PGE mengoptimalkan potensi panas bumi Indonesia melalui eksplorasi, pengeboran, teknologi, dan investasi untuk memperkuat ketahanan energi serta mempercepat transisi energi bersih.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berupaya mengubah potensi panas bumi menjadi energi nyata melalui eksplorasi, pengeboran, dan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (Foto/@: Pertamina Geothermal Energy Tbk)
Penulis/editor: Rayendra L Toruan
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
mmINDUSTRI.co.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (sumber): Indonesia menyimpan sekitar 40 persen potensi sumber daya panas bumi dunia—sebuah harta karun energi bersih yang masih tersimpan di kedalaman bumi.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berupaya mengubah potensi tersebut menjadi energi nyata melalui eksplorasi, pengeboran, dan pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Tantangannya bukan sekadar menemukan sumber panas, melainkan memastikan setiap potensi dapat dikembangkan menjadi pasokan energi yang andal, layak secara ekonomi, dan berkelanjutan.
Di tengah kebutuhan listrik yang terus berkembang, ketahanan energi nasional tidak cukup dibangun dengan menambah kapasitas pembangkit.
Indonesia juga membutuhkan sumber energi domestik yang mampu memasok listrik secara stabil, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan mendukung penurunan emisi karbon.
Dalam konteks ini, panas bumi memiliki posisi strategis karena dapat menghasilkan listrik secara berkelanjutan, tidak bergantung langsung pada cuaca seperti tenaga surya dan angin.
Akan tetapi, besarnya potensi tidak otomatis menjamin pemanfaatan yang optimal. Eksplorasi membutuhkan investasi awal, data bawah permukaan yang akurat, teknologi pengeboran yang andal, serta kepastian pengembangan proyek.
Oleh karena itu, pekerjaan PGE memperlihatkan persoalan mendasar industri panas bumi Indonesia: bagaimana menjembatani sumber daya yang tersimpan di bawah tanah dengan kebutuhan energi yang nyata di atas permukaan.
Pengembangan panas bumi dimulai jauh sebelum uap menggerakkan turbin pembangkit.
Tahap awalnya adalah memahami kondisi geologi, struktur batuan, karakteristik fluida, serta kemungkinan keberadaan reservoir panas bumi.
Informasi tersebut menjadi dasar untuk menentukan lokasi pengeboran dan memperkirakan apakah suatu wilayah memiliki potensi yang layak dikembangkan.
Dalam praktik industri, eksplorasi mengintegrasikan tiga disiplin utama. Geologi mempelajari batuan, struktur bumi, dan manifestasi panas bumi di permukaan.
Geofisika menggunakan pengukuran sifat fisik bawah permukaan—misalnya resistivitas batuan dan karakteristik seismik—untuk membantu memetakan struktur yang tidak terlihat.
Sementara itu, geokimia menganalisis komposisi fluida, air, dan gas untuk memperkirakan kondisi temperatur serta karakteristik sistem panas bumi.
Ketiganya saling melengkapi. Data geologi membantu menjelaskan konteks pembentukan sistem, geofisika memetakan indikasi struktur bawah permukaan, sedangkan geokimia memberikan petunjuk tentang proses dan kondisi fluida panas bumi.
Integrasi data ini membantu mempersempit area sasaran pengeboran dan mengurangi ketidakpastian, meskipun tidak dapat menghilangkan risiko eksplorasi sepenuhnya.
Pendekatan tersebut relevan bagi wilayah prospektif seperti Bukit Daun di Bengkulu dan Seulawah di Aceh. Peluang eksplorasi juga terbuka di Cubadak Panti, Sumatera Barat, yang memperoleh penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) pada 2026.
PSPE merupakan tahapan untuk mengumpulkan dan mengevaluasi data awal guna menilai prospek panas bumi sebelum keputusan pengembangan lebih lanjut diambil.
Bagi industry energi, arti strategis eksplorasi bukan semata-mata menemukan sumber panas.
Eksplorasi yang terukur membantu perusahaan mengalokasikan modal secara lebih disiplin, menentukan prioritas proyek, serta menghindari keputusan investasi yang hanya bertumpu pada besarnya potensi di atas kertas.
Pengeboran menentukan potensi menjadi produksi
Setelah prospek diidentifikasi, pengeboran menjadi tahap penting untuk membuktikan karakteristik sumber daya dan menyiapkan pengembangannya.
Akan tetapi, pengeboran panas bumi tidak hanya ditujukan untuk membuka lapangan baru. Pada lapangan yang sudah beroperasi, pengeboran juga diperlukan untuk menjaga keberlanjutan produksi.
PGE menerapkan dua pendekatan yang saling melengkapi, yaitu pengeboran eksplorasi dan pengeboran make-up well. Pengeboran eksplorasi bertujuan menguji potensi sumber daya baru, termasuk kondisi temperatur dan permeabilitas batuan.
Permeabilitas adalah kemampuan batuan untuk meloloskan fluida melalui pori atau rekahan yang saling terhubung. Karakteristik ini penting karena reservoir panas bumi membutuhkan jalur aliran agar fluida dapat diproduksikan.
Adapun make-up well, atau sumur penopang produksi, merupakan sumur tambahan yang dibor untuk menjaga ketersediaan uap dan mendukung keandalan pembangkit yang telah beroperasi.
Seiring waktu, produksi sumur dapat berubah akibat dinamika reservoir. Sumur tambahan membantu mengantisipasi penurunan produksi dan mempertahankan pasokan uap sesuai kebutuhan operasi.
“Bagi PGE, menjaga produksi dan ketersediaan pasokan uap sama pentingnya dengan mengembangkan kapasitas baru,” jelas Ahmad Yani, Direktur Utama PGE belum lama ini.
Ia menjelaskan bahwa pengeboran sumur penopang produksi merupakan bagian dari strategi untuk menjaga keandalan aset panas bumi agar tetap memberikan manfaat secara optimal dalam jangka panjang.
Pernyataan tersebut menegaskan prinsip penting pengelolaan aset energi: keberhasilan tidak cukup diukur dari kapasitas baru yang dibangun, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan kinerja pembangkit yang telah beroperasi.
Lima sumur, dua kebutuhan strategis
(Foto/@: Pertamina Geothermal Energy Tbk)
Sepanjang 2026, PGE melaporkan telah melakukan pengeboran lima sumur di tiga wilayah operasional, mencakup kegiatan eksplorasi dan sumur penopang produksi.
Di proyek Gunung Tiga, PGE menyelesaikan pengeboran sumur eksplorasi GTG-B.1 pada 9 Juni 2026. Sumur ini menjadi bagian dari upaya mengevaluasi potensi panas bumi untuk pengembangan berikutnya.
Proyek Gunung Tiga berada dalam Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Way Panas di Lampung dan direncanakan memiliki kapasitas 55 megawatt (MW).
Di Lumut Balai, Sumatera Selatan, pengeboran sumur LMB-19.3 selesai pada 3 September 2026. PGE kemudian memulai pengeboran LMB-19.4 pada 17 September 2026 dengan target kedalaman 2.500 meter.
Kegiatan tersebut mendukung pengembangan Lumut Balai Unit 3 yang direncanakan memiliki kapasitas 55 MW.
Sementara itu, pengeboran sumur penopang produksi UBL-T.1 dimulai di Ulubelu, Tanggamus, Lampung, pada 17 September 2026. Di area Lahendong, Sulawesi Utara, PGE memulai pengeboran sumur TPS-P1.2 di Tompaso pada 22 September 2026, dengan target kedalaman sekitar 2.300 meter dan potensi kapasitas sekitar 8 MW.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi berlangsung melalui dua jalur sekaligus. Sumur eksplorasi membuka peluang kapasitas baru, sedangkan sumur penopang produksi membantu mempertahankan keandalan pembangkit yang telah menghasilkan listrik.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi menekankan pentingnya kedua pendekatan tersebut dalam pengelolaan sumber daya.
“Melalui pengeboran eksplorasi dan make-up well, kami membuka peluang untuk menemukan dan mengembangkan potensi panas bumi baru,” jelas Edwil Suzandi.
Sementara melalui pengeboran sumur make-up well, PGE menjaga ketersediaan uap untuk mendukung keandalan operasi pembangkit yang telah berjalan, demikian Edwil Suzandi.
Ia menyebut kedua pendekatan tersebut sebagai bagian dari Reservoir & Drilling Management, yakni pengelolaan reservoir dan kegiatan pengeboran secara terpadu untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya panas bumi secara berkelanjutan.
Teknologi pengeboran dan efisiensi operasi
Pengeboran panas bumi menghadapi tantangan teknis yang berbeda-beda, mulai dari karakteristik batuan, temperatur tinggi, kondisi fluida, hingga risiko gangguan selama proses pemboran.
Kesalahan dalam merancang atau melaksanakan pengeboran dapat meningkatkan waktu pengerjaan dan biaya proyek.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan PGE adalah aerated drilling, yaitu teknik pengeboran yang memanfaatkan campuran udara dan fluida untuk mengatur tekanan di dalam sumur.
Dalam kondisi yang sesuai, metode ini dapat membantu mengangkat serpihan batuan atau cuttings ke permukaan dan mengurangi risiko masalah operasional, termasuk pipa pengeboran terjepit.
Untuk mendukung penerapan metode tersebut, PGE mengembangkan PADSim atau Pertamina Aerated Drilling Simulator, perangkat lunak untuk mengoptimalkan desain dan parameter pengeboran aerasi pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi setelah pengeboran.
Berdasarkan bahan pendukung yang tersedia, PADSim telah diaplikasikan pada sembilan sumur di Ulubelu, Hululais, Bukit Daun, dan Lumut Balai.
Pemanfaatan perangkat simulasi memberikan gambaran tentang bagaimana inovasi operasional dapat mendukung pengendalian risiko. Tentu saja efektivitasnya tetap bergantung pada karakteristik sumur, kualitas data, desain teknis, dan pelaksanaan di lapangan.
Implikasinya bagi industri cukup jelas. Efisiensi pengeboran bukan hanya perkara mempercepat pekerjaan, melainkan juga mengendalikan biaya, mengurangi potensi gangguan, meningkatkan keselamatan, dan memperbaiki kualitas keputusan teknis.
Pada proyek yang membutuhkan investasi besar, perbaikan efisiensi di tahap pengeboran dapat memengaruhi kelayakan ekonomi keseluruhan proyek.
Green Book membuka jalan pembiayaan
Selain tantangan teknis, pengembangan panas bumi juga berhadapan dengan persoalan pembiayaan. Investasi harus dikeluarkan sejak tahap eksplorasi, ketika kepastian mengenai jumlah sumber daya yang dapat diproduksikan belum sepenuhnya terbentuk.
Ketidakpastian ini membuat akses terhadap pendanaan dan pembagian risiko menjadi faktor penting bagi percepatan proyek.
Salah satu perkembangan penting pada 2026 adalah masuknya tiga proyek pengembangan PGE ke dalam Green Book 2026 Bappenas, dengan dukungan pendanaan internasional hingga sekitar US$477,87 juta berdasarkan bahan pendukung yang tersedia demikian siaran pers PGE tanggal 5 Juni 2026.
Ketiga proyek tersebut meliputi Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW, dengan dukungan pendanaan JICA sebesar US$158,86 juta dan target operasi komersial pada 2030; Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, dengan dukungan JICA sebesar US$148,97 juta.
PGE menargetkan operasi komersial pada tahun 2032; serta Lahendong Unit 7–8 berkapasitas 50 MW, dengan dukungan World Bank sebesar US$170,04 juta dan target operasi komersial pada 2030.
Green Book merupakan daftar proyek prioritas yang disiapkan untuk mendukung proses perencanaan dan pembiayaan pembangunan, termasuk penjajakan dukungan pendanaan luar negeri sesuai ketentuan yang berlaku.
Masuknya proyek dalam daftar tersebut tidak dengan sendirinya berarti seluruh pembiayaan telah dicairkan atau seluruh persyaratan proyek telah dipenuhi.
Meski demikian, dukungan pendanaan berpotensi membantu mempersempit kesenjangan antara kebutuhan investasi dan kemampuan pendanaan proyek.
Dalam industri panas bumi, kepastian pembiayaan sangat penting karena proyek membutuhkan kesinambungan dari eksplorasi, pengeboran, pembangunan fasilitas, hingga operasi komersial.
Bagi Indonesia, pembiayaan yang terstruktur dapat membantu mempercepat penambahan kapasitas listrik rendah karbon sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap pengembangan proyek energi bersih.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pembiayaan tersebut diterjemahkan menjadi kemajuan proyek, penyelesaian konstruksi, dan produksi listrik yang terukur.
Panas bumi memiliki karakteristik sebagai sumber listrik baseload, yaitu pasokan listrik yang dapat dijaga secara relatif stabil sepanjang waktu untuk memenuhi kebutuhan dasar sistem.
Karakteristik ini membuat panas bumi berpotensi melengkapi sumber energi terbarukan lain yang produksinya lebih dipengaruhi kondisi cuaca.
Akan tetapi, kapasitas terpasang tidak selalu sama dengan listrik yang benar-benar dihasilkan. Kinerja pembangkit juga ditentukan oleh ketersediaan uap, keandalan peralatan, pemeliharaan, kondisi reservoir, serta kebutuhan dan kesiapan jaringan listrik.
Oleh karena itu, strategi pengembangan panas bumi perlu menggabungkan tiga agenda: menemukan sumber daya baru, membangun pembangkit tambahan, dan menjaga produksi aset yang telah beroperasi.
Pendekatan yang hanya berfokus pada ekspansi berisiko mengabaikan keberlanjutan produksi, sedangkan pendekatan yang hanya mempertahankan aset lama dapat membatasi pertumbuhan kapasitas.
PGE menyatakan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW. Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan dan dikelola langsung oleh PGE, sedangkan 1.205 MW dikelola melalui skema Kontrak Operasi Bersama.
Menurut perusahaan, kapasitas di wilayah kerjanya berkontribusi sekitar 70 persen terhadap total kapasitas terpasang panas bumi Indonesia.
Skala tersebut menempatkan PGE pada posisi penting dalam pengembangan industri panas bumi nasional. Dengan potensi pengurangan emisi CO₂ sekitar 10 juta ton per tahun yang dinyatakan perusahaan, pengelolaan aset panas bumi juga berkaitan dengan agenda dekarbonisasi.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi potensi pengurangan emisi, bukan otomatis sebagai pengurangan emisi tambahan dari setiap proyek baru.
Pengalaman PGE menawarkan sejumlah pelajaran yang dapat diterapkan oleh pelaku industri energi, pengembang proyek, lembaga pembiayaan, dan pembuat kebijakan.
Pertama, integrasikan data eksplorasi dengan disiplin investasi. Pengambilan keputusan perlu didasarkan pada integrasi data geologi, geofisika, dan geokimia, disertai evaluasi risiko dan pembaruan estimasi sumber daya.
Dengan demikian, keputusan pengeboran dan alokasi modal dapat dilakukan secara lebih terukur.
Kedua, tempatkan keandalan aset setara dengan ekspansi. Pengeboran sumur baru perlu berjalan beriringan dengan pemeliharaan reservoir dan penggantian kapasitas produksi yang menurun. Keandalan pasokan uap harus menjadi salah satu indikator utama keberhasilan pengelolaan lapangan panas bumi.
Ketiga, percepat inovasi yang berdampak langsung pada biaya dan risiko.Teknologi simulasi pengeboran, pengelolaan data, dan evaluasi kinerja sumur perlu dikembangkan berdasarkan manfaat operasional yang dapat diukur.
Indikatornya dapat mencakup durasi pengeboran, biaya per sumur, tingkat keberhasilan pengeboran, dan gangguan operasional.
Keempat, bangun pembiayaan yang selaras dengan profil risiko proyek. Pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, dan pengembang perlu memperkuat koordinasi untuk menghubungkan kebutuhan pendanaan dengan kesiapan teknis proyek.
Transparansi mengenai status pendanaan, tahapan konstruksi, dan target operasi komersial juga penting untuk menjaga akuntabilitas.
Kelima, jadikan penerimaan masyarakat sebagai bagian dari strategi proyek. Pengembangan panas bumi memerlukan komunikasi yang konsisten dengan masyarakat di sekitar wilayah kerja.
Keterlibatan masyarakat, pengelolaan dampak lingkungan, kesempatan kerja lokal, dan manfaat ekonomi wilayah perlu menjadi bagian dari pelaksanaan proyek, bukan sekadar pelengkap komunikasi.
Keenam, ukur keberhasilan melalui hasil energi dan manfaat ekonomi. Jumlah sumur yang dibor dan besarnya investasi merupakan indikator kemajuan, tetapi hasil akhirnya harus tercermin dalam kapasitas yang benar-benar beroperasi, produksi listrik, keandalan pasokan, pengurangan emisi, dan manfaat bagi perekonomian daerah.
Indonesia memiliki modal sumber daya yang besar untuk mengembangkan panas bumi sebagai salah satu pilar energi bersih. Namun, besarnya potensi baru akan berarti apabila dapat diterjemahkan menjadi proyek yang layak, pembangkit yang andal, dan pasokan listrik yang memberikan manfaat nyata.
Langkah PGE melalui eksplorasi, pengeboran lima sumur sepanjang 2026, pengelolaan sumur penopang produksi, penerapan teknologi pengeboran, serta pengembangan proyek yang memperoleh dukungan pendanaan internasional menunjukkan bahwa pengembangan panas bumi membutuhkan pendekatan menyeluruh.
Ringkasnya, sepanjang 2026, PGE melakukan pengeboran sebanyak lima sumur di tiga wilayah operasional, yang mencakup pengeboran eksplorasi maupun make-up well.
Kegiatan pengeboran sumur eksplorasi dilakukan melalui sumur GTG-B.1 yang sudah diselesaikan proses pengeborannya pada 09 Juni 2026 diproyek Gunung Tiga, Sementara itu, pengeboran sumur make-up well yaitu LMB 19-3 di Lumut Balai yang sudah diselesaikan proses pengeborannya pada 3 September 2026.
Sedangkan Sumur LMB-19.4 yang mulai dibor (spud in) pada 17 September 2026 dengan target kedalaman 2.500 meter sebagai bagian dari pengembangan potensi Lumut Balai Unit 3 yang ditargetkan berkapasitas 55 megawatt (MW).
Pada Wilayah Ulubelu, Tanggamus, Lampung dilakukan pengeboran make-up well melalui Sumur UBL-T.1 yang mulai dibor (spud in) pada 17 September 2026.
Di Area Lahendong, Sulawesi Utara, pengeboran dilakukan melalui Sumur TPS-P1.2 di Tompaso yang mulai dibor (spud in) pada 22 September 2026 dengan target kedalaman sekitar 2.300 meter dan potensi sekitar 8 MW.
Rantai nilainya mencakup penemuan sumber daya, pengendalian risiko, pembiayaan, pembangunan, operasi, dan keberlanjutan reservoir.
Bagi pelaku industri energi Indonesia, pelajaran utamanya adalah bahwa transisi energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar potensi yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas yang beroperasi secara konsisten.
Kolaborasi antara pemerintah, pengembang, lembaga pembiayaan, penyedia teknologi, dan masyarakat akan menentukan seberapa cepat proses itu berlangsung.
Mengubah potensi tersembunyi menjadi energi nyata berarti membangun sistem yang mampu menghubungkan kekayaan alam dengan kebutuhan pembangunan.
Jika eksplorasi dilakukan secara disiplin, investasi dikelola dengan tepat, teknologi dimanfaatkan secara efektif, dan keandalan aset dijaga, panas bumi dapat menjadi salah satu keunggulan strategis Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form