Peneliti Fraunhofer membuat bahan tableware kompos atau peralatan makan dari ampas bit (beet) yang berasal dari bioekonomi. Eropa melarang penggunaan produk bahan plastik yang sekali pakai.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer WKI (sumber): Produk seperti peralatan makan atau tableware kompos lagi naik daun di Uni Eropa. Uni Eropa melindungi lingkungan dan lautan dari kontaminasi yang disebabkan barang berbahan plastik.
Oleh sebab itu, Uni Eropa melarang (keras) penggunaan barang plastik yang sekali pakai. Bahkan barang yang sekali pakai dan terbuat dari polimer alami juga tidak diizinkan untuk dimodifikasi.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Bersama para mitra, para peneliti Fraunhofer Institute for Wood Research, Wilhelm-Klauditz-Institut WKI, sedang mengembangkan peralatan makan yang sekali pakai dan dapat dikomposkan berdasarkan residu pertanian domestik dari produksi gula.
Menggunakan thermoforming, film baru yang terbuat dari serpihan bit (beet) gula diproses lebih lanjut menjadi komponen cetakan 3D seperti peralatan makan yang sekali pakai dan di uji coba di lab Fraunhofer WKI.
Banyak produk plastik sekali pakai telah dilarang produksi dan penjualannya di Uni Eropa sejak 3 Juli 2021. Namun, solusi penggunaan kembali yang lebih ramah lingkungan tidak memungkinkan untuk semua aplikasi.
Di pameran dagang, festival, dan acara lainnya, misalnya, terdapat kekurangan solusi untuk barang sekali pakai yang fungsional dan ramah lingkungan.
Bahan plastik yang sekali pakai atau single-use plastics directive (SUPD), sejak tahun 2021, hanya produk sekali pakai yang terbuat dari polimer yang tidak dimodifikasi yang terdapat secara alami di lingkungan yang diizinkan.
Sebagai alternatif berkelanjutan, para peneliti di Fraunhofer WKI, bersama dengan Institut Bioteknologi di Universitas RWTH Aachen dan Pfeifer & Langen GmbH & Co. KG, mengembangkan senyawa dan film polimer berdasarkan residu nabati yang tersedia secara regional
dari produksi pangan dalam proyek EBRA (lihat di bawah). Residu ini dapat diolah lebih lanjut menjadi piring atau peralatan makan, misalnya.
Memperkuat pasar regional
“Aliran limbah pertanian seperti ampas bit gula, yang dikombinasikan dengan polimer alami seperti pati jagung dan pektin dari bit, menawarkan potensi untuk digunakan sebagai bahan baku peralatan makan dan peralatan makan yang dapat dikomposkan,” ungkap Dr. Arne Schirp, ilmuwan Fraunhofer WKI.
Ampas bit (beet) sangat cocok untuk didaur ulang lebih lanjut, karena menghasilkan tonase tujuh digit selama panen bit dari para produsen gula di Jerman. Mengolahnya langsung di lokasi menjadi senyawa yang rute transportasi dipersingkat, menghemat CO2, dan memperkuat pasar regional.

Bahan film yang dapat dikomposkan di rumah terbuat dari polimer yang tidak dimodifikasi lebih mudah terurai secara hayati dibandingkan dengan piring berbahan kertas.
Campuran ampas bit, pati, dan pektin dilengkapi dengan plasticizer air dan gliserin. Mitra proyek berhasil membuktikan melalui analisis ekotoksikologi yang ditugaskan bahwa substrat yang dihasilkan dengan cara ini aman meski bersentuhan dengan bahan makanan.
Film polimer yang stabil secara mekanis dan tahan air berkat pelapis berbasis bio.
Material-material tersebut harus memenuhi beberapa kriteria seperti harus mudah terurai dan dapat dikomposkan di rumah—artinya dapat dibuang di tempat sampah kompos rumah atau di tempat sampah hijau.
Dalam uji pendahuluan, para peneliti menunjukkan bahwa material tersebut terurai lebih efektif daripada piring kertas konvensional dalam waktu dua belas minggu. Lebih lanjut, material tersebut dicirikan oleh stabilitas yang lebih baik daripada material referensi.
Lebih lanjut, produksi senyawa dan film, serta konversinya menjadi peralatan makan sekali pakai yakni tableware kompos, seharusnya dapat dilakukan dengan peralatan yang ada.
Persyaratan khusus mencakup stabilitas mekanis dan ketahanan air untuk makanan berlemak seperti sosis dan hidangan berminyak lainnya. Hal itu akan dicapai dengan pelapis berbasis bio yang dikembangkan oleh Universitas RWTH Aachen.
“Pertama, campuran bubur bit giling, pati jagung, dan aditif diproduksi dengan menggunakan compounder, kemudian dihancurkan menjadi pelet. Pelet-pelet ditekan menjadi film, dan kemudian dilapisi. Pada langkah terakhir, dibentuk menjadi pelat,” Anne Schirp menjelaskan proses produksinya.
Karena polimer yang digunakan memiliki titik leleh rendah atau tidak ada, polimer tersebut dapat digunakan untuk membuat material baru dengan konsumsi energi yang rendah. Limbah pertanian dapat digunakan untuk aplikasi material dengan nilai lebih tinggi demi keberlanjutan.
Piring sudah tersedia dalam bentuk demonstrator, dan material untuk peralatan makan atau sekali pakai, yang akan diproduksi menggunakan cetakan injeksi, sedang dipersiapkan.
Pada langkah selanjutnya, mitra proyek berencana untuk meningkatkan produksi ke skala industri dan memasarkannya.
Dengan menyelesaikan proyek EBRA maka pengembangan produk sekali pakai dengan pelapis berbasis bio(economy) dari aliran limbah pertanian regional dari industri makanan berpotensi dilanjutkan.
Bioeconomy (bioekonomi) adalah sistem ekonomi yang berfokus pada penggunaan sumber daya hayati (biomassa) secara berkelanjutan untuk menghasilkan pangan, energi, produk industri, dan layanan.
Bioekonomi yang berbasis hayati memanfaatkan organisme hidup atau hasilnya (seperti tanaman, mikroorganisme, limbah organik) untuk menggantikan bahan baku fosil dalam berbagai sektor industri.
Contoh penerapan bioekonomi di Indonesia seperti sektor pertanian dan perikanan, yang relevan dengan potensi lokal dan kebutuhan keberlanjutan.
Sektor pertanian dengan pemanfaatan limbah pertanian untuk energi dan produk baru. Contoh dengan memanfaatkan jerami padi, tongkol jagung, dan kulit singkong diolah menjadi bioenergi (biogas atau bioetanol), pupuk organik, atau bahan baku bioplastik.
Hal itu akan mengurangi pembakaran lahan, menciptakan nilai ekonomi dari limbah, dan mendukung transisi energi hijau.
Contoh lain adalah pupuk hayati dan pestisida nabati dengan contoh penggunaan mikroorganisme lokal seperti Rhizobium atau Trichoderma sebagai pupuk hayati, serta ekstrak tanaman seperti mimba untuk pestisida alami.
Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan pada input kimia impor, menjaga kesuburan tanah, dan meningkatkan hasil panen berkelanjutan.
Pengembangan budidaya pertanian berbasis bioindustri dapat membantu para petani singkong yang peran mrtrks menjadi mitra bioindustri tepung, bioetanol, atau bioplastik berbasis pati. Maka petani tidak hanya menjual bahan mentah, tapi juga masuk rantai nilai industri hayati.
Demikian juga sektor perikanan dengan memanfaatan limbah ikan dan rumput laut. Sisa kepala, tulang, dan kulit ikan diolah menjadi peptida kolagen, pupuk organik, pakan ternak, atau biodiesel.
Sedangkan rumput laut (Gracilaria dan Eucheuma) dimanfaatkan sebagai bahan bioplastik, kosmetik alami, dan pangan fungsional. Dengan begitu maka nilai tambah produk kelautan, mengurangi limbah laut, dan menciptakan peluang ekspor.
Akuakultur berbasis bioekonomi dilakukan dengan budidaya ikan dan udang yang menerapkan sistem resirkulasi air (RAS) dan menggunakan pakan berbasis mikroalga atau limbah pertanian fermentasi. Lebih efisien, ramah lingkungan, dan meningkatkan produktivitas akuakultur nasional.
Menurut sebuah sumber, Indonesia mulai mengembangkan kawasan pertanian dan perikanan berbasis bioekonomi sirkular seperti di Kawasan Industri Hijau Berbasis Biomassa di Sulawesi dan Kalimantan.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form