Ancaman deepfake dengan AI menyebabkan kerugian lebih dari Rp6 triliun di Indonesia. OJK meminta industri keuangan, perusahaan digital, dan pengguna aplikasi AI memperkuat keamanan dan kewaspadaan terhadap penipuan digital.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
mmINDUSTRI.co.id – AFTECH & ADVANCE.AI (sumber): Wajah dan suara orang bisa dipalsukan dengan sentuhan AI dalam hitungan menit. Contoh kasus: kerugian masyarakat (Indonesia) mencapai lebih Rp6 triliun .
Apakah sistem digital Anda sudah aman dari ancaman deepfake?
“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)
Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam ekosistem digital turut menghadirkan tantangan baru bagi sektor keuangan Indonesia.
Sepanjang tahun 2024 hingga 2025, tercatat lebih dari 274.000 laporan penipuan digital dengan total kerugian masyarakat melampaui Rp6 triliun—di mana sebagian besar dipicu oleh penyalahgunaan teknologi deepfake berbasis AI.
Situasi ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi digital harus diiringi penguatan sistem keamanan, tata kelola teknologi, serta peningkatan kewaspadaan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan, regulator, hingga pengguna aplikasi digital.
Catatan penipuan keuangan itu sebagian besar didorong oleh serangan deepfake berbasis AI yang menyasar celah di sistem onboarding digital perbankan.
Merespons eskalasi ancaman ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa verifikasi liveness dan deteksi anomali secara real-time kini bukan lagi fitur opsional, melainkan keharusan operasional bagi seluruh lembaga jasa keuangan di Indonesia.
Penegasan ini disampaikan oleh Indah Iramadhini, Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, pada Expert Lab dan Professional Gathering bertajuk AI, Risk and Regulation: Navigating Deepfake Challenges in Indonesia’s Digital Economy.
Acara tukar pendapat itu diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama ADVANCE.AI, perusahaan terdepan di bidang verifikasi identitas, kepatuhan, dan manajemen risiko berbasis AI di Jakarta belum lama ini.
Forum diskusi itu mempertemukan regulator senior, pemimpin industri keuangan, dan pakar teknologi ini disebut salah satu panelis sebagai tantangan penentu bagi ekonomi digital Indonesia.
“OJK sangat memahami bahwa infrastruktur digital yang selama ini mendorong kemajuan signifikan inklusi keuangan di Indonesia kini menjadi sasaran penipuan berbasis AI yang semakin canggih,” ungkap Indah Iramadhini.
Ancaman semakin nyata
“Kerangka pengawasan kami terus berkembang. Semoga lembaga jasa keuangan menerapkan autentikasi berlapis, verifikasi liveness yang kuat, serta deteksi anomali secara real-time sebagai kebutuhan operasional utama, bukan sekadar fitur tambahan opsional,” lanjut Indah Iramadhini.
OJK berkomitmen untuk bekerja sama dengan para pelaku industri dalam menyusun panduan regulasi yang ketat dan tetap praktis, sehingga inovasi dapat terus berjalan sambil menjaga integritas sistem keuangan Indonesia tekad Indah Iramadhini.
Deepfake, yang merupakan audio, video, dan gambar sintetis yang dihasilkan AI untuk meniru identitas seseorang secara meyakinkan, kini telah bergeser dari ancaman teoritis menjadi instrumen penipuan aktif yang menyasar sistem keuangan Indonesia.
Pesatnya penetrasi perbankan digital, dengan puluhan juta rekening yang dibuka melalui kanal remote onboarding, telah secara signifikan memperluas permukaan serangan.
Proses onboarding yang dirancang untuk mendorong inklusi keuangan secara bersamaan membuka celah yang kini dieksploitasi secara sistematis oleh pelaku penipuan.
Sementara itu, sistem berbasis aturan konvensional yang sebelumnya digunakan memang tidak dirancang untuk mendeteksi ancaman semacam ini. Oleh karena itu, bagi perusahaan pembiayaan, fintech, dan platform pembayaran digital, risiko ini menjadi nyata, terukur, dan terus meningkat.
Forum ini membahas empat pendekatan strategis yang perlu segera ditindaklanjuti oleh seluruh pemangku kepentingan:
- Sinyal regulasi semakin tegas: OJK memaparkan arah kebijakan layanan keuangan berbasis AI, menekankan keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen, dan mengonfirmasi panduan tata kelola AI yang lebih konkret sedang dalam pengembangan dengan ancaman deepfake sebagai salah satu prioritas utama.
- Teknologi deteksi siap pakai: ADVANCE.AI memaparkan tren terbaru penipuan deepfake di Asia Tenggara sekaligus menampilkan solusi verifikasi identitas yang terbukti efektif dalam implementasi end-to-end onboarding di berbagai pasar regional.
- Koordinasi ekosistem sebagai kunci: KORIKA memetakan lanskap ancaman AI di Indonesia, membahas etika pengembangan AI, dan menilai kesiapan pertahanan siber nasional dengan kesimpulan bahwa tidak ada institusi yang bisa menghadapi ancaman ini sendirian.
- Bukti dari lapangan: Perwakilan industri perbankan membagikan studi kasus implementasi nyata teknologi pencegahan penipuan, termasuk dampak terukur terhadap operasional dan praktik terbaik yang dapat langsung diadaptasi.
Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto menjelaskan, setiap institusi memiliki tingkat kematangan teknologi dan profil risiko yang berbeda. Strategi mitigasi terhadap ancaman AI generatif perlu dirancang secara adaptif, kontekstual, dan selaras dengan karakteristik bisnis masing-masing penyelenggara.
“Kami meyakini bahwa kolaborasi sinergis antara asosiasi, regulator, penyedia solusi teknologi, dan seluruh pemangku kepentingan industri menjadi faktor kunci dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang inovatif namun tetap tangguh terhadap ancaman siber,” demikian Firlie Ganinduto.
Lebih jauh, Government Relations Director, ADVANCE.AI Indonesia, Entin Rostini bertekad ADVANCE.AI berada di garis depan dalam menghadapi tantangan deepfake di Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir.
“Apa yang kami lihat di Indonesia sejalan dengan pola global, di mana pelaku penipuan bergerak dan beradaptasi lebih cepat dari perkiraan banyak institusi,” tutur Entin Rostini dan menyatakan bahwa teknologi untuk mendeteksi dan mencegah serangan deepfake cukup tersedia dan kuat menghadapi.
Tantangannya adalah bagaimana menerapkannya dalam skala besar serta mengintegrasikannya ke seluruh proses onboarding dan pemantauan transaksi.
Kemitraan ADVANCE.AI dengan AFTECH mencerminkan keyakinan bahwa perusahaan teknologi, institusi keuangan, dan regulator di Indonesia dapat bersatu sebagai mitra ekosistem untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin regional dalam infrastruktur keuangan yang tangguh terhadap risiko AI dan fraud.
Meningkatnya ancaman deepfake dan penipuan berbasis AI menunjukkan bahwa keamanan digital tidak lagi dapat diposisikan sebagai fungsi pendukung, melainkan sebagai fondasi utama keberlangsungan bisnis digital modern.
Perusahaan di sektor keuangan, teknologi, fintech, e-commerce, hingga platform berbasis AI perlu memperkuat sistem autentikasi berlapis, verifikasi identitas berbasis liveness detection, serta pemantauan anomali transaksi secara real-time untuk meminimalkan risiko fraud yang semakin kompleks.
Di sisi lain, perusahaan publik dan penyedia layanan digital juga perlu meningkatkan literasi keamanan siber kepada pengguna.
Transparansi terkait perlindungan data, edukasi terhadap modus penipuan berbasis AI, serta tata kelola penggunaan AI yang bertanggung jawab menjadi elemen penting dalam menjaga kepercayaan publik di era ekonomi digital.
Bagi regulator dan pembuat kebijakan, perkembangan teknologi AI generatif memerlukan kerangka regulasi yang adaptif namun tetap implementatif.
Penguatan standar tata kelola AI, pengawasan keamanan data, serta kolaborasi lintas sektor menjadi langkah strategis agar inovasi digital tetap berkembang tanpa mengorbankan perlindungan konsumen dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Sementara itu, masyarakat sebagai pengguna aplikasi digital supaya lebih berhati-hati dalam membagikan data pribadi, rekaman wajah, suara, maupun dokumen identitas di platform digital dan aplikasi AI.
Verifikasi terhadap sumber komunikasi, kewaspadaan terhadap permintaan data sensitif, serta pemahaman mengenai potensi manipulasi deepfake menjadi langkah dasar yang semakin penting di tengah meningkatnya ancaman siber berbasis AI.
Kasus penipuan digital berbasis deepfake yang terus meningkat menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi AI harus diimbangi dengan kesiapan sistem keamanan, tata kelola, dan literasi digital yang memadai.
Ancaman ini tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap ekosistem digital secara keseluruhan.
Kolaborasi antara regulator, pelaku industri, penyedia teknologi, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ekosistem digital yang aman, adaptif, dan berkelanjutan.
Dengan penguatan regulasi, implementasi teknologi keamanan yang tepat, serta peningkatan kesadaran pengguna, Indonesia memiliki peluang untuk tetap menjaga momentum transformasi digital sekaligus memperkuat ketahanan terhadap risiko penyalahgunaan AI di masa depan. #SalamSobatmmINDUSTRI
This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form