Produksi panas bumi PGE mencapai 4.114 GWh hingga September 2026, memperkuat ketahanan energi, daya saing industri, dan peluang investasi Indonesia. Simak penjelasan Ahmad Yani, Andi Joko Nugroho, Fransetya Hasudungan Hutabarat—ketiganya petinggi Pertamina Geothermal Energy.

Capaian PGE memperlihatkan keandalan energi terbarukan semakin relevan bagi ketahanan industri Indonesia (Foto/@: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk)
Penulis/editor: Rayendra L Toruan
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
mmINDUSTRI.co.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (sumber): Rekor produksi listrik panas bumi PGE sebesar 4.114 gigawatt hour (GWh) hingga September 2026 memperlihatkan bahwa keandalan energi terbarukan semakin relevan bagi ketahanan industri Indonesia.
Di tengah kebutuhan listrik yang stabil, efisiensi operasional, dan tekanan untuk menekan emisi karbon, capaian tersebut menjadi contoh konkret bagaimana optimalisasi aset energi domestik dapat mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat fondasi transisi energi nasional.
Capaian ini menjadi rekor produksi tertinggi atau all time high PGE untuk periode sembilan bulan, sekaligus mencapai 108,22 persen dari target periode yang sama, yaitu sebesar 3.801 GWh.
Realisasi tersebut meningkat sekitar 9,8 persen dibandingkan Januari – September 2025 yang mencapai 3.747 GWh. Kinerja ini mencerminkan konsistensi PGE dalam menjaga keandalan operasional atau operational excellence dan mengoptimalkan aset panas bumi yang dikelola PGE.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani menegaskan, Perseroan berkomitmen menjalankan pertumbuhan bisnis dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Rekor produksi ini menjadi pijakan yang kuat bagi kami. Kami optimistis dapat terus tumbuh secara disiplin, sehingga keunggulan operasional PGE memberi manfaat bagi pemegang saham, masyarakat, dan ketahanan energi Indonesia,” tandas Ahmad Yani di Jakarta belum lama ini.
Memasuki kuartal IV-2026, Ahmad Yani menyampaikan bahwa PGE berfokus menjaga keandalan pembangkit guna mendukung target produksi tahunan sekitar 5.255 GWh.
“Melalui pengelolaan aset yang optimal dan pengembangan proyek strategis, Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia,” ujar Ahmad Yani.
Sementara itu, Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho mengatakan capaian all time high produksi diraih berkat disiplin operasi dan pemeliharaan pembangkit, optimalisasi produksi, serta kesiapan pasokan uap di berbagai wilayah kerja.
Pemeliharaan semakin efisien

Perseroan terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi Indonesia demikian Ahmad Yani, Direktur Utama PGE (Foto/@: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk)
“Capaian ini merupakan wujud nyata komitmen kami menjaga keandalan listrik panas bumi. Hasil ini buah dari disiplin mengelola reservoir, kesiapan pembangkit, dan eksekusi pemeliharaan yang semakin efisien,” jelas Andi Joko Nugroho.
Dengan begitu, pihak PGE terus menghadirkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan untuk menunjang ketahanan energi nasional demikian Andi Joko Nugroho.
Selanjutnya, ia menjelaskan kinerja produksi PGE didukung oleh keandalan pembangkit yang terjaga. Hingga September 2026, Equivalent Availability Factor (EAF) kumulatif mencapai 98,51 persen, melampaui rencana sebesar 92,20 persen.
Sementara itu, Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) tercatat 0,21 persen, lebih rendah dibandingkan batas rencana 1,48 persen.
Dari lima area operasi, Kamojang mencatat produksi 1.438 GWh atau 118,77 persen dari target, dengan kontribusi sekitar 35 persen terhadap total produksi. Lumut Balai menghasilkan 702 GWh atau 115,84 persen dari target, didukung tingginya permintaan listrik serta kesiapan pasokan uap dan pembangkit.
Adapun Lahendong mencatat 658 GWh atau 106,44 persen dari target, seiring tingginya penyerapan listrik dari unit pembangkit yang beroperasi.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat menuturkan, kinerja operasional yang solid turut menopang fundamental keuangan Perseroan. Sebelumnya pada semester I-2026, PGE membukukan pendapatan US$79,61 juta, meningkat 15,48 persen.
“Fundamental PGE tetap kuat. Produksi tumbuh di atas target, laba meningkat dua digit, dan neraca kami sehat. Ke depan, kami terus memperluas akses terhadap pembiayaan berbiaya kompetitif. Beberapa proyek strategis kami telah masuk dalam Green Book Bappenas 2026,” ungkap Fransetya Hasudungan Hutabarat.
Hal ini membuka peluang pendanaan konsesional atau concessional financing dari lembaga pembiayaan internasional dengan biaya modal lebih rendah, yang diharapkan meningkatkan keekonomian proyek dan daya saing investasi demikian Fransetya Hasudungan Hutabarat.
Ia menjelaskan bahwa fokus PGE bukan sekadar memastikan ketersediaan pendanaan.
“PGE juga mengoptimalkan struktur permodalan dengan menjaga keseimbangan antara ekuitas dan utang serta profil kredit yang kuat. Dengan begitu, kami terus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemegang saham dan investor.”
PGE melanjutkan strategi pertumbuhan melalui optimalisasi aset eksisting, ekspansi kapasitas, serta pengembangan sumber pendapatan baru.
Sejumlah proyek yang dikembangkan mencakup Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8. Perseroan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
Produksi listrik panas bumi PGE sebesar 4.114 GWh hingga September 2026 menjadi bukti terukur bahwa keandalan operasi dan optimalisasi aset dapat menghasilkan kinerja di atas target.
Pertumbuhan 9,8 persen secara tahunan, EAF sebesar 98,51 persen, dan EFOR sebesar 0,21 persen memperlihatkan pentingnya disiplin operasional dalam menjaga kontribusi pembangkit terhadap pasokan listrik.
Peluang membutuhkan sinergi

Pengelolaan energi yang disiplin dapat mendukung agenda industri yang lebih produktif, tangguh, dan rendah karbon (Foto/@: PT Pertamina Geothermal Energy Tbk)
Arti strategis capaian tersebut bagi Indonesia tidak berhenti pada rekor produksi.
Nilai yang lebih besar akan tercipta apabila pengembangan panas bumi ikut memperkuat ketahanan energi, memperluas investasi, mendorong keterlibatan industri domestik, dan membantu menurunkan intensitas emisi ekonomi.
Dengan target ekspansi kapasitas PGE serta pengembangan sejumlah proyek strategis, panas bumi berpeluang menjadi bagian penting dari fondasi energi jangka panjang Indonesia.
Peluang itu membutuhkan sinergi antara investasi, infrastruktur kelistrikan, pembiayaan, industri pendukung, dan kebijakan yang konsisten.
Keberhasilan transisi energi perlu diukur bukan hanya dari besarnya kapasitas yang dibangun, melainkan juga dari keandalan listrik yang dihasilkan, nilai tambah yang tercipta di dalam negeri, dan kontribusinya terhadap daya saing industri.
Dalam kerangka tersebut, capaian PGE menjadi contoh konkret bahwa pengelolaan energi yang disiplin dapat mendukung agenda industri yang lebih produktif, tangguh, dan rendah karbon. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form