Customer Care, F&B Industri

Jamur yang Hidup Parasit Berpotensi sebagai Antibiotik dan Produk Makanan

Bagian luar roti yang berwarna biru kehijauan adalah jamur yang menumpang hidup—biasanya dibuang. Bagaimana bentuk teknologi pengolah potensi jamur parasit menjadi antibiotik...

Written by Stevie Ayu · 2 min read >
Parasit Berpotensi sebagai Antibiotik

Bagian luar roti yang berwarna biru kehijauan adalah jamur yang menumpang hidup—biasanya dibuang. Bagaimana bentuk teknologi pengolah potensi jamur parasit menjadi antibiotik dan produk makanan?

Kaskade fermentasi bioreaktor dengan volume 10 liter hingga 10 m3 di Pusat Fraunhofer untuk Proses Bioteknologi Kimia di Leuna, Jerman. Jamur yang hidup parasit berpotensi sebagai antibiotik dan produk makanan  (Foto/©: Fraunhofer CBP)

Makanan seperti roti yang terkena jamur tidak higenis lagi dikonsumsi, apakah roti harus dibuang?

Umumnya makanan yang dianggap jamuran dibuang ke tempat sampah. Kalau “dipaksakan” untuk mengosumsi misalnya roti yang lapisan luarnya telah jamuran, orang bisa sakit keracunan.

Kita sering membaca berita korban keracunan setelah menyantap makanan yang (mungkin) mengandung jamur yaitu ‘tanaman’ yang hidup parasit atau menumpang pada makanan seperti roti.

Jatuhnya korban keracunan disebabkan orang itu menyantap  makanan yang basi. Basi itu merupakan diksi pengganti kata jamur yang melekat pada makanan seperti bagian luar roti atau tercampur dengan makanan lain misalnya karena tempatnya kurang bersih.

Apakah jamur yang parasit itu selalu berbahaya jika dikonsumsi bersama makanan?

Tim peneliti di Institut Fraunhofer khususnya yang menangani Teknik Interfasial dan Bioteknologi IGB di Stuttgart, Jerman, justru meneliti cetakan roti seperti genus Aspergillus.

Bahan yang diteliti termasuk jamur dan ragi yang digunakan saat membuat roti. Kita tahu bahwa adonan terigu yang dijadikan bahan roti dicampur dengan ragi agar adonan itu mengembang.

Mewakili  tim peneliti, Prof. Steffen Rupp, Wakil Direktur Fraunhofer IGB yang juga Kepala Departemen Bioteknologi Molekuler, menjelaskan alasan kenapa pihaknya menjadikan jamur sebagai bahan penelitian.

Ia menjelaskan bahwa jamur sangat perlu untuk digunakan sebagai bahan produksi antibiotik termasuk bahan industri makanan.

Jamur yang diteliti justru membantu untuk melakukan sintesis berbagai bahan kimia dengan menetralkan kandungan CO2.

Bahan olahan yang telah dinetralkan CO2-nya berfungsi sebagai dasar untuk  pembuatan deterjen, pengemulsi, kosmetik dan obat-obatan, pestisida, dan plastik.

Menggunakan bahan minyak bumi—sebagai bahan pembuatan deterjen, pengemulsi, kosmetik dan obat-obatan, pestisida, dan plastik—dengan mengekstraksi bahan kimia dari bahan baku terbarukan itu justru (bahan) tidak melepaskan kandungan CO2 ke udara.

Bahan jamur, ungkap Prof. Steffen Rupp, merupakan bahan organisme produksi yang memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Potensi kelompok organisme ini demikian besar dan jika diproduksi seolah tidak ada habisnya. Jamur itu datang sendiri dan dijadikan sebagai bahan konversi dalam berbagai bahan baku terbarukan.

Jamur itu menggunakan sejumlah jalur metabolisme yang berbeda dan menghasilkan beragam produk yang menakjubkan.

Jika kita memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, jamur dapat kita olah menjadi berbagai aplikasi yang diproduksi berbasis industri.

Artinya, jamur yang parasit tadi merupakan bahan yang sarat nilai ekonomi dan bisnis.

Apa mungkin bahan asam malat dapat dijadikan sebagai bio-surfaktan dan poliester? Inilah kehebatan para ilmuwan dan peneliti di Fraunhofer IGB.

Tim peneliti telah menghasilkan berbagai macam bahan kimia dengan menggunakan jamur.

Salah satu contohnya adalah asam malat. Pasar untuk asam malat untuk pertumbuh zat ini terus tersedia di pasar—artinya serapan pasar demikian besar.

Asam malat memberikan rasa asam dan produk selai dan jus yang juga mampu meningkatkan umur (waktu) simpan bahan makanan yang dipanggang.

Asam malat juga dapat digunakan sebagai blok bangunan untuk poliester berbasis bio. Dalam proses yang mirip dengan pembuatan bir, asam malat diproduksi dengan menggunakan cetakan.

Dalam pembuatan bir, ragi memfermentasi sebagau gula malt dan, sementara dalam produksi asam malat, jamur Aspergillus mengubah gula atau minyak nabati.

Asam malat juga merupakan bahan baku skincare—seperti asam hyaluronat, asam salisilat, asam laktat, dan asam glikolat—bermanfaat utuk perawatan kulit seperti bahan pencerahan kulit, mencegah penuaan dini, anti jerawat, dan penangkis iritasi kuli.

Asam alat atau disebut malic acid yang dalam bahasa latin disebut malum yang artinya apel yang ditemukan pertama kali pada abad 17—dalam bentuk jus apel.

Gunakanlah teknologi, maka  makanan dan roti dengan kandungan  jamur yang hidup parasit berpotensi sebagai antibiotik dan produk makanan—dan mewujudkannya bergantung pada pengetahuan kita.

Tampaknya jamur yang parasit itu dapat kita budidayakan di Indonesia.         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *