mmINDUSTRI.co.id

Pelayaran Sunyi Pemuda Adat Menuju Mimbar COP30

Pelayaran Sunyi Pemuda Adat Menuju Mimbar COP30 Yaku Mama merupakan pelayaran sunyi pemuda adat menuju mimbar COP30—sejauh 3.000 kilometer—guna mengangkat krisis iklim global. Hero Aprila pemuda asal Bengkulu ikut melakukan diplomasi iklim—dari tengah arus sungai Amazon, Brasil.

Hero Aprila (kanan) ikut menembus sungai Amazone di Brasil (Foto/@: BPAN & JustCOP)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

mmINDUSTRI.co.id – BPAN & JustCOP (sumber): Sehari sebelum COP30 dibuka, sebuah kapal kayu tiga tingkat bernama Yaku Mama Amazon Flotilla merapat perlahan di sebuah pelabuhan di kota Belém, Brasil.

Dari geladaknya, lebih dari lima puluh Pemuda Adat dari berbagai negara Amerika Latin turun membawa pesan yang sama: memperjuangkan hak-hak komunitas adat yang terancam di tengah krisis iklim.



“Thank you for visiting mmindustri.co.id. Subscribe for the latest news and insight. Enter your email (Your email address will not be published)


Dari antara para pemuda itu, seorang pemuda Indonesia, Hero Aprila dari Bengkulu ikut serta mewakili BPAN, AMAN, dan GATC. Ia menempuh lebih 3000 kilometer—menyusuri sungai Amazon—dari Santarem hingga Belém.

Pelayaran para pemuda itu merupakan bentuk solidaritas terhadapa perjuangan masyarakat adat di berbaagai negara seperti Indonesia.

Ekspedisi Yaku Mama, yang sejak Ecuador melintasi Peru, Kolombia, hingga Brasil, menjadi simbol seruan global untuk mengakhiri ekstraksi merusak dan menegakkan keadilan iklim bagi para penjaga hutan.

Para Pemuda Adat dari beberapa negara itu, terutama dari Amerika Latin, turun dari kapal tiga tingkat tersebut. Mereka datang mewakili komunitas adat di negara mereka, menghadiri COP30, dan bersuara terkait masyarakat adat—lengkap konflik yang menimpa mereka selama ini.

Hero Aprila dipercaya mewakili Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan Global Alliance of Territorial Communities (GATC).

Dia ikut berlayar dengan kapal kayu dari Santarem, Brazil, menuju komunitas Masyarakat Adat yang berada di sekitar Sungai Amazon dan berakhir di Belém, sebagai bentuk solidaritas bagi teman-teman seperjuangan khususnya di negara-negara Amerika Latin.

Kehadiran para Pemuda Adat pada konferensi CPO30 merupakan simbol pembawa pesan. Pada 8 Oktober 2025, ekspedisi Yaku Mama Amazon Flotilla dimulai dengan ritual adat dan mengunjungi komunitas Masyarakat Adat di Ecuador.

Pada 16 Oktober 2025, kapal Yaku Mama Amazon Flotilla memulai pelayarannya menyusuri Sungai Amazon, termasuk anak-anak sungainya, sejauh lebih dari 3.000 kilometer.

Berawal dari tepi Sungai Napo, Kota Coca, Ecuador, kapal kayu itu melintasi Peru, Colombia, menuju Brazil. Yaku Mama, yang berarti Ibu Air, membawa banner lebar bertuliskan End Fossil Fuels – Climate Justice Now.

Amazon merupakan rumah bagi sejumlah Masyarakat Adat, yang juga mempunyai peran dalam penyerapan karbon. Yaku Mama mempunyai nilai budaya tersendiri, dipandang sebagai roh pelindung semua sumber air, pemberi kehidupan bagi sekitarnya.

Aksi Amazon Flotilla ini mengangkat isu ekstraksi minyak dan tambang yang mengancam wilayah adat di sana, sekaligus untuk melindungi kehidupan di alam Amazon.

Ekspedisi ini digagas oleh berbagai organisasi Masyarakat Adat dan komunitas lokal di kawasan Amazon. Dengan kedatangan yang terkesan teatrikal, tujuan utama mereka adalah menarik perhatian dunia, khususnya menjelang COP30 yang berlangsung pada 10-21 November 2025.

Lewat konferensi CPO30 yang diprakarsai PBB itu, para Pemuda Adat berharap agar kebijakan perubahan iklim lebih memperhatikan hak-hak Masyarakat Adat dan wilayah adat mereka termasuk Indonesia.

“Pemuda Indonesia terlibat penuh sebagai peserta, dan menunjukkan bentuk solidaritas bagi teman-teman di Amerika Latin. Persoalan yang mereka hadapi persis seperti apa yang terjadi juga di negara kita. Indonesia ikut bersuara dan berjuang bersama mereka,” ungkap Hero Aprila.

Ia terkesima bisa berada di tengah Amazon dengan biodiversitasnya yang luar biasa unik dan kayanya.

Hero Aprila bercerita, bersama Pemuda Adat, mereka menyusun poin-poin yang selanjutnya disampaikan melalui forum COP30. Salah satu isu terpenting yang disuarakan oleh Pemuda Adat Indonesia: Pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat dmelalui payung hukum yang disebut Undang-Undang Masyarakat Adat.

 

Perwakilan Pemuda Adat yang mengarungi Sungai Amazone di Brasil sebelum pembukaan konferensu COP30 di pada 10 – 21 November 2025 (Foto/@: BPAN & JustCOP)

“Lebih dari satu dekade kami mendorong undang-undang tersebut—merupakan tuntutan utama dari Indonesia. Banyak perampasan wilayah adat yang berujung pada kriminalisasi, intimidasi termasuk represivitas yang kami alami,” tutur Hero Aprila.

“Kita berbicara tentang pendanaan langsung untuk Masyarakat Adat, hak atas tanah, pengetahuan leluhur, hingga perlindungan terhadap para pembela Masyarakat Adat,” papar Hero Aprila kepada teman-teman Pemuda Adat dari berbagai negara.

Menurut Hero Aprila, misi Yaku Mama Amazon Flotilla lebih banyak mengedepankan masalah yang terjadi di negara-negara Amerika Latin. Pesan yang tertulis pada banner, Pemuda Adat menuntut penghentian ekstraksi bahan bakar fosil, misalnya minyak dan gas di wilayah Amazon.

Mereka pun menuntut pendanaan iklim untuk langsung ke masyarakat terkait. Hero Aprila yang juga Ketua Umum BPAN itu menyebutkan bahwa ia sendiri membawa tuntutan yang sudah tersusun, dan disampaikan pada saat bertindak sebagai pembicara.

Pembacaan ikrar Masyarakat Adat melalui acara Shandia Forum, beberapa agenda Youth Movement yang dimotori oleh GATC, hingga side event dengan tajiuk The Global Youth Roadmap Youth Climate Justice Statement, dan Global Youth Network yang diselenggarakan oleh RRI.

“Saat kegiatan Global Youth Forum di Bali pada Agustus 2025, kami sudah menyusun tuntutan tersebut bersama-sama. Pesan dan suara kami berangkat dari Bali menuju COP30,”tutur Hero Aprila.

Hadapi tantangan serupa

Kapal singgah di komunitas masyarakat adat Novo Carão. Dari titik merapatnya Yaku Mama Amazon Flotilla, Hero Aprila naik kapal dua kali lagi, lalu berjalan kaki sekitar 30 menit menuju area pedalaman, dan akses jalan menuju ke komunitas adat Novo Carão terbilang sulit.

“Hampir sama seperti di Indonesia. Masalah lain yang dihadapi komunitas Masyarakat Adat di sini juga serupa. Mereka mengalami perampasan wilayah adat, dikriminalisasi saat membakar hutan untuk berladang,” tutur Hero Aprila.

Meski anggota komunitasnya hanya sedikit, mereka yang tetap bertahan untuk memperjuangkan wilayah adatnya demikian Hero Aprila. Penduduk di Novo Carão sangat sepi hanya dihuni oleh beberapa orang penduduk saja.

Masyarakat adat Talang Mamak, yang tinggal di aliran sungai Indragiri Hulu, Riau—memiliki radisi membakar hutan untuk berkebun dan berladang. Praktik ini didasari oleh pengetahuan leluhur Masyarakat Adat Talang Mamak tentang cara membakar hutan sesuai dengan kebutuhan tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan.

“Di sisi lain, membakar hutan tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan hukum. Rupanya, masalah yang sama juga dialami oleh masyarakat adat Novo Carão,” kata Hero yang pernah mengikuti ritual saat bulan purnama bersama komunitas Masyarakat Adat.

Hero Aprila menyadari, perjuangan masyarakat adat di Amazon dan Nusantara mengalir di arus yang sama, melawan ketidakadilan, menjaga tanah, dan menuntut dunia untuk mendengar mereka yang paling dekat dengan bumi.

Sementara itu, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) adalah organisasi sayap AMAN yang berbentuk otonom, menjadi wadah berhimpun, kaderisasi, dan perjuangan solidaritas Pemuda Adat di seluruh nusantara.

Anggotanya merupakan Pemuda Adat yang berusia 15–30 tahun yang berasal dari komunitas Masyarakat Adat di tujuh region Indonesia, dari Sumatera hingga Papua. BPAN dibentuk dalam Jambore Nasional Pemuda Adat Nusantara pada 27–31 Januari 2012.

Berlandaskan visi “Generasi muda adat bangkit bersatu bergerak mengurus wilayah adat,” BPAN ikut memperkuat peran dan suara generasi muda adat dalam menjaga tanah dan identitasnya.

Justice Coalition for Our Planet (JustCOP) adalah gabungan organisasi masyarakat sipil, peneliti, dan aktivis yang bekerja menuju keadilan iklim, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan komunitas asli dan rentan.

JustCOP percaya bahwa kepemimpinan iklim yang sejati dimulai dengan keadilan, memastikan bahwa mereka yang paling terdampak oleh krisis memiliki suara dalam membentuk solusi.

Perjalanan Hero Aprila bersama Yaku Mama Amazon Flotilla menegaskan bahwa perjuangan Masyarakat Adat di Amazon dan Indonesia terhubung oleh persoalan yang sama: perampasan wilayah, ancaman industri ekstraktif, dan absennya perlindungan hukum yang memadai.

Dari tengah sungai terbesar di dunia hingga panggung diplomasi iklim COP30, suara Pemuda Adat bergaung sebagai tuntutan kolektif agar negara-negara segera mengakui, melindungi, dan mendanai perjuangan masyarakat adat sebagai garda depan penjaga bumi.

Di Belem, Brasil, Hero Aprila dan sejumlah pemuda membawa pesan sederhana namun tegas: keadilan iklim tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Masyarakat Adat.

 

 


This type of article is favored by our readers. Would your company willing to sponsor it? Kindly email us: business@mmindustri.co.id or fill this form



0
Exit mobile version