Tim peneliti memanfaatkan protein biji rapeseed atau canola sebagai solusi vegan dan pakan ayam yang bergizi. Limbah pun diolah lebih lanjut untuk mengekstraksi protein nabati yang kaya akan nutrisi.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer CBP (sumber): Memanfaatkan biji rapeseed (canola) secara menyeluruh—termasuk bagian yang selama ini kurang dimanfaatkan—sukses dilakukan oleh peneliti—setelah proses ekstraksi minyak.
Para ahli berhasil mengembangkan proses yang memungkinkan ekstraksi protein nabati berkualitas tinggi dari biji rapeseed yang digunakan untuk produk makanan vegan menjadi burger dan sebagai sumber protein bernutrisi dalam pakan ayam.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Fraunhofer CBP, sebuah lembaga riset terkemuka di Jerman, mengembangkan teknologi yang memungkinkan pemanfaatan potensi biji rapeseed secara menyeluruh untuk produksi minyak nabati dan sebagai sumber protein nabati berkualitas tinggi.
Protein biji rapeseed atau canola ini digunakan sebagai bahan alternatif daging vegan seperti burger nabati, serta sebagai bahan pakan ternak bernutrisi terutama untuk ayam.
Inovasi ini merupakan bagian dari pendekatan ekonomi sirkular dan produksi berkelanjutan yang semakin penting dalam industri pangan global.
Penggunaan teknologi buatan para ahli memungkinkan pengurangan limbah pertanian dan peningkatan efisiensi pemanfaatan hasil pertanian, terutama dalam konteks perubahan iklim dan kebutuhan akan sumber pangan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Dalam praktiknya, setelah minyak diperas dari biji rapeseed, residu yang biasanya hanya dianggap limbah kini dapat diolah lebih lanjut untuk mengekstraksi protein nabati yang kaya akan nutrisi.
Produk daging nabati untuk burger vegan
Protein ini cocok untuk produk daging nabati seperti burger vegan yang saat ini tengah mengalami pertumbuhan pesat secara global, termasuk di Indonesia.
Di sisi lain, fraksi protein biji rapeseed juga menunjukkan potensi sebagai bahan pakan ayam dengan kandungan gizi tinggi yang dapat menggantikan sebagian ketergantungan pada impor bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau jagung.
Proses ini tidak hanya memberi nilai tambah pada produk turunan rapeseed, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi jejak karbon, dan mengoptimalkan rantai pasok bahan pangan dan pakan.
Produk pangan yang mengandung protein dari tumbuhan, jamur, atau alga semakin populer.
Para peneliti di Fraunhofer Center for Chemical-Biotechnological Processes (CBP) di Leuna, Jerman, menunjukkan bahwa protein biji rapeseed yang sebelumnya jarang digunakan. dan merupakan sumber protein alternatif yang berharga.
Oleh karena menggunakan proses EthaNa, tim peneliti tidak hanya mengekstrak minyak rapeseed berkualitas tinggi dari rapeseed tetapi juga konsentrat biji rapeseed yang kaya protein, yang dapat diolah misalnya menjadi roti burger dan pasta atau digunakan sebagai pakan bergizi dalam proses penggemukan unggas.
Produk protein yang terbuat dari kedelai, kacang polong, alga, atau jamur mendapatkan tempat di pasaran sebagai alternatif (pengganti) vegan untuk daging, ikan, dan susu.
Konsumen memiliki beragam alasan di balik meningkatnya permintaan ini, mulai dari kesejahteraan hewan, perlindungan iklim dan sumber daya, hingga pola makan yang lebih sehat.
Biji rapeseed juga mengandung sejumlah protein yag relevan. Selain minyak, yang jumlahnya sekitar 40 persen dari bahan-bahannya, sekitar 20 persen bahan dalam rapeseed berasal dari protein yang banyak dicari oleh pelaku industry makanan dan minuman.
Protein rapeseed memiliki komposisi yang mirip dengan protein susu dan pada prinsipnya, sangat cocok sebagai sumber protein nabati—baik untuk sumber pangan dan pakan ternak meski protein ini belum digunakan dalam produk pangan.
Alasannya adalah struktur protein berubah selama proses pengepresan panas konvensional rapeseed – protein tersebut mengalami denaturasi. Lebih lanjut, bungkil rapeseed yang dihasilkan juga mengandung serat dan zat pahit dari kulit rapeseed.
Hal ini mengganggu kompatibilitasnya sebagai pakan ternak, sehingga bungkil kedelai ekstraksi biasanya ditambahkan ke dalam campuran pakan.
Produk kedelai pakan ternak sebagian besar berasal dari Amerika Selatan. Kawasan hutan yang sering disiram hujan dan sabana ditebang untuk mendapatkan lahan subur bagi budidaya kedelai.
Ekstraksi ringan rapeseed yang telah dikupas memungkinkan pemanfaatan protein rapeseed.
Selama dua tahun terakhir, sebuah pabrik percontohan telah beroperasi di Fraunhofer Center for Chemical-Biotechnological Processes (CBP) berlokasi di Leuna, Jerman.
Para peneliti memecah biji rapeseed yang dikupas dan memfraksinasinyangan dengan menggunakan etanol sebagai pelarut berkelanjutan—disebut proses EthaNa (ekstraksi etanol asli).
Berkat kondisi proses ringan di pabrik EthaNa® – suhu maksimum 70°C dan tekanan ambien normal – struktur protein rapeseed hampir tidak berubah selama pemrosesan, yang berarti protein tersebut dapat digunakan dalam berbagai cara. Hal ini dimungkinkan oleh prinsip proses yang mendasarinya.
“Karena kelarutan minyak rapeseed yang rendah dalam etanol, minyak tersebut dipisahkan dari bijinya sehingga langsung tersedia sebagai minyak bebas dan tidak perlu diekstraksi dari pelarut pada suhu tinggi,” jelas Dr. Robert Hartmann, Kepala Grup Fraksinasi Biomassa Fraunhofer CBP.
Keunggulan lain dari proses ini adalah asam lemak dan molekul yang mengandung fosfor, yang dapat menurunkan kualitas minyak, larut dengan baik dalam etanol. Oleh karena itu, minyak yang dihasilkan mencapai kualitas pra-pemurnian tanpa langkah pemrosesan lebih lanjut.
Para ahli Fraunhofer CBP berhasil menciptakan pendekatan inovatif untuk memanfaatkan biji rapeseed secara utuh. Protein yang diekstrak bisa digunakan sebagai bahan pangan alternatif yang sehat dan ramah lingkungan, sekaligus memperkaya pakan ternak.
Inovasi ini berpotensi mendukung tren makanan nabati dan keberlanjutan dalam sektor pertanian serta industri pangan.
Apakah adaptasi pendekatan serupa dapat memberikan solusi konkret terhadap tantangan ketahanan pangan, pengurangan impor pakan, dan inovasi produk makanan berbasis nabati bagi Indonesia?
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form