mmINDUSTRI.co.id

Solusi Digital Menekan Risiko Serangan Jantung Bagi Perempuan

Solusi Digital Menekan Risiko Serangan Jantung Bagi Perempuan Sistem asistensi dan solusi digital berbasis AI dikembangkan untuk meningkatkan deteksi dini dan perawatan lanjutan penyakit jantung bagi perempuan, guna menekan risiko kematian dan serangan yang berulang.

Perempuan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi daripada pria setelah stroke atau serangan jantung. Para peneliti Fraunhofer bertujuan untuk meningkatkan perawatan lanjutan yang spesifik gender dengan sistem bantuan yang disesuaikan – dan dengan demikian mencegah penyakit jantung lebih lanjut (Foto/©: Fraunhofer IPA)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer IPA (sumber): Sistem bantuan dan solusi digital berbasis AI bertujuan untuk mencegah penyakit jantung yang berulang bagi perempuan.

Perempuan memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding laki-laki setelah mengalami stroke atau serangan jantung.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Akan tetapi, hingga saat ini, sebagian besar pendekatan medis masih didominasi data dan standar klinis yang kurang merepresentasikan kondisi biologis perempuan.

Menjawab tantangan tersebut, para peneliti dari Fraunhofer Institute for Manufacturing Engineering and Automation IPA mengembangkan sistem asistensi dan solusi digital berbasis AI yang digarap melalui proyek GenderHeart.

Tim ahli berusaha membantu deteksi dini, pemantauan pasca-serangan, serta rekomendasi terapi yang lebih personal bagi pasien perempuan.

Para peneliti bertujuan untuk meningkatkan perawatan lanjutan yang spesifik gender dengan sistem bantuan yang disesuaikan – dan dengan demikian mencegah penyakit jantung lebih lanjut.

Sistem bantuan dan solusi digital bertujuan untuk mencegah penyakit jantung yang berulang menimpa kaum perempuan.

Jika seorang perempuan menderita serangan jantung atau stroke, prognosisnya lebih buruk daripada pria. Oleh karena itu, perempuan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi setelah penyakit jantung.

Perempuan masih kurang terwakili dalam uji klinis, faktor risiko spesifik gender belum dipertimbangkan secara memadai, dan hormon pelindung berhenti setelah menopause. Oleh karena itu, perawatan lanjutan yang efektif sangat penting dilakukan.

Prognosis yang Lebih baik bagi perempuan

Sebuah tim peneliti Fraunhofer IPA sedang menangani masalah ini.

“Melalui proyek GenderHeart, kami mengembangkan sistem bantuan interaktif yang bertujuan untuk meningkatkan deteksi dini spesifik gender setelah stroke atau serangan jantung,” ungkap Paula Röttig, seorang peneliti senior.

“Demikian juga prognosis untuk perempuan,” lanjut Paula Röttig, insinyur yang ahli di bidang teknologi sensor biomedis dari Fraunhofer IPA.

Untuk mencapai rencana itu, menurut Paula Röttig, peneliti menerapkan proses anamnesis digital yang secara khusus menanyakan pasien tentang penyakit kardiovaskular.

Kegiatan para peneliti melibatkan penggunaan stasiun penerimaan digital TEDIAS, yang dikembangkan oleh para peneliti Fraunhofer IPA: sebuah sistem di mana avatar secara digital melakukan anamnesis dan sudah diuji dalam uji klinis.

Untuk wawancara riwayat medis, pasien duduk di kursi yang dilengkapi dengan biosensor terintegrasi, dengan monitor di depannya.

Dokter digital muncul di monitor–juga dalam bentuk avatar, memandu pasien melalui pertanyaan dan mencatat parameter vital dengan menggunakan sensor bawaan: tekanan darah diukur secara otomatis, laju pernapasan dipantau, dan EKG direkam.

TEDIAS bertujuan untuk memungkinkan pencatatan riwayat medis yang lebih cepat dan sederhana.

“Dalam proyek ini, kami menyesuaikan riwayat medis digital kami untuk secara khusus menargetkan penyakit jantung,” cerita Paula Röttig.

“Kami mencatat parameter yang relevan bahkan sebelum janji temu dokter sebenarnya (sungguhan) – dan dengan demikian dapat menggunakan percakapan untuk mengatasi masalah medis utama.”

Sistem deteksi dini yang direncanakan didasarkan pada algoritma berbasis AI yang memungkinkan penilaian risiko individual dan rekomendasi terapi untuk setiap pasien.

Sistem ini mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana proses penyakit jantung dan pencapaian tujuan pengobatan berbeda antara perempuan dan pria? Apa peran status hormon individu? Faktor spesifik gender apa yang memengaruhi keberhasilan berbagai terapi?

Selain sensor yang ada, para peneliti berencana untuk mengintegrasikan alat analisis suara baru ke dalam kursi. Alasannya adalah suara dapat memberikan petunjuk penting tentang kesehatan jantung.

Oleh karena itu, salah satu mitra proyek sedang mengembangkan aplikasi yang memungkinkan pasien untuk merekam suara mereka setiap hari di rumah selama periode enam bulan.

Alat ini mendeteksi kelainan dan perubahan secara tepat waktu, dan hasilnya akan dimasukkan ke dalam penilaian risiko selama pemeriksaan rutin menggunakan TEDIAS.

Tim peneliti meluncurkan proyek GenderHeart pada musim semi 2026 dan selanjutnya mereka bekerja selama tiga tahun. Para ahli dari Fraunhofer IPA, Zana Technologies GmbH, dan Rumah Sakit Universitas Mannheim berkolaborasi.

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah agar unit penerimaan khusus ini dapat digunakan di ruang gawat darurat – sehingga mengurangi beban pada operasi rumah sakit sehari-hari.

Paula Röttig optimis tercapai recana timnya: “Kesehatan perempuan sering diabaikan dan kurang diteliti. Saya pikir sangat penting bahwa kita mempertimbangkan perbedaan spesifik gender – sehingga perempuan akhirnya mendapatkan prognosis yang lebih baik untuk pengobatan mereka.”

Indonesia membangun ekosistem layanan kesehatan

Ide dan aksi para peneliti di atas, tentu berguna bagi Indonesia untuk membangun ekosistem layanan kesehatan perempuan berbasis data, AI, dan deteksi dini.

Investasi pada teknologi kesehatan preventif bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga mengurangi beban ekonomi nasional akibat penyakit kardiovaskular yang terus meningkat.

Rumah sakit, regulator, startup bidang healthtech, pengelola BPJS, asuransi, perguruan tinggi, lembaga peneliti seperti BRIN, dan industri medis perlu bergerak bersama memperkuat layanan jantung perempuan yang lebih presisi, inklusif, dan berbasis gender-specific medicine.

Inovasi sistem asistensi digital seperti GenderHeart menunjukkan bahwa masa depan layanan kesehatan akan bergerak menuju deteksi dini, pemantauan real-time, dan terapi personal berbasis AI.

Bagi Indonesia, ini menjadi momentum penting untuk mempercepat transformasi layanan kesehatan perempuan yang selama ini masih kurang mendapat perhatian.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar teknologi kesehatan tidak hanya modern, tetapi juga mampu menurunkan angka kematian dan meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia secara nyata. #SalamSobatmmINDUSTRI

 

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version