Gunakan perangkat lunak di pengadilan yang prosesnya dilaksanakan secara virtual berbasis online. Para audiens seperti saksi, terdakwa, lawyer, jaksa penuntut, hakim, dan panitera digantikan oleh avatar.

Penulis/edito: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – Fraunhofer Austria (sumber): Proses pengadilan semakin modern dengan menggunakan perangkat lunak yang prosesnya secara virtual berbasis online. Para pihak tidak perlu hadir di ruang siding.
Pelaksanaan pengadilan itu terinspirasi dari dampak pandemi virus corona. Seluruh organisasi seperti kegiatan sosial masyarakat, dan perusahaan melakukan pertemuan seperti rapat, seminar, dan konferensi yang dilaksanakan secara video atau virtual.
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Sidang pengadilan secara online juga dilaksanakan tanpa menghadirkan para pihak di ruang sidang seperti dilakukan di Indonesia. Demikian juga di Kanada dan Australia, sidang pengadilan virtual merupakan hal yang lumrah untuk menghindari keribetan.
Tim peneliti di Fraunhofer Austria sedang mengerjakan pembuatan perangkat lunak yang dapat digunakan pada proses pengadilan yang pelaksanaannya secara online dan dapat ditingkatkan ke proses selanjutnya.
Tujuan penggunaan perangkat lunak itu untuk mengembangkan avatar virtual yang dapat mewakili para pihak terkait di ruang sidang online tanpa kehadiran manusia seperti jaksa penuntut, terdakwa, saksi, lawyer atau pengacara, hakim dan panitera.
Perangkat avatar merupakan gambar representasi grafis yang memperlihatkan karakter yang diwakili. Avatar ini dapat tampil dalam dua dan tiga dimensi secara virtual.
Ekspresi wajah dan gerakan mata peserta sidang direkam oleh webcam dan kemudian ditransfer ke avatar yang menyerupai manusia.
Hal itu memungkinkan semua peserta atau audiens di persidangan dapat saling melakukan kontak mata satu sama lain. Mereka yakni avatar yang mewakili masing-masing pihak dapat mensimulasikan komunikasi tatap muka.
Tim peneliti mempredisi bahwa versi mendatang, dimungkinkan untuk mengadaptasi ruang sidang secara virtual. Sidang pengadilan online menjadi semakin penting.
Hal ini memberikan beberapa keuntungan, misalnya sidang dapat dilakukan lebih cepat, dan peserta tidak perlu menempuh perjalanan jauh.
Selain merampingkan proses pengadilan, penghematan biaya dan waktu adalah manfaat lain dari penanganan delik hukum secara virtual.
Kritik yang masuk bagaimanapun hal itu menunjukkan bahwa teknologi yang dibutuhkan belum matang dan banyak pertanyaan prosedural tetap yang belum terjawab.
Bagaimana kualitas transmisi video dapat dijamin? Bagaimana sidang dapat dipindahkan ke format digital sambil menghormati aturan perilaku yang terperinci?
Para peneliti di Fraunhofer Austria Research GmbH bekerja untuk menjawab -pertanyaan tadi, bekerja sama dengan ilmuwan lain dalam proyek ini, termasuk Prof. David Tait, seorang peneliti dari Western Sydney University.
Mereka menciptakan sistem peradilan virtual berbasis perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan dan mengembangkan aplikasi teknologi video dalam peradilan perdata.
Rencananya, pengaturan ruang sidang virtual awalnya akan digunakan untuk pelanggaran ringan, misalnya dalam kasus yang melibatkan perselisihan antartetangga.
Di banyak aplikasi konferensi video, kacamata virtual reality (VR) digunakan untuk memberi pengguna perasaan berada di lokasi fisik yang sama meski peneliti Fraunhofer tidak mengandalkan VR dalam proyek ini.
Sebagai gantinya, output video ditampilkan di monitor. Para peserta berkomunikasi di ruang sidang virtual dengan menggunakan avatar—karakter grafis 3D yang mewakili orang sungguhan.
Sebelum sidang dimulai di ruang sidang virtual, para peserta memilih spesifikasi peran yang sesuai untuk mereka, seperti hakim, pembela, jaksa, saksi atau terdakwa.
Webcam merekam wajah mereka. Digunakan bersama dengan mesin grafis 3D, perangkat lunak ini dilengkapi dengan pelacakan mata untuk mendeteksi arah pandangan pengguna.
Gerakan mata ini diterjemahkan ke dalam gerakan kepala avatar, mensimulasikan kontak mata langsung antara lawan bicara.
Kontak mata inilah yang saat ini hilang dalam konferensi video melalui MS Teams atau Zoom.
Konferensi video dengan pijakan yang sama
“Sistem pengadilan virtual tidak memerlukan peralatan teknis yang rumit. Peserta berada di mana saja—di gedung umum, kantor polisi, atau di rumah—selama mereka memiliki akses ke laptop dan kamera web,” urai Volker Settgast, peneliti senior di unit bisnis Visual Computing Fraunhofer Austria di Graz.
Dengan cara itu mereka membutuhkan untuk ikut serta dalam sidang pengadilan virtual demikian Volker Settgast
Dalam representasi virtual ruang sidang, semua pengguna dapat melihat satu sama lain dan mengetahui ke mana setiap orang melihat berkat pelacakan mata.
Webcam tidak hanya mendeteksi gerakan mata tetapi juga ekspresi wajah. “Saat webcam merekam gerakan mulut dan ekspresi wajah, kesimpulan dapat dibuat tentang keadaan emosi peserta,” jelas Volker Settgast.
Dalam konferensi video tradisional, gambar video ditransmisikan, tetapi ini tidak diperlukan dengan sistem—tercapai berkat penggunaan avatar.
Hanya aliran audio dan data yang diperoleh dari pelacakan mata dan pengenalan ekspresi wajah yang ditransmisikan. Oleh karena itu, aliran data yang akan dikirim berkurang.
Para ahli merencanakan untuk mengadaptasi ruang sidang virtual untuk memenuhi persyaratan khusus di tiap negara dan pekerjaan juga sedang dilakukan untuk meningkatkan animasi avatar.
Misalnya, tim Volker Settgast ingin menggabungkan tangan peserta dengan pengenalan gerakan. Versi perangkat lunak berbasis browser juga direncanakan untuk masa depan.
Pengujian beta telah dimulai dan lokakarya pertama serta pengujian pengguna berlangsung di Laboratorium Penelitian dan Pengajaran Visualisasi Universitas Harvard, Departemen Ilmu Bumi dan Planet, dan di Laboratorium Cyberjustice Universitas Montreal.
Peneliti ingin memindahkan pengaturan pengadilan ke lingkungan virtual sepenuhnya dan memungkinkan konferensi video pengadilan sipil diadakan dengan pijakan yang sama.
Saat gerakan mata, ekspresi wajah, dan gerak tubuh terlihat, audiens online akan memiliki dinamika pribadi yang sama dengan interaksi tatap muka di masa mendatang, tambah peneliti.
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form