Pesawat N-219

Siap Mengudara dan telah Dipesan

0
36
Rekayasa pesawat N-219 bermesin canggih turboprop lengkap dengan instrumen yang canggih seperti head-up display merupakan instrumen penerbangan digital. (Sumber foto: Tribunnews)

Thailand, Filipina, Laos, Kroasia, dan sejumlah negara dan perusahaan dalam negeri memesan N-219 buatan Bandung itu. Meski lebih murah, kualitas N-219 setara  dengan Twin Otter bermesin turboprop produksi Kanada.

Rekayasa pesawat N-219 bermesin canggih turboprop lengkap dengan instrumen yang canggih seperti head-up display merupakan instrumen penerbangan digital. (Sumber foto: Tribunnews)
Rekayasa pesawat N-219 bermesin canggih turboprop lengkap dengan instrumen yang canggih seperti head-up display merupakan instrumen penerbangan digital. (Sumber foto: Tribunnews)

Setelah vakum tidak pernah memroduksi pesawat baru sejak tahun 1997 hingga tahun 2014, PT Dirgantara Indonesia  sedang menyelesaikan perakitan prototipe  pesawat  N-219—hasil kerja sama dengan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antarika Nasional). Pesawat N-219 akan mengudara secara komersial pada tahun 2016.

Pesawat   N-219 bermesin dua Pratt & Whitney PT6-42A atau turboprop dan  850 shaft horse power  buatan Kanada. Sedangkan baling-baling Hartzell buatan Amerika Serikat (AS). Sementara sistem avionik, N-219 menggunakan Garmin 1000 buatan AS. Dirgantara Indonesia sangat ketat memilih mesin melalui seleksi pada sejumlah perusahaan di berbagai negara. Pendapat pihak  customer juga dikumpulkan oleh Dirgantara Indonesia yang didirikan oleh Prof.Dr. B.J. Habibie itu.

Advertisement

Operator di Indonesia pada umumnya lebih menyukai mesin buatan Kanada yang reputasinya cukup bagus. Harap maklum mesin Pratt & Whitney PT6-42A telah digunakan dalam lebih 2.500 unit pesawat. Dengan demikian harga mesin tidak terlalu mahal, pemeliharaannya pun mudah, dan suku cadang mudah diperoleh.

Rancang bangun mesin Pratt & Whitney PT6-42A menggunakan teknologi tahun 2000-an, berbeda dengan teknologi yang digunakan oleh perusahaan lain (pesaing)  yang didesain dengan teknologi tahun 1960-an. Oleh karena itu, pesawat N-219  memiliki keunggulan seperti  kemampuan lepas landas, dapat mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter, dan mendarat di landasan yang tidak beraspal. N-219 juga mudah dioperasikan di beberapa daerah terpencil, kabin terluas di kelasnya, serta biaya operasional yang kompetitif.

Pesawat N-219 juga dapat dikendalikan dengan kecepatan rendah yaitu 59 knot. N-219 cocok digunakan pada rute penerbangan perintis yang kondisi bandara di daerah-daerah terpencil pada umumnya berlandasan pendek dan belum beraspal. N-219 dapat difungsikan untuk kegiatan militer, patroli maritim,  evakuasi di daerah bencana. Menurut perkiraan, untuk melayani daerah-daerah terpencil, Indonesia membutuhkan 100 unit pesawat N-219.

Pesanan terus meningkat

Oleh karena kemampuan N-219 di seluruh daerah penerbangan perintis yakni 21 provinsi yang meliputi 170 rute penerbangan maka pesawat ini tepat digunakan di  daerah Sulawesi dan Papua.  Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia  Budi Santoso menjelaskan kepada wartawan, bahwa proses perakitan akhir untuk pembuatan prototipe N-219 diselesaikan pada tahun 2015. Selanjutnya, Dirgantara Indonesia akan memmroduksi N-219 ecara massal mulai tahun 2016.

Baca juga :   Manfaatkan Kekuatan Angin

Produksi N-219 pada 2017 ditargetkan rata-rata 6 unit per tahun, pada 2018 sebanyak 10 unit, kemudian pada 2019 ditingkatkan menjadi 18 unit maksimal 20 unit per tahun bergantung pada permintaan pasar.

Pesawat N-219 berkapasitas 19 penumpang itu dibuat dengan  investasi sekitar $50 juta AS. Harga jual direncanakan berkisar $5 juta – $6 juta AS per unit—relatif lebih murah dibandingkan dengan pesawat Twin Otter buatan Kanada yang dipatok sekitar $7 juta AS per unit.

Perusahaan penerbangan yang telah memesan N-219 antara lain, Sriwijaya Air, Susi Air Aviastar, dan Trigana Air. Kroasia, Laos, Thailand, dan negara lain juga akan membeli. Thailand yang pernah membeli pesawat NC-212 dan CN-235 buatan Dirgantara Indonesia akan menggunakan N-219 sebagai pesawat hujan buatan di area pertanian.

Yang membanggakan lagi, pembuatan pesawat N-219 melibatkan kebanyakan perekayasa muda lulusan STM Penerbangan. Mereka dibimbing oleh perekayasa senior—hasil didikan Habibie—sehingga pada proses pembuatan N-219 terjadi semacam alih generasi. Kandungan lokal yang digunakan diusahaan dapat mencapai 60 persen untuk mendorong kemajuan industri pendukung di dalam negeri.

Kita mengharapkan pada uji coba N-219 berjalan lancar dan segera mengantongi sertifikat internasional. Anak-anak Indonesia telah sukses meluncurkan N-250 pada tahun 1996. Kini giliran pesawat N-219 yang dilengkapi instrumen cukup canggih seperti head-up display merupakan instrumen penerbangan digital juga suses mengudara tahun 2016 dan segera memasuki era komersial.

Selamat PT Dirgantara Indonesia. (Bahan diolah dari berbagai sumber seperti KOMPAS.com, Medeka.com, Tribunnews, dan lain-lain).

Advertisement

Tulis Opini Anda