan Lampu LED Meningkat

Bagaimana mengolah limbah bahan lampu LED yang terus menimbun? Lampu Light Emitting Diode  (LED)  juga digunakan sebagai laptop, smartphone, televisi, dan otomotif—juga penghasil limbah. Meski hemat energi, cahaya yang silau mengganggu mata. Di Indonesia beredar 8 merek.   

Penggunaan Lampu LED Meningkat
Elemen pencahayaan berbasis LED saat ini tersedia dalam berbagai bentuk yang berbeda. Untuk mendaur ulangnya secara efisien, pertama-tama limbah harus dipecah menjadi bagian-bagian yang disusun rapi. Ketika mendaur ulang dioda LED  sangat penting untuk tetap utuh ke dalam proses pengumpulan. Penggunaan lampu LED meningkat dan limbahnya pun menimbun (Foto/©: Fraunhofer ISC/IWKS)

Beragam lampu dan berkaitan dengan teknologi Light emitting Diode  (LED) ditawarkan pada setiap pameran di beberapa kota di Indonesia.

Meski pasar di Indonesia telah didominasi 8 merek lampu LED, manufaktur dari negara lain seperti China, Taiwan, Thailand, dan negara lain melihat peluang di pasar Indonesia masih besar.  

Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia dan Badan Pusat Statistik, sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per  tahun dan sebanyak 3,2 juta ton  dibuang ke laut.

Demikian juga bahan LED berpotensi menghasilkan limbah. Penggunaan LED bukan hanya terbatas pada lampu penerangan.

Industri otomotif, laptop, smartphone, televisi, dan produk yang berkaitan dengan pencahayaan juga menggunakan bahan LED. Bahan LED menembus pasar pencahayaan yang semakin luas.

Apakah para produsen dan pengguna telah memikirkan teknologi proses daur ulang yang tepat  untuk barang-barang berbahan LED? Sebainya para stakeholders memikirkan hal itu sejak dini sebelum menimbulkan masalah seperti dampak penggunaan bahan plastik.

Kita dapat belajar dari cara tim peneliti yang telah mengembangkan metode dan cara untuk memisahkan LED secara mekanis—iluminan modern yang diproduksi menggunakan berbagai bahan.

Tim peneliti Fraunhofer melalui rilisnya menyebutkan bahwa rumah terbuat dari kaca dan plastik dengan pendingin terbuat dari bahan keramik dan aluminium, dan resistor dan kabel mengandung tembaga. Dan bahan yang paling berharga ditemukan di dalam perangkat berbahan LED.

Kandungan di LED adalah bahan indium dan galium yang terdapat di dalam dioda semikonduktor dan tanah jarang seperti europium atau terbium dalam fosfor. Bahan itu membuat LED relatif mahal untuk membuat dioda meski marginnya relatif kecil.

“Kami mulai menendaur ulang dan menerima bahan LED meski bahan masih disimpan sampai kami menemukan teknologi dan proses daur ulang yang tepat. Tujuan utama penciptaan teknologi daur ulang untuk memulihkan materi yang berharga dari bahan LED. Hanya masalah waktu  saja sampai tim kami menemukan teknologi pendaur ulang untuk memproses bahan LED,” kata Jörg Zimmermann dari Grup Proyek Fraunhofer.

Grup Proyek Fraunhofer memiliki Strategi Daur Ulang Bahan dan Sumber Daya IWKS di Alzenau dan Hanau di bawah manajemen Fraunhofer Institute for Silicate Research ISC. Bagaimana cara tim peneliti mendaur ulang bahan LED?

Tim peneliti memisahkan komponen dengan bantuan gelombang kejut. Prosesnya menggunakan yang disebut electrohydraulic comminution yakni dengan memecah-mecah lampu LED menjadi bagian-bagian penyusun lampu tanpa merusak LED itu sendiri.

Gelombang kejut yang diciptakan oleh impuls listrik dalam penangas air memisahkan setiap  komponen pada titik istirahat yang telah ditentukan. Komponen dapat didaur ulang secara terpisah.

Tim peneliti menyesuaikan pengaturan eksperimental dengan lampu retrofit—menyerupai bola lampu tradisional atau tabung neon yang dapat digunakan dalam soket standar yang sama.

“Pada prinsipnya metode ini berfungsi untuk ukuran produk bahan lain, misalnya dengan LED yang berasal dari televisi, lampu mobil, dan produk elektronik lainnya,” tutur Jörg Zimmermann.

Perasyaratan untuk melakukan proses daur ulang yang efisien adalah pemisahan komponen yang dilakukan secara rapi.

“Untuk memisahkan dan mendaur ulang semua komponen lampu LED secara efisien, diperlukan pendekatan yang sama sekali berbeda pendekatannya agar dapat menghasilkan sejumlah besar bahan semikonduktor dan fosfor,” tambah  Zimmermann.

Jika seluruh retrofit diparut, akan jauh lebih sulit untuk memisahkan campuran bahan yang dihasilkan. Memecah lampu LED ke tingkat komponen juga membuatnya lebih mudah untuk mendapatkan kembali jumlah material yang terkandung di dalamnya.

Teknologi ini dilakukan dengan mengumpulkan sejumlah besar komponen yang serupa di mana konsentrasi unsur-unsur tiap komponen sudah lebih tinggi.

Jörg Zimmermann mengklarifikasi bahwa pemrosesan daur ulang  memberikan keuntungan bagi pendaur ulang dan produsen, jika menggunakan bahan dalam jumlah yang besar.

“Kami masih menguji apakah proses electrohydraulic comminution dapat diulang sampai bahan yang diinginkan telah dipisahkan,” kata Zimmerman.

Para peneliti berusaha menyesuaikan parameter pengaturan eksperimental seperti jenis dan jumlah cairan, ukuran wadah, atau tegangan pulsa listrik sedemikian rupa sehingga pemisahan terjadi tepat pada titik-titik istirahat yang ditentukan.

“Penanganan khusus adalah jumlah pulsa yang menentukan bagaimana komponen akan terpisah,” tambah Zimmerman.

Proses electrohydraulic comminution terus diselidiki secara rinci dan ditingkatkan lebih lanjut—termasuk akses ke area aplikasi LED lainnya.

Zimmerman menambahkan, tim penelitinya  menunjukkan hasil pemisahan mekanik berupa metode yang layak meningkatkan ekonomi daur ulang lampu LED.

Penggunaan lampu LED dapat menghemat energi hingga 80 persen dibanding  energi yang digunakan lampu neon dan lampur pijar lainnya.

Penggunaan warna pun bervariasi. Akan tetapi, cahaya yang menyilaukan mata—inilah kelemahan LED.

Produsen lampu LED dengan merek Philips, Panasonic, Kawachi, Nexus, Hannochs Genius, Shinyoku, Osram, Stark, dan merek lain yang dipasarkan di Indonesia, memiliki teknologi agar penggunaan lampu LED yang meningkat dan limbahnya yang menimbun dapat didaur ulang dengan baik.

Kita harus berpikir jauh ke depan, jangan seperti limbah plastik yang telah mendera lingkungan dan perairan (sungai, danau, tepi pantai dan laut)—barulah kita berteriak-teriak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *