Perempuan penyandang paraplegik membutuhkan inovasi kesehatan agar mereka mandiri seperti saat berada di toilet. Pameran MEDICA yang berlangsung pada 17–20 November 2025 di Düsseldorf, Jerman, menggelar teknologi medis berbasis digital.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IPA (sumber): Inovasi alat kesehatan terbaru diperkenalkan—berfokus pada peningkatan kemandirian perempuan penyandang paraplegia.
Melalui MEDICA 2025, pameran internasional teknologi medis para ahli dari Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation IPA memperkrnalkan inovasi alat kesehatan terbaru untuk peningkatan kemandirian perempuan penyandang paraplegia.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Inovasi terbaru ini diharapkan membuka jalan bagi solusi medis yang lebih inklusif dan berkeadilan gender.
Orang dengan cedera tulang belakang membutuhkan kateter baru sekitar empat hingga delapan kali sehari untuk mengosongkan kandung kemih mereka. Karena alasan anatomi, kaum perempuan biasanya membutuhkan bantuan eksternal, yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien.
Juga terjadi peningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan dengan demikian, dalam jangka panjang terjadi kanker kandung kemih.
Para peneliti di Fraunhofer IPA berusaha mempermudah kehidupan sehari-hari bagi perempuan penyandang paraplegia. Istilah paraplegic women berarti perempuan penyandang paraplegia.
Secara medis, paraplegia adalah kondisi kelumpuhan pada kedua tungkai bawah yakni kaki dan sebagian tubuh bagian bawah yang terjadi karena cedera sumsum tulang belakang atau kerusakan sistem saraf pusat.
Kondisi ini bisa disebabkan kecelakaan—misalnya kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian, infeksi atau penyakit saraf, dan cedera akibat operasi atau trauma tulang belakang.
Jadi, paraplegic women merujuk pada perempuan yang mengalami kelumpuhan sebagian tubuh bagian bawah yang berdampak pada kemampuan bergerak dan aktivitas sehari-hari — termasuk aktivitas personal seperti berpindah posisi, perawatan diri, dan fungsi reproduksi.
Di seluruh dunia, lebih dari tiga juta perempuan mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah, misalnya akibat kecelakaan atau akibat multiple sclerosis. Sekitar 100 juta perempuan menderita inkontinensia urin.
Penderita paraplegik khususnya, memerlukan kateter karena, setelah mencapai tingkat kelumpuhan tertentu, kandung kemih tidak dapat lagi mengosongkan dirinya sendiri.
Kateter dimasukkan melalui uretra ke dalam kandung kemih dan mengalirkan urine dari tubuh – sebuah proses vital yang tanpanya penderita akan meninggal dalam waktu kurang dari tiga hari.
Privasi lebih untuk pasien wanita
Penggunaan kateter indwelling memiliki risiko infeksi yang lebih tinggi, penderita cedera tulang belakang memerlukan kateter baru sekitar empat hingga delapan kali sehari. Tidak seperti pria, uretra pada wanita tersembunyi di dalam tubuh.
Hal itu menyulitkan pasien perempuan untuk mengganti kateter sendiri, sehingga mereka sering bergantung pada bantuan perawat.
Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi penderita, dan meningkatkan risiko infeksi saluran kemih – dan dengan demikian, dalam jangka panjang, meningkatkan kemungkinan terkena kanker kandung kemih.
Perangkat medis canggih yang dirancang khusus untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup perempuan dengan keterbatasan fisik seperti disebabkan paraplegik.
Hasil riset para ahli menyoroti kebutuhan spesifik perempuan dalam aspek perawatan pribadi, kesehatan reproduksi, dan pemantauan kondisi tubuh secara mandiri.
Tim peneliti mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan sensor cerdas dan sistem otomatisasi untuk membantu pasien agar lebih leluasa menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa ketergantungan penuh pada tenaga medis atau pengasuh.
Selain itu, pendekatan desainnya mengutamakan kenyamanan, keamanan, dan keberlanjutan, sejalan dengan prinsip-prinsip engineering for inclusion yang kini banyak diterapkan dalam inovasi teknologi medis Eropa.
Dr. Urs Schneider, direktur ilmiah untuk teknologi kesehatan dan bioproduksi di Fraunhofer IPA di Stuttgart, ingin membantu para pasien perempuan penyandang paraplegia.
Bersama rekan-rekannya, ia mengembangkan perangkat melalui proyek 2LIP yang berguna bagi perempuan yang cedera tulang belakang untuk memasang kateter secara mandiri.
“Situasi di toilet seringkali sangat menegangkan bagi mereka penyandang paraplegia—ini adalah topik yang dikaitkan dengan rasa malu,” papar Urs Schneider. “Dengan bantuan alat, kami ingin mengembalikan privasi pasien cedera tulang belakang.”
Untuk mencapai hasil yang direncanakan, maka tim Dr. Urs Schneider mengembangkan jenis kursi yang dapat digunakan oleh pasien tanpa harus meninggalkan kursi roda atau bergeser ke arah depan.
Dua penyangga dengan lembut menahan kaki pasien agar tetap terbuka: sebelumnya mereka harus membukanya sekitar 110 derajat untuk memasukkan kateter baru sendiri, perangkat baru ini hanya membutuhkan 20 derajat.
Dengan menggunakan tuas, pasien dapat membuka labia mereka secara mandiri dengan lembut dan mudah karena cermin dan lampu terintegrasi memberikan pasien pandangan ke area intim mereka, sehingga memudahkan pemasangan kateter secara higienis.
Para perawat juga mendapatkan manfaat dari pengembangan ini sebab perangkat ini memberikan kelegaan psikologis, fisik, dan menghemat waktu serta membantu meningkatkan kualitas perawatan.
Prototipe awal alat bantu kateterisasi sudah ada, dan umpan balik dari pasien, perawat, dan perusahaan asuransi setelah uji coba awal sangat positif.
Para peneliti mengembangkan empat hingga enam bentuk geometris yang berbeda untuk memastikan alat tersebut dapat disesuaikan dengan sebanyak mungkin anatomi.
Berkat keberhasilan itu, tim Dr. Urs Schneider berencana untuk mendirikan perusahaan rintisan untuk memproduksi sendiri alat tersebut; uji klinis komprehensif sedang berlangsung.
Alat ini dapat dipasarkan hanya dalam dua hingga tiga tahun – sehingga mengisi kesenjangan yang signifikan dalam layanan kesehatan wanita.
Bagi pelaku industri alat kesehatan di Indonesia, inovasi seperti yang dipamerkan pada MEDICA 2025 patut dijadikan referensi strategis. Pasar domestik masih terbuka luas untuk produk medis yang memperhatikan aspek gender, inklusivitas, dan otomasi cerdas.
Kemitraan riset dengan lembaga seperti Fraunhofer IPA membuka jalan bagi transfer teknologi dan peningkatan kapabilitas manufaktur nasional.
Sinergi antara akademisi, pelaku industri, dan lembaga pemerintah menjadi kunci agar inovasi serupa dapat diterapkan di rumah sakit dan pusat rehabilitasi di tanah air.
Kemandirian perempuan dalam kesehatan bukan sekadar isu sosial, tetapi juga indikator kemajuan teknologi dan kebijakan industri. Indonesia perlu melihat arah pengembangan global seperti yang diangkat melalui MEDICA 2025 untuk memperkuat daya saing dan kemandirian alat kesehatan nasional.
Dengan mendorong riset yang berorientasi pada kebutuhan pasien perempuan dan penyandang disabilitas, industri alat kesehatan di Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar pasar menjadi pusat inovasi kesehatan yang relevan dan berkelanjutan.
Melalui MEDICA yang dilaksanakan pada 17–20 November 2025 dengan penyelenggara Messe Düsseldorf di Düsseldorf, Jerman, mempertemukan lebih dari 5.000 perusahaan dari 70 negara.
Para pengunjung berkesempatan medalami solusi medis digital, bioteknologi, serta perangkat rehabilitasi berbasis AI dan robotika.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form