mmINDUSTRI.co.id

Teknologi Smart Sprayer Digital Permudah Pengendalian Malaria

Penggunaan teknologi smart sprayer digital mempermudah pengendalian malaria dan perencanaan operasi kesehatan global—seperti daerah terdampak bencana banjir di Sumatera. Bagaimana penanganan lebih dari satu juta kasus malaria di Indonesia? 

Perangkat semprot pintar dan aplikasi web: Keduanya dimaksudkan untuk membantu menghindari kesalahan dalam memerangi malaria dan untuk memfasilitasi perencanaan operasional (kiri). Beginilah cara proses dokumentasi saat ini bekerja: Setelah menyemprotkan insektisida (gambar kanan), petugas pengendalian penyakit mengisi lembar data tabular secara manual. Lembar data ini kemudian diketik di pusat operasi (Foto/©: Rainer Bez/ Raphael Hägle/Fraunhofer IPA)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IPA (sumber): Upaya pengendalian malaria  memasuki babak baru dengan hadirnya teknologi smart sprayer berbasis digital. 

Inovasi yang dikembangkan oleh para ahli Fraunhofer IPA memungkinkan proses penyemprotan insektisida di dalam rumah atau Indoor Residual Spraying (IRS) yang dilakukan secara lebih akurat, terdokumentasi, dan terintegrasi dengan sistem data. 



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Dengan pencatatan dan transmisi data secara real-time, teknologi smart sprayer digital mengurangi risiko kesalahan di lapangan, dan membantu lembaga kesehatan dan organisasi kemanusiaan untuk merencanakan strategi pemberantasan malaria secara lebih efektif dan berkelanjutan pada masa mendatang.

Dalam memerangi malaria, para pekerja bantuan di seluruh dunia menyemprotkan insektisida di rumah-rumah—juga dilakukan di Indonesia. 

Data yang terkumpul—setelah penyemprotan direkam secara digital dan dikirimkan di masa mendatang. Hal itu dapat mencegah kesalahan yang tidak perlu dan mempermudah perencanaan operasi di masa mendatang.

Sekitar 263 juta kasus malaria dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2023, dan penyakit ini berakibat fatal bagi sekitar 597.000 orang. Angka-angka ini diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Laporan Malaria Dunia 2024.

Semntara kasus malaria di Indonesiaa—dilaporkan  secara resmi pada 2024 mencapai sekitar 543.965 kasus demikian  diungkapkan Antara News. 

Akan tetapi, estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan jumlah kasus malaria di Indonesia pada 2024 kemungkinan lebih tinggi, yaitu sekitar 1,1 juta kasus meski baru sekitar 54 persen  kasus itu yang terdeteksi dan dicatat secara resmi lapor detikHealth.  

Kasus malaria di Indonesia

Pemerintah Indonesia meluncurkan berbagai strategi seperti Presidential Call to End Malaria dan upaya uji coba hingga jutaan tes untuk mempercepat deteksi dan pengendalian kasus malaria yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 

Menurut ahli Fraunohfer IPA, petugas pengendalian malaria dengan menyemprotkan insektisida, dan mendata tabular secara manual: berisikan data  rumah warga yang sudah dikunjungi, ruangan yang mereka disemprot, dan jumlah anak dan orang dewasa, pria dan wanita tinggal di setiap rumah tangga. 

Data warga berfungsi untuk mendokumentasikan kampanye Indoor Residual Spraying (IRS) dan untuk merencanakan operasi di masa mendatang. 

Penyemprotan harus diulang setiap enam bulan karena insektisida kehilangan efektivitasnya seiring waktu.

“Pada malam hari, semua lembar data dikumpulkan, dibawa ke pusat operasi, dan diketik di komputer. Proses ini berulang kali menyebabkan kesalahan transkripsi,” ungkap Raphael Hägle tim riset Fraunhofer IPA. Ilmuwan itu pernah berada di Uganda pada Februari 2022.

Tim Raphael Hägle yang bekerja sama dengan perusahaan Mesto Spritzenfabrik Ernst Stockburger, melakuan digitalisasi pengumpulan data dan meningkatkan proses penyemprotan untuk petugas tanggap darurat. 

Mereka mengembangkan alat penyemprot yang digunakan di banyak negara seperti memerangi malaria. Hasilnya adalah alat penyemprot pintar dengan aplikasi web intuitif dan formulir input. 

Petugas pengendalian penyakit menggunakan formulir ini untuk memasukkan informasi yang sebelumnya mereka catat secara manual pada lembar data. 

Sensor pada alat penyemprot juga memungkinkan aplikasi web untuk melacak penggunaan insektisida, memastikan jumlah yang tepat tersedia untuk semua penyebaran di masa mendatang. 

Data awalnya disimpan secara lokal dan kemudian diunggah ke cloud pada malam hari. Penerima GPS dengan perencanaan rute juga terintegrasi, tetapi belum beroperasi. Sensor lain merekam pergerakan penyemprotan petugas pengendalian hama. 

“Jika dia menyemprot dinding dengan sudut yang terlalu curam, beberapa sudut mungkin tidak menerima cukup insektisida,” jelas Raphael Hägle. 

“Jika aplikasi web memberinya peringatan, dia dapat memperbaiki posturnya. Data pergerakan  tentu saja tidak dikirimkan ke pusat operasi.”

Alat penyemprot yang dilengkapi sensor dan aplikasi web yang menyertainya telah tersedia sebagai demonstrator. Sementara itu, tim Raphael telah menjajaki potensi aplikasi untuk alat penyemprot pintar di luar pengendalian penyakit. 

Tim ahli bekerja untuk mengendalikan hama dengan alat dan bahan pembasmi serangga, serta perlindungan tanaman dan industri konstruksi.

Sejak tahun 2018, WHO mencatat peningkatan jumlah kasus malaria secara terus-menerus di sebagian besar wilayah dunia, dan kampanye penyemprotan insektisida dalam ruangan (IRS) sendiri dan  beroperasi dengan kapasitas yang berkurang. 

Terdapat kekurangan dana untuk membayar insektisida dan personel pengendalian penyakit di lapangan. Salah satu penyandang dana utama hingga saat ini adalah Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), tetapi pendanaannya telah dipotong. #SalamSobatmmINDUSTRI


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version