mmINDUSTRI.co.id

Teknologi VR Interaktif Mendiagnosa Gejala Pasca-COVID

Teknologi VR interaktif berguna untuk mendiagnosa gejala pasca-COVID. Kondisi orang pasca-COVID (sudah sembuh) merasa nyeri otot dan dada, sesak napas, batuk, timbul masalah ingatan, sulit tidur, penciuman, perasa, dan debaran detak jantung tak normal. Apakah Indonesia memerlukan?

Alat VR yang dikembangkan oleh para ahli proyek EPSILON digunakan untuk menguji upaya kognitif dan memori spasial (Foto/©: Edit/Fraunhofer HHI)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer HHI (sumber): Dampak pandemi COVID-19 belum sepenuhnya berakhir. Meski banyak pasien telah dinyatakan sembuh dari infeksi akut, sebagian dari mereka masih mengalami gejala berkepanjangan yang dikenal sebagai Post-COVID atau Long COVID.

Gejala seperti kelelahan ekstrem dan gangguan kognitif sering kali mengganggu produktivitas dan kualitas hidup orang-orang yang sudah sembuh, namun sulit untuk diukur dan diidentifikasi secara objektif.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Untuk menjawab tantangan itu, proyek riset EPSILON yang dipimpin oleh Fraunhofer Institute for Telecommunications, Heinrich-Hertz-Institut (HHI), menciptakan solusi inovatif berupa tekologi virtual reality (VR) interaktif dan sensor tubuh guna mendiagnosis gejala Long COVID—lebih akurat.

Proyek EPSILON dikembangkan atas dasar kebutuhan untuk mengklasifikasikan dan mendefinisikan secara jelas gejala-gejala umum pasca-COVID seperti kelelahan dan disfungsi kognitif orang yang sudah sembuh dari COVID.

Metode diagnosis tradisional sering kali mengandalkan pengakuan subjektif pasien, namun justru menyulitkan tenaga medis dalam mengambil keputusan terapi yang tepat.

Dengan teknologi VR interaktif, pasien ditempatkan dalam simulasi yang dirancang khusus untuk memicu respons fisik dan mental yang umum terjadi pada penderita Long COVID.

Misalnya, pasien diminta untuk menjalani aktivitas virtual yang menuntut konsentrasi tinggi atau koordinasi motorik, sementara berbagai sensor yang dikenakan di tubuh akan merekam data fisiologis dan kognitif secara real-time.

Teknologi ini diharapkan mampu mempercepat diagnosis dan membuka jalan bagi perawatan yang lebih tepat sasaran.

Tujuan proyek EPSILON adalah menggunakan teknologi realitas virtual (VR) interaktif dan sensor yang dikenakan pada tubuh untuk secara akurat mengkarakterisasi gejala yang paling umum—kelelahan dan defisit kognitif—untuk membedakan dan mendefinisikannya dengan jelas.

Lembaga Fraunhofer HHI mengoordinasikan proyek ini dan bekerja sama dengan para mitra untuk mengembangkan metode diagnostik berbasis VR guna mengidentifikasi, mencatat, dan menganalisis gejala pasca-COVID.

Proyek EPSILON mengembangkan alat VR untuk uji kemampuan kognitif dan spasial.

Banyak pasien mengalami kelelahan kronis dan penurunan fungsi kognitif setelah dinyatakan sembuh, namun gejala yang dirasakan oleh pasien sulit diidentifikasi secara objektif dengan metode konvensional.

Infeksi telah sembuh meski gejalanya tetap ada. Di seluruh dunia, jutaan orang menderita gejala pasca-COVID. Lebih dari 200 gejala diketahui, memengaruhi hampir setiap organ dalam tubuh: jantung dan paru-paru, ginjal dan sistem gastrointestinal, sistem sensorik/metabolisme, dan otot/otak.

Defisit kognitif dan kondisi kelelahan seperti sindrom kelelahan adalah beberapa masalah yang paling umum pada mereka yang memiliki gejala persisten.

Masalah-masalah ini masih ada lebih dari tiga bulan setelah timbulnya infeksi SARS-CoV-2. Selain penderitaan individu yang dirasakan, hal ini juga memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat secara keseluruhan.

Alat diagnostik multimoda untuk terapi tertarget

Dengan beragamnya gejala yang muncul, persyaratan untuk pengobatan yang tepat pun sangat bervariasi. Selain diagnosis yang akurat, dokter harus mampu membedakan secara akurat antara pasca-COVID dan penyakit lain seperti depresi atau kelelahan.

Para peneliti yang mengerjakan proyek EPSILON berdedikasi pada tugas ini. Tim ahli memulai pengobatan sesuai target, dan bekerja di bawah koordinasi Fraunhofer HHI.

Mereka memetakan kriteria yang akurat dan objektif guna membedakan dua gejala paling umum dari kondisi pasca-COVID: defisit kognitif seperti kesulitan berkonsentrasi atau masalah memori dan sindrom kelelahan, perasaan kelelahan yang berkepanjangan, rasa lelah, dan kurangnya dorongan.

Tugas ahli dari mitra proyek adalah menggunakan seperangkat alat diagnostik multimoda untuk secara objektif menangkap dan menggambarkan kondisi kognitif dan vegetatif pasien dengan gejala-gejala ini, beserta pola perilaku pasien.

“Pasien dengan gejala pasca-COVID merasa sakit, tetapi dalam banyak kasus tidak ada nama yang jelas untuk apa yang mereka alami. Dengan data kesehatan yang kami kumpulkan dalam pengujian,” ungkap Paul Chojecki, ilmuwan (peneliti) Fraunhofer HHI dan koordinator EPSILON.

Menurut Paul Chojecki, timnya mengembangkan alat analisis untuk menilai tingkat keparahan keterbatasan kognitif dan kelelahan yang terkait dengan cepat dan mudah. ​

“​Pasien kemudian dapat berkonsultasi dengan dokter perawatan primer mereka atau klinik pasca-COVID untuk perawatan yang tepat sasaran,” lanjut Paul Chojecki.

Untuk membangun profil data individual, pasien pasca-COVID menjalani pra-skrining ekstensif di klinik pasca-COVID dan tes di pusat medis yang berpartisipasi dalam proyek ini.

Pemeriksaan ini dilengkapi dengan tes lain di mana para peneliti menggunakan teknologi VR dengan aplikasi yang dikembangkan secara khusus bersama dengan menggunakan arloji cerdas, sensor yang dikenakan pada tubuh pasien, dan tes psikologis digital.

Sementara perangkat yang dikenakan mencatat tanda-tanda vital dan data tidur, perangkat VR interaktif menangkap informasi tentang tatapan mata, gestur, dan gerakan tubuh pasien dan menggunakan parameter yang terdeteksi untuk tujuan diagnostik, seperti menentukan dan menilai tingkat aktivitas fisik.

Alat VR juga digunakan untuk upaya kognitif dan tes memori spasial. Dalam tugas memori 3 dimensi, pasien diminta untuk mengingat dan mengembalikan posisi objek yang benar seperti di ruang angkasa.

Data yang dikumpulkan dan dikompilasi dalam ruang data interaktif dan dikembangkan oleh Fraunhofer HHI, platform analisis EPSILON berbasis web, di mana informasi itu dianalisis secara otomatis dengan teknologi algoritma AI.

Mitra proyek menggunakan data dari tim peneliti sebagai dasar penerapan model multimoda untuk mengkarakterisasi subtipe pasca-COVID. Model ini akan memvisualisasikan hasil bagi pengguna secara real-time.

Analisis data beserta penjelasannya tersedia untuk tenaga medis dan peneliti. Rencananya, pasien juga dapat mengakses hasil melalui dasbor visualisasi dengan ponsel cerdas antarmuka.

Para peneliti berharap pendekatan ini akan meringankan beban klinik pasca-COVID dan menyediakan data berharga untuk penelitian COVID di masa mendatang dan aplikasi lainnya.

Proyek ini masih dalam tahap pengumpulan data. Tim yang dipimpin oleh Paul Chojecki berencana untuk mengadaptasi ruang data interaktif ini untuk penelitian tentang kondisi kesehatan lainnya.

Misalnya rencana untuk menggunakan platform analisis sebagai bagian dari proyek TeMoRett, dan para peneliti mengembangkan metode teknis untuk program olahraga yang bermanfaat bagi anak-anak dengan sindrom Rett, suatu kelainan genetik yang sangat langka.

Peluang bagi Indonesia

Penemuan para ahli Fraunhofer HHI ini dapat dijadikan sebagai peluang bagi para pihak di Indonesia seperti melakukan sinergi industri medis dan teknologi. Industri teknologi medis berpeluang membangun kolaborasi.

Adopsi teknologi VR dalam sistem kesehatan nasional merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas diagnosis penyakit pasca-pandemi—sejalan dengan upaya transformasi digital di sektor kesehatan Indonesia yang diusung oleh Kementerian Kesehatan RI.

Dengan data angka yang terkena COVID-19 di Indonesia selama pandemi, kebutuhan terhadap diagnosa pasca infeksi yang akurat menjadi semakin relevan. Teknologi VR yang ditemukan pada proyek EPSILON membantu mengatasi tantangan dan mendukung pemulihan produktivitas tenaga kerja yang terdampak.

Kita perlu mulai mengeksplorasi penggunaan teknologi VR sebagai alat bantu diagnosis dan terapi gejala Long COVID, khususnya pada pasien dengan keluhan kognitif dan kelelahan kronis.

Sangat baik jika kita membangun kemitraan dengan institusi riset internasional seperti Fraunhofer HHI untuk mengembangkan solusi berbasis VR yang dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.

Pemerintah selaku regulator berperan membuat kebijakan yang mendukung riset dan pengembangan teknologi medis canggih, serta insentif untuk rumah sakit yang mengadopsi inovasi ini sebagai bagian dari layanan klinis.

Teknologi virtual reality (VR) interaktif yang dikembangkan oleh tim ahli proyek EPSILON menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan akurasi diagnosis gejala Long COVID. Pendekatan objektif dan berbasis data, diagnosis pasien lebih tepat dan perawatan lebih efektif.

Bagi industri medis dan teknologi di Indonesia, inovasi ini bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab dalam membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan adaptif pasca pandemi di masa yang akan datang.

 

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version