Wednesday
04 November 2026

Pemimpin Manufaktur Harus Berubah, Digitalisasi Perlu Strategi  

SharePemimpin manufaktur di Asia Tenggara perlu mengubah pola pikir, memperkuat literasi digital, dan mengelola risiko investasi agar transformasi digital meningkatkan efisiensi serta daya saing bisnis. Director of Corporate Finance Advisory perusahaan Deloitte Singapore,  Jeremy Huang menganjurkan agar para pemimpin manufaktur berusaha menyatukan komunikasi di seluruh jaringan bisnis (kiri). Gamar kanan merupakan lambang yang menggambarkan pengalaman […]
Rayendra L. Toruan
Rayendra L. Toruan · 31 Oct 2026 · Transformasi Digital · 8 min read

Pemimpin manufaktur di Asia Tenggara perlu mengubah pola pikir, memperkuat literasi digital, dan mengelola risiko investasi agar transformasi digital meningkatkan efisiensi serta daya saing bisnis.

Director of Corporate Finance Advisory perusahaan Deloitte Singapore,  Jeremy Huang menganjurkan agar para pemimpin manufaktur berusaha menyatukan komunikasi di seluruh jaringan bisnis (kiri). Gamar kanan merupakan lambang yang menggambarkan pengalaman di berbagai sektor industri menjadi andalan perusahaan Deloitte Singapore (Foto/@: Deloitte)

 



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Article have been published with title : Pola Pikir Pemimpin Manufaktur harus Berubah, Hati-hati Rangkulan Inovasi Digital | mmINDUSTRI.co.id

Penulis/editor: Marinus L. Toruan

mmINDUSTRI.co.id — Deloitte Singapore (sumber): Transformasi digital membuka peluang besar bagi industri manufaktur. Namun, penerapannya tidak selalu menghasilkan dampak positif. Tanpa strategi yang tepat, investasi teknologi justru dapat menekan profitabilitas dan membebani operasional perusahaan.

Karena itu, para pemimpin manufaktur di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu mengubah pola pikir dan menyusun strategi digitalisasi secara terukur. Kolaborasi dengan pemangku kepentingan, kesiapan sumber daya manusia, serta kemampuan menyeimbangkan investasi dan keuntungan menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan industri.

Beberapa waktu lalu Director of Corporate Finance Advisory Deloitte Singapore, Jeremy Huang, menyarankan para pemimpin manufaktur mengambil langkah strategis menuju digitalisasi dengan membangun kemitraan bersama pemangku kepentingan lainnya.

Setiap pihak yang terlibat perlu menemukan keseimbangan yang tepat dalam mengelola berbagai aspek bisnis dan industri. Pendekatan ini penting agar penerapan teknologi tidak hanya berorientasi pada modernisasi, tetapi juga menghasilkan nilai bisnis yang berkelanjutan.

Huang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun dalam bidang merger dan akuisisi (M&A), khususnya di sektor manufaktur, industri, jasa pertambangan, dan kesehatan. 

Pengalamannya mencakup pendampingan bisnis dalam berbagai transaksi di Australia, Tanzania, Malawi, Singapura, Malaysia, dan Indonesia, termasuk privatisasi tiga perusahaan manufaktur yang terdaftar di Singapore Exchange (SGX), pasar modal Singapura.

Dalam pengamatannya, produsen berskala besar dari Eropa dan Amerika Serikat (AS), yang memiliki margin tinggi, proses bisnis mapan, serta kepemilikan kekayaan intelektual, semakin cepat mengintegrasikan transformasi digital ke dalam operasional industri. 

Mereka juga bermitra dengan pelanggan untuk merancang dan merekayasa solusi inovatif melalui perpaduan teknologi dan proses manufaktur guna memenuhi kebutuhan produk yang menantang di berbagai pasar.

“Menemukan keseimbangan yang tepat untuk memaksimalkan pendapatan, mengurangi biaya operasional, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan fleksibilitas akan memacu produsen untuk memasukkan teknologi baru dan tetap kompetitif di pasar global,” tandas Jeremy Huang beberapa waktu lalu.

Dalam diskusi singkat dengan Manufacturing Asia, Huang membahas manfaat digitalisasi bagi industri manufaktur, tantangan yang dihadapi pelaku industri setelah pandemi COVID-19, serta strategi untuk mengelola risiko transformasi digital.

Digitalisasi membuka peluang, tetapi investasi harus terukur

Apa keunggulan digitalisasi bagi produsen di Asia Tenggara, khususnya dalam menghadapi perubahan industri manufaktur?

Meningkatnya nasionalisme ekonomi, terganggunya hubungan perdagangan AS–China, gangguan pandemi, dan krisis rantai pasokan justru membuka peluang besar bagi produsen di Asia Tenggara untuk memanfaatkan potensi Industri 4.0.

Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya diimbangi kesiapan perusahaan. Survei Oracle menunjukkan bahwa para profesional teknologi, khususnya di sektor manufaktur Asia Tenggara, menilai perusahaan mereka masih tertinggal dalam mengadopsi teknologi digital.

Padahal, industri manufaktur berkontribusi lebih dari 20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) di pasar-pasar individual di kawasan tersebut.

Huang mengamati bahwa sejumlah perusahaan manufaktur terkemuka di Asia Tenggara telah berinvestasi untuk mendukung digitalisasi. Meski demikian, investasi tersebut belum tentu dilakukan dengan strategi yang optimal untuk menghasilkan margin keuntungan yang diharapkan.

Salah satu contohnya adalah perusahaan jasa permesinan dan teknik di Singapura yang mengalokasikan investasi besar untuk peralatan manufaktur canggih, termasuk sistem kontrol dan pelaporan digital.

Investasi tersebut memungkinkan perusahaan menekan biaya langsung secara signifikan melalui otomatisasi. Perusahaan juga mampu mempertahankan margin kas kotor dan margin EBITDA yang sehat.

Namun, setelah memperhitungkan depresiasi, perusahaan menghadapi tekanan pada laba kotor dan laba bersih.

Kondisi ini menjadi peringatan bagi perusahaan yang menjalankan transformasi digital secara mandiri. Investasi modal perlu diukur secara cermat dan, jika diperlukan, dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu yang lebih panjang.

“Ini bukan untuk mengatakan bahwa produsen tidak boleh memulai digitalisasi karena ada contoh sukses yang kredibel di Asia Tenggara—misalnya perusahaan di Singapura,” ujar Jeremy Huang.

Kemitraan mempercepat adopsi Industri 4.0

Singapura menjadi salah satu contoh bagaimana dukungan pemerintah dapat membantu perusahaan mempercepat transisi digital dalam perekonomian pascapandemi. Menurut Huang, dukungan tersebut turut memberikan dampak positif bagi pelaku industri manufaktur.

Salah satu contohnya adalah perusahaan rekayasa presisi yang beroperasi di Singapura dan terafiliasi dengan perusahaan besar berkantor pusat di Eropa. Perusahaan tersebut bermitra dengan lembaga penelitian pemerintah Singapura untuk mengotomatisasi dan menyederhanakan proses internal.

Kolaborasi tersebut meningkatkan efisiensi sekaligus memperbaiki hasil yang diperoleh perusahaan dari proses operasionalnya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Perusahaan juga perlu membangun kemitraan yang tepat, memahami kebutuhan bisnis, dan memastikan bahwa investasi memberikan hasil yang terukur.

Keseimbangan antara pertumbuhan pendapatan, pengurangan biaya, peningkatan efisiensi, dan fleksibilitas operasional menjadi landasan bagi produsen untuk mengadopsi teknologi baru sekaligus mempertahankan daya saing di pasar global.

Huang juga mengamati bahwa produsen berskala besar dari Eropa dan AS memanfaatkan kemitraan dengan pelanggan untuk mengembangkan solusi inovatif. 

Mereka menggabungkan kemampuan manufaktur dan teknologi guna mendukung pengembangan produk yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi di berbagai pasar.

Meski demikian, teknologi bukan satu-satunya faktor penentu. Manusia dan proses bisnis justru kerap menjadi hambatan utama ketika perusahaan memulai transformasi digital.

Salah satu tantangan yang sering muncul adalah keterbatasan keterampilan digital di kalangan tenaga kerja. Tanpa peningkatan kompetensi, teknologi yang telah diinvestasikan perusahaan berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.

Sebaliknya, sejumlah pelanggan dan produsen yang beroperasi di industri bermargin rendah dengan pengendalian biaya ketat cenderung mengambil pendekatan wait and see atau menunggu perkembangan sebelum berinvestasi lebih jauh.

Menurut Huang, beberapa faktor dapat mempercepat adopsi teknologi manufaktur di Asia Tenggara. Faktor tersebut mencakup dukungan pemerintah Singapura terhadap Industri 4.0, keselarasan teknologi dengan kebutuhan industri, kemitraan global, serta perubahan pola pikir—terutama di kalangan manajemen puncak.

Peningkatan literasi digital juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Otomatisasi memperkuat peluang pasar ekspor

Bagaimana perusahaan dapat mengembangkan pasar ekspor baru dan memperluas jangkauan bisnis?

Pandemi yang lalu justru mendorong sejumlah produsen dan eksportir global di luar Asia Tenggara untuk mempertimbangkan percepatan penerapan otomatisasi dan robotika. Langkah ini antara lain ditujukan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, lanjut Jeremy Huang.

Di sisi lain, perusahaan menghadapi persyaratan perjanjian tingkat layanan Service Level Agreement (SLA) dan standar lingkungan, sosial, serta tata kelola Environmental, Social, and Governance  (ESG) yang semakin ketat. Permintaan dari sektor e-commerce juga terus mendorong perubahan dalam proses bisnis.

Untuk merespons kebutuhan tersebut, banyak produsen memanfaatkan otomatisasi secara menyeluruh atau end-to-end guna menyederhanakan proses produksi.

Pendekatan ini berpotensi mendukung aliran pendapatan berulang, pertumbuhan laba yang lebih stabil, percepatan pengembalian investasi, serta peningkatan kepuasan pelanggan.

Selain itu, semakin ketatnya undang-undang dan peraturan ekspor di berbagai negara membuat keandalan proses produksi dan rantai pasokan menjadi semakin penting.

Transformasi digital dapat membantu perusahaan meningkatkan keandalan operasional sekaligus memperkuat langkah-langkah keamanan dalam proses manufaktur dan rantai pasokan.

Namun, Huang menilai tingkat adopsi sejumlah inovasi digital dan otomatisasi di sektor manufaktur Asia Tenggara masih relatif rendah. Dalam pengamatannya, sebagian inisiatif justru dipimpin oleh produsen swasta yang didanai ekuitas dan berupaya mengurangi biaya tenaga kerja.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk mengurangi risiko operasional serta merancang sistem bisnis yang berkelanjutan dan mampu memperkuat daya tarik perusahaan di mata investor melalui prospek pertumbuhan yang lebih meyakinkan.

Ubah Pola Pikir untuk Mengelola Risiko Transformasi

Bagaimana eksportir dan produsen dapat mengatasi risiko transformasi digital?                                                   Setiap proses transformasi mengandung risiko. Karena itu, perubahan yang berisiko membutuhkan dukungan dan komitmen manajemen senior.

Para pemimpin di sektor ekspor dan manufaktur perlu mengubah pola pikir agar mampu menerima serta merespons dampak perubahan yang disruptif terhadap industri dan perdagangan global.

Langkah awalnya adalah membangun komunikasi yang sederhana, kuat, dan konsisten kepada seluruh karyawan. Komunikasi tersebut harus mendorong kolaborasi dan memastikan setiap fungsi bisnis dapat bekerja secara terpadu, termasuk antarlokasi yang berbeda, dalam menerapkan digitalisasi.

Hal itu disampaikan Jeremy Huang melalui rilisnya belum lama ini.

Tantangan lainnya adalah perusahaan kerap belum memiliki tim khusus atau kantor transformasi digital yang bertugas menjembatani kesenjangan keterampilan teknologi dan mengoordinasikan seluruh unit bisnis dalam proses perubahan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, perusahaan dapat mempertimbangkan perekrutan tenaga profesional atau penggunaan jasa konsultan eksternal guna mendukung perjalanan transformasi digital.

Selain memperkuat organisasi, produsen dan eksportir dapat mempertimbangkan penerapan modul dalam sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang terhubung dengan platform perdagangan digital.

Integrasi tersebut perlu dirancang secara tepat agar sistem perusahaan yang sudah ada dapat terhubung dengan karyawan, pelanggan, dan pemasok. Dengan demikian, digitalisasi tidak berjalan sebagai inisiatif yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari sistem bisnis yang terintegrasi.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi teknologi. Ketahanan menghadapi ketidakpastian dan kesiapan mengubah pola pikir menjadi prasyarat agar perusahaan mampu beradaptasi dengan dinamika pasar dan perdagangan.

Bagi pemimpin manufaktur di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, kemampuan menyeimbangkan inovasi, efisiensi, kesiapan sumber daya manusia, dan pengelolaan risiko akan menjadi faktor penting untuk tetap kompetitif dalam era perdagangan digital pascapandemi. #SalamSobatmmINDUSTRI 

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0

Leave a Reply

  • Rubrik