Friday
16 October 2026

Robot Humanoid Membuka Peluang Baru Menumbuhkan Industri  

Robot humanoid membuka peluang baru—hal itu menarik perhatian dunia, sementara robot konstruksi semakin beralih dari proyek percontohan menuju penerapan praktis. Apa laporan World Robotics Service Robots 2026? Apa dampaknya bagi Indonesia? 

Untuk pertama kalinya, buku tahunan ini juga memuat data penjualan robot humanoid dan menyajikan bab terperinci mengenai teknologi tersebut (Foto/©: /Foto: Rainer Bez/Fraunhofer IPA)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IPA (sumber): Perkembangan robotika layanan atau service robotics memasuki babak baru ketika kebutuhan meningkatkan produktivitas, mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil, dan memperkuat fleksibilitas operasional semakin mendesak. 

Laporan World Robotics Service Robots 2026 yang diterbitkan International Federation of Robotics (IFR) bersama Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation—disingkat Fraunhofer IPA menyoroti 2 bidang yang semakin relevan bagi dunia usaha: robot humanoid dan robot konstruksi. 



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Keduanya menawarkan peluang untuk mengoptimalkan proses kerja, dan sekaligus menuntut perusahaan bersikap realistis dalam menilai kesiapan teknologi, keselamatan, dan kelayakan ekonominya.

Kekurangan tenaga kerja terampil, perubahan demografis, serta meningkatnya tuntutan akan produktivitas dan fleksibilitas menghadirkan tantangan besar bagi perusahaan di seluruh dunia. 

Selain robotika industri yang semakin mapan pada tahun-tahun terakhir,  robotika layanan dipandang sebagai teknologi kunci untuk menjawab perkembangan tersebut.

Edisi terbaru World Robotics Service Robots yang diterbitkan oleh International Federation of Robotics (IFR), mengungkap tren terkini yang membentuk industri ini dan menyoroti berbagai penerapan yang sudah memiliki nilai ekonomi nyata. 

Pada tahun-tahun terakhit, Fraunhofer IPA bekerja sama dengan IFR untuk menyusun bab-bab khusus industri; selain menyajikan data statistik, bab-bab ini juga memuat dasar-dasar teknis dan analisis spesifik pasar. 

Edisi tahun 2026 ini berfokus pada dua bidang teknologi yang sedang berkembang: robot humanoid dan robotika konstruksi.

Robot baru untuk tempat kerja dan lokasi konstruksi.

Halaman sampul laporan World Robotics Industrial Robots 2026

Kedua volume laporan World Robotics—yang masing-masing membahas robotika industri dan robotika layanan—menjadi acuan utama dalam memantau perkembangan pasar robotika global dari tahun ke tahun (Foto/©: IFR)

 

.”Saat ini, perusahaan lebih dari sebelumnya membutuhkan penilaian yang tepat mengenai teknologi robot baru,” ungkap Werner Kraus, Kepala Departemen Penelitian Otomatisasi dan Robotika,  Fraunhofer IPA. 

“Terutama pada bidang yang menyedot perhatian publik dan memiliki ekspektasi yang terkadang sangat tinggi, kemampuan untuk mengevaluasi potensi, tingkat kematangan teknologi, serta kemungkinan penerapannya secara realistis menjadi hal yang sangat penting,” lanjut Werner Kraus.

Hal ini terutama berlaku bagi robotika humanoid, mengingat hampir tidak ada topik robotika lain yang saat ini mampu memicu minat global sebesar bidang tersebut. 

Tingginya tingkat investasi, kemajuan pesat dalam kecerdasan buatan (AI), dan penerapan percontohan awal telah menempatkan teknologi ini sebagai pusat berbagai perdebatan yang berorientasi pada masa depan. 

Berlatar belakang situasi tersebut, IFR untuk pertama kalinya mencatat angka penjualan robot humanoid. Tahun lalu, hampir 7.000 unit sistem ini terjual (termasuk robot humanoid dengan tinggi lebih dari 1,4 meter). Selain itu, buku tahunan ini juga mengalokasikan satu bab khusus untuk membahas robot humanoid.

Bab ini mengkaji kondisi terkini robot humanoid serta menyajikan contoh penerapannya di rumah tangga, sektor perhotelan dan layanan tamu, maupun bidang produksi dan logistik. 

Pembahasan mencakup aspek fundamental teknologi seperti pengendalian berbasis AI, metode pelatihan, sistem robot yang tersedia, skenario penerapan, serta isu-isu terkait aspek ekonomi dan keselamatan.

Analisis menunjukkan bahwa robot humanoid memiliki potensi besar, khususnya untuk penanganan material, pemuatan mesin, dan tugas layanan sederhana, karena robot ini dapat digunakan di lingkungan yang berpusat pada manusia tanpa memerlukan modifikasi besar. 

Akan tetapi, sebagian besar penerapannya masih dalam tahap percontohan, sering kali masih membutuhkan bantuan manusia atau terbatas pada tugas-tugas yang sangat spesifik. 

Hambatan utamanya meliputi belum adanya standar keselamatan, tingginya biaya pelatihan dan pemeliharaan, otonomi yang terbatas, serta kelayakan ekonomi yang sejauh ini sering kali belum meyakinkan. 

Kesimpulannya, meskipun teknologi robot humanoid telah berkembang pesat berkat kemajuan AI dan teknologi sensor, penggunaan secara luas di industri baru akan menjadi realistis seiring dengan pengembangan teknologi lebih lanjut, standardisasi, dan peningkatan skala penerapan.

Robotika konstruksi berkembang dari proyek percontohan menuju penerapan praktis

Selain robotika humanoid, robotika konstruksi menjadi fokus pembahasan lain dalam buku tahunan ini. 

Bab lain menggambarkan pasar yang saat ini masih berskala kecil namun terus berkembang menuju kematangan—terutama didorong oleh kesenjangan produktivitas—di mana sistem robotik telah memberikan nilai tambah nyata saat ini.

Bidang penerapannya mencakup mulai dari survei dan dokumentasi lokasi konstruksi hingga pengangkutan material, pengeboran, pemasangan, pengecatan, dan pekerjaan plesteran. 

Tren yang jelas terlihat adalah keberhasilan sistem robotik khusus yang mampu mengotomatisasi tahapan kerja tertentu secara efisien dan andal. 

Alih-alih otonomi penuh, fokus awalnya adalah memberikan dukungan yang terarah bagi pekerja terampil untuk tugas-tugas yang menuntut fisik, bersifat repetitif, atau krusial bagi keselamatan petugas. 

Platform universal dan serbaguna saat ini memainkan peran sekunder.

Fokus lain dari bab ini adalah pada model bisnis baru. Penawaran Robot-as-a-Service (Robot sebagai Layanan) menurunkan hambatan masuk bagi perusahaan untuk menjangkau pengguna, sehingga memfasilitasi penggunaan teknologi baru di lokasi konstruksi. 

Pada saat yang sama, integrasi dengan perangkat perencanaan digital seperti Building Information Modeling (BIM) menjadi semakin penting. Hal ini memungkinkan alur kerja diotomatisasi secara lebih luas dan diintegrasikan dengan lebih baik ke dalam proses yang sudah ada.

Orientasi di pasar teknologi yang dinamis

Melalui edisi tahun 2026, World Robotics Service Robots menegaskan perannya sebagai publikasi referensi internasional untuk analisis pasar, tren teknologi, dan perkembangan ekonomi di bidang robotika layanan. 

Bersama-sama, IFR dan Fraunhofer IPA telah mengumpulkan data mengenai 1.001 perusahaan di seluruh dunia yang mengembangkan dan menawarkan solusi robotika layanan untuk aplikasi profesional maupun pribadi.

Bagi Indonesia, perkembangan robotika layanan menghadirkan dua agenda yang perlu berjalan beriringan: meningkatkan adopsi teknologi dan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mengoperasikan serta mengembangkannya.

Pekerjaan yang bersifat repetitif, menuntut ketelitian tinggi, atau berisiko terhadap keselamatan dapat menjadi titik awal penerapan robotika. Dalam industri manufaktur, misalnya, pemindahan material dan pemuatan mesin merupakan aktivitas yang dapat dievaluasi untuk otomasi. 

Di sektor konstruksi, pekerjaan pengeboran, survei, dan dokumentasi proyek dapat menjadi sasaran pengembangan awal.

Indonesia juga memiliki contoh nyata penerapan robotika di sektor industri. Penggunaan robot industri pada lini produksi otomotif dan manufaktur telah memperlihatkan bagaimana otomasi dapat mendukung konsistensi proses, meningkatkan presisi, dan membantu memenuhi kebutuhan produksi dalam skala besar.

Penerapan robot industri tersebut perlu dibedakan dari robotika layanan profesional dan robot humanoid. Ketiganya memiliki karakteristik, tingkat kematangan, serta kebutuhan investasi yang berbeda. 

Pengalaman Indonesia dalam otomasi manufaktur dapat menjadi modal untuk mengembangkan kapabilitas lebih lanjut, tetapi bukan bukti bahwa seluruh aplikasi robot humanoid atau konstruksi telah siap diterapkan secara luas.

Peluang SDM justru berkembang seiring perubahan kebutuhan industri. Perusahaan akan membutuhkan teknisi robotika, spesialis integrasi sistem, operator peralatan otomatis, tenaga pemeliharaan, analis data operasional, serta profesional yang memahami keselamatan kerja dan keamanan sistem digital.

Lembaga pendidikan vokasi, perguruan tinggi, penyedia teknologi, dan pelaku industri perlu memperkuat kolaborasi dalam membangun kompetensi tersebut. 

Pelatihan berbasis praktik, sertifikasi yang relevan, program magang, dan pengembangan proyek percontohan dapat membantu memperpendek jarak antara pembelajaran dan kebutuhan nyata di lapangan.

Transformasi ini perlu menempatkan pekerja sebagai bagian dari solusi. 

Otomasi yang dirancang dengan baik dapat mengalihkan tenaga manusia dari pekerjaan yang berulang atau berisiko menuju kegiatan yang memerlukan penilaian, pemecahan masalah, pengawasan, dan keterampilan teknis lebih tinggi.

Publikasi World Robotics Service Robots 2026 memperlihatkan bahwa masa depan robotika tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan industri menerapkannya secara aman, produktif, dan ekonomis.

Robot humanoid menawarkan potensi untuk bekerja di lingkungan yang dirancang bagi manusia, tetapi penggunaan industrinya secara luas masih memerlukan kemajuan teknologi, standardisasi, dan pembuktian kelayakan ekonomi. 

Sementara itu, robot konstruksi menunjukkan bahwa otomasi yang berfokus pada pekerjaan spesifik dapat membuka jalan menuju penerapan yang lebih praktis.

Tantangan utamanya bukan sekadar mengejar tren robotika global, melainkan membangun ekosistem yang mampu mengubah inovasi menjadi nilai ekonomi. 

Hal ini mencakup investasi yang terukur, kesiapan infrastruktur digital, penguatan kompetensi SDM, kolaborasi industri dengan lembaga pendidikan, serta penerapan standar keselamatan yang memadai.

Robotika sebaiknya dipandang sebagai pengungkit daya saing, bukan tujuan akhir transformasi. Industri yang mampu mengidentifikasi kebutuhan secara tepat, menguji teknologi secara disiplin, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerjanya akan memiliki peluang lebih besar untuk memetik manfaat otomasi secara berkelanjutan.

Bagi pelaku industri nasional, langkah paling strategis bukanlah mengadopsi robot paling canggih, melainkan memilih teknologi yang paling relevan untuk menyelesaikan persoalan nyata. 

Dari keputusan tersebut, produktivitas dapat meningkat, keselamatan kerja diperkuat, dan SDM Indonesia memperoleh kesempatan untuk berkembang bersama kemajuan teknologi. #SalamSobatmmINDUSTRI

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
FOLLOW US
  • Rubrik